Guru Besar dan Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom
Namun, yang menarik bukanlah penangkapannya, melainkan bagaimana Rasulullah SAW memperlakukannya. Nabi tidak memerintahkan penyiksaan atau penghinaan terhadap musuh besar itu. Sebaliknya, beliau memerintahkan para sahabat untuk memperlakukannya dengan baik.
Setiap hari Rasulullah SAW mendatanginya dan bertanya dengan lembut, “Apa yang ada padamu wahai Tsumamah?”
Jawaban Tsumamah selalu sama. Ia berkata, “Jika engkau membunuhku, engkau membunuh orang yang memiliki kedudukan. Jika engkau berbuat baik kepadaku, engkau berbuat baik kepada orang yang tahu berterima kasih. Dan jika engkau menginginkan harta, mintalah sebanyak yang engkau mau.”
Selama tiga hari Rasulullah SAW membiarkannya menyaksikan kehidupan kaum Muslimin dari dekat. Dari tempatnya di masjid, Tsumamah melihat akhlak para sahabat, mendengar lantunan Al-Qur’an, dan menyaksikan bagaimana Islam membentuk manusia penuh kasih sayang. Di sinilah hidayah itu bekerja, bukan dengan paksaan, tetapi dengan keteladanan.
Pada hari ketiga, Rasulullah SAW membuat keputusan yang mengejutkan semua orang. Beliau berkata kepada para sahabat, “Lepaskan Tsumamah.” Tidak ada tebusan, tidak ada syarat, dan tidak ada balas dendam.
Kebebasan yang diberikan dengan penuh kemuliaan itu mengguncang hati Tsumamah. Ia pergi mandi di sebuah kebun kurma dekat masjid, lalu kembali menemui Rasulullah SAW. Dengan suara mantap ia mengucapkan syahadat di hadapan kaum Muslimin.
Perkataan Tsumamah setelah masuk Islam menjadi salah satu pengakuan paling jujur dalam sejarah dakwah. Ia berkata, “Demi Allah, dahulu tidak ada wajah yang paling aku benci di muka bumi selain wajahmu. Namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Dahulu tidak ada agama yang paling aku benci selain agamamu, namun sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai.”