Melalui RTL MAPABA, PMII Unpam Serang Bongkar Akar Sejarah PMII Lokal Banten

Kilas Banten
14 Des 2025 22:33
Serang 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Pamulang (Unpam) Serang kembali menggelar diskusi strategis yang menggugah kesadaran kader. Diskusi bertajuk “PMII Lokal di Banten” ini menjadi bagian dari Rencana Tindak Lanjut (RTL) kedua pasca Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) perdana PMII Unpam Serang.

Kegiatan berlangsung di Sekretariat PMII Unpam Serang, Perumahan Persada Banten, Kota Serang, Minggu, 14 Desember 2025. Forum ini dirancang untuk memperkuat pemahaman kader terhadap sejarah, identitas, dan arah gerak PMII di tingkat lokal, khususnya di wilayah Banten.

Panitia menghadirkan Sahabat Taufik Hidayat, IKA PMII UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, sebagai pemateri utama. Ia dikenal aktif mendokumentasikan sejarah dan dinamika gerakan PMII di Banten. Kehadirannya diharapkan mampu memberikan perspektif historis yang utuh kepada kader muda PMII Unpam Serang.

Ketua Pelaksana RTL ke-2 MAPABA PMII Unpam Serang, Aditya Ramdani, menegaskan bahwa kajian PMII lokal memiliki posisi strategis dalam proses kaderisasi.

Menurutnya, pemahaman sejarah merupakan fondasi utama untuk membangun rasa memiliki terhadap organisasi.

“Materi PMII Lokal di Banten ini penting agar kader pasca MAPABA memahami arah gerak PMII dan tidak berjalan tanpa pijakan,” kata Aditya dalam sambutannya.

Ia juga mengapresiasi kerja panitia yang telah meluangkan waktu dan tenaga demi terselenggaranya kegiatan tersebut.

Aditya berharap forum ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi sarana refleksi dan penguatan ideologis bagi kader PMII Unpam Serang.

Sementara itu, Ketua Forum Pergerakan Mahasiswa Pertama (Permata) PMII Unpam Serang, Halalan Toyyiba, menyampaikan bahwa RTL kedua ini merupakan kelanjutan dari proses kaderisasi yang berkesinambungan. Sebelumnya, PMII Unpam Serang telah melaksanakan RTL pertama berupa ziarah ke sejumlah situs sejarah di Banten.

“Hari ini kita lanjutkan dengan kajian PMII lokal. Kita akan mendengarkan materi dari Kak Taufik. Saya harap sahabat-sahabat bisa menyimak dengan baik,” ujar Halalan.

Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya bertujuan menambah wawasan kader, tetapi juga mempererat silaturahmi dan kekompakan antaranggota. Halala mendorong seluruh kader untuk tetap aktif, solid, dan konsisten dalam menjalankan peran sebagai mahasiswa pergerakan.

Kendati demikian, Ketua KOPRI PMII Unpam Serang, Suci Nurhalizah, mengajak peserta untuk memanfaatkan forum diskusi secara maksimal. Ia berharap kajian tidak berhenti pada penyampaian materi satu arah, tetapi berkembang menjadi dialog yang hidup dan kritis.

“Semoga sahabat-sahabat tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi untuk menghidupkan forum,” ucapnya.

Ketua Komisariat PMII Unpam Serang, Muhammad Abdullah, menekankan bahwa pemahaman sejarah lokal PMII menjadi kunci kesatuan gerak organisasi.

Ia mengingatkan bahwa lemahnya pemahaman sejarah sering kali membuat kader berjalan dengan arah yang berbeda.

“Banyak kader tidak satu frekuensi karena tidak mengkaji sejarah berdirinya PMII dan produk hukum organisasi seperti AD/ART,” kata Abdullah.

Ia memaparkan bahwa PMII berdiri pada 17 April 1960 dan mulai berkembang pesat di berbagai daerah, termasuk Banten. Berdasarkan catatan sejarah, PMII pertama kali hadir di Serang setelah Kongres PMII kedua pada 1963. Bahkan pada awal 1960-an, PMII telah memiliki 13 cabang, termasuk di Serang, Banten.

Menurut Abdullah, fakta sejarah ini penting agar kader memahami bahwa PMII tidak lahir secara instan. Proses panjang dan nilai perjuangan yang menyertainya harus dipahami dan dijaga oleh setiap kader.

“Kader harus mengenal autobiografi organisasi. Dari mana PMII berasal, bagaimana prosesnya, dan mengapa nilai-nilai itu harus terus dirawat,” ujarnya.

Melalui kajian PMII Lokal di Banten, PMII Unpam Serang berharap kader mampu mengambil pelajaran sejarah dan menyebarkannya kembali di lingkungan kampus maupun masyarakat. Diskusi ini menjadi langkah konkret membangun kader yang sadar sejarah, kuat secara ideologis, dan solid dalam pergerakan mahasiswa.