Peziarah memadati Maqbaroh Keramat Syekh Kicili Bayun di Kampung Nambo Desa RT/RW. 002/001 Desa Cibodas, Tanara, Kabupaten Serang, menjelang peringatan Haul Akbar ke-338.KILAS BANTEN – Nama Syekh Kicili Bayun bin Raden Kenyep bin Pangeran Jaga Lautan bin Sultan Maulana Hasanuddin Banten tetap hidup dalam ingatan masyarakat hingga hari ini. Sosok ulama kharismatik tersebut dikenal luas sebagai figur dermawan, berilmu, dan menjadi poros utama musyawarah rakyat Banten pada masanya. Peran itu membuat namanya terus dikenang lintas generasi.
Dalam berbagai riwayat yang berkembang di tengah masyarakat, Syekh Kicili Bayun menempati posisi sentral dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga terlibat aktif dalam menyelesaikan persoalan umat. Rumah dan lingkungan tempat tinggalnya kerap menjadi ruang pertemuan masyarakat untuk bermusyawarah, membahas persoalan sosial, hingga merumuskan langkah dakwah.
Syekh Kicili Bayun juga dikenal sebagai sosok yang ringan tangan. Ia sering disebut sebagai donatur utama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan dan keislaman. Kedermawanannya tidak semata dalam bentuk materi, tetapi juga waktu dan perhatian. Masyarakat merasakan langsung manfaat dari kehadirannya sebagai pelindung dan pengayom.
Peran tersebut menjadikan Syekh Kicili Bayun dihormati tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai pemersatu masyarakat. Dalam setiap musyawarah, ia dikenal mampu menyampaikan pandangan yang menenangkan. Pendekatannya bersifat solutif dan mengedepankan kepentingan bersama. Banyak persoalan berhasil diselesaikan melalui petuah dan kebijaksanaannya.
Ketokohan Syekh Kicili Bayun juga ditopang oleh kedalaman spiritualnya. Sejumlah pendapat menyebutkan bahwa ia menjalani kehidupan dengan laku spiritual yang kuat dan mengamalkan ajaran tarekat secara konsisten. Kesalehan pribadi itu tercermin dalam sikap hidupnya yang sederhana, tenang, dan penuh pengabdian.
Nama Bayun sendiri memiliki makna yang beragam dalam penafsiran masyarakat. Sebagian menilai kata Bayun berasal dari tembayan, yang berarti tempat bertapa. Sementara istilah Cili dimaknai sebagai air yang mengalir. Makna ini dikaitkan dengan kondisi geografis wilayah tempat tinggal Syekh Kicili Bayun yang dikenal subur dan didominasi area persawahan.
Filosofi air yang mengalir dianggap mencerminkan peran Syekh Kicili Bayun dalam kehidupan masyarakat. Seperti air, kehadirannya memberi manfaat yang terus mengalir dan menghidupi lingkungan sekitar. Ia tidak menonjolkan diri, tetapi pengaruhnya dirasakan luas oleh masyarakat.
Pendapat lain menyebutkan istilah Bayun berasal dari kata tabayyun, yang berarti bermusyawarah atau mencari kejelasan bersama. Tafsir ini dinilai selaras dengan peran Syekh Kicili Bayun sebagai pusat konsultasi dan pengambilan keputusan. Dalam berbagai urusan penting, masyarakat dan tokoh setempat menjadikannya sebagai rujukan utama.
Hingga kini, Maqbaroh Keramat Syekh Kicili Bayun masih ramai diziarahi. Pengurus makam menyebutkan bahwa Syekh Kicili Bayun memiliki hubungan persahabatan dengan Musa Perkinya serta hubungan kekerabatan dengan Syekh Ciliwulung. Informasi tersebut dijaga dan disampaikan secara turun-temurun sebagai bagian dari sejarah lokal.
Aktivitas ziarah berlangsung hampir setiap pekan. Pada malam Jumat, peziarah dari berbagai daerah datang untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagian peziarah memilih bermalam di sekitar makam untuk memperbanyak ibadah sekaligus mengenang keteladanan Syekh Kicili Bayun.
Tahun ini, masyarakat akan memperingati Haul Akbar Syekh Kicili Bayun ke-338. Peringatan dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 29 Rajab 1447 Hijriah atau bertepatan dengan 18 Januari 2026. Acara akan dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai dan terbuka untuk umum.
Haul Akbar akan digelar di Kampung Nambo Desa, RT/RW 002/001, Desa Cibodas, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang. Panitia mengundang masyarakat dari berbagai kalangan untuk hadir dan mengikuti rangkaian doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada ulama besar tersebut.
Menurut kuncen Maqbaroh Keramat Syekh Kicili Bayun, peringatan haul selalu dihadiri masyarakat lokal maupun peziarah dari luar daerah. Ulama, tokoh masyarakat, dan para sesepuh turut hadir untuk mengenang jasa dan keteladanan beliau.
“Setiap haul, masyarakat berkumpul di sini untuk berdoa bersama. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun,” ujar salah satu kuncen, Minggu, 18 Januari 2026.
Di sekitar area makam, para tamu undangan berkumpul dengan khidmat untuk memanjatkan doa. Momentum haul tidak hanya menjadi sarana ziarah, tetapi juga ruang silaturahmi dan penguatan nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Peringatan Haul Akbar ke-338 ini diharapkan mampu menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap peran besar Syekh Kicili Bayun dalam sejarah Islam di Banten. Keteladanan beliau dalam kedermawanan, kebijaksanaan, dan musyawarah dinilai tetap relevan hingga kini dan layak menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
