KILAS BANTEN – Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hanya dapat dijaga apabila seluruh elemen bangsa tetap berpegang teguh pada fondasi kebangsaan yang telah dirumuskan para pendiri bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Prof Yudian Wahyudi saat memberikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-64 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Auditorium Gedung Rektorat Lantai 3 Kampus 2 UIN SMH Banten, Curug, Kota Serang, Selasa (20/10/2026).
Dalam paparannya, Prof. Yudian mengungkap empat unsur yang disebutnya sebagai “mukjizat politik” Indonesia. Keempat unsur itu adalah Sumpah Pemuda, lagu kebangsaan Indonesia Raya, Pancasila, dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
“Keempat hal ini memiliki peran penting dalam membangun identitas nasional dan menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia,” ujar Prof. Yudian.
Ia menjelaskan bahwa Sumpah Pemuda menjadi titik penting yang berhasil menyatukan masyarakat Indonesia dari berbagai suku, budaya, dan bahasa. Kesepakatan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, menurutnya, merupakan langkah strategis yang memperkuat identitas nasional hingga saat ini.
Prof. Yudian menilai bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi simbol pemersatu bangsa yang mampu menjaga semangat kebangsaan di tengah kemajemukan masyarakat.
Selain itu, ia menyoroti makna lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman. Lagu tersebut dinilai memiliki peran besar dalam membangkitkan semangat nasionalisme sejak masa perjuangan hingga Indonesia berhasil meraih kemerdekaan.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Yudian menegaskan bahwa Pancasila tetap menjadi dasar utama kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila memiliki sifat universal dan selaras dengan ajaran Islam sehingga mampu menjadi pedoman dalam menciptakan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.
Sementara itu, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 disebut sebagai tonggak lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan merupakan hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang diraih atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Tidak hanya membahas nilai-nilai kebangsaan, Prof. Yudian juga memperkenalkan konsep Triple Transendensi sebagai gagasan untuk memperkuat transformasi perguruan tinggi keagamaan Islam.
Konsep tersebut memadukan tiga unsur utama, yakni nilai-nilai Pancasila, ajaran Al-Qur’an dan Hadis, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Menurutnya, ketiganya harus berjalan secara seimbang agar mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, adaptif, dan siap menghadapi perubahan global.
“Gagasan ini menekankan pentingnya keterpaduan nilai-nilai Pancasila, ajaran Al-Qur’an dan Hadis, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan mampu menjawab tantangan zaman,” kata Prof. Yudian.
Ia berharap konsep tersebut dapat menjadi arah baru bagi pengembangan perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia. Dengan demikian, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat, wawasan kebangsaan, serta nilai-nilai keislaman yang kokoh.
Dies Natalis ke 64 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten tahun ini mengangkat tema “Nyalakan Dampak, Inspirasikan Perubahan.” Tema tersebut menjadi komitmen civitas akademika untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat riset dan pengabdian kepada masyarakat, serta menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan bangsa tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan dan keislaman.***






