Pemilih Pemula di Baros Serang Heboh Bahas Demokrasi, Siswa MA Nurul Huda Serbu KPU dengan Pertanyaan Kritis

Kilas Banten
12 Mei 2026 22:49
Serang 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Semangat demokrasi terasa kuat di lingkungan Madrasah Aliyah Nurul Huda Baros, Kabupaten Serang. Puluhan siswa tampak antusias mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2026 yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Serang bersama organisasi independen Perisai Demokrasi Bangsa (PDB).

 

Kegiatan tersebut menyasar segmen pemilih pemula yang dinilai memiliki peran penting dalam menentukan masa depan demokrasi Indonesia. Sebanyak 50 siswa dari kelas 10, 11, dan 12 mengikuti acara sejak pagi dengan penuh semangat.

 

Kepala Madrasah Aliyah Nurul Huda Baros, Hasan Basri, menyambut langsung kedatangan tim KPU Kabupaten Serang dan PDB.

 

Ia mengapresiasi kegiatan pendidikan politik tersebut karena dinilai mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya partisipasi dalam pemilu.

 

Komisioner KPU Kabupaten Serang Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat, Ichsan Mahfudz, membuka kegiatan dengan pemaparan mengenai sejarah dan sistem pemilu di Indonesia. Dalam penyampaiannya, Ichsan menekankan bahwa pemilu merupakan salah satu fondasi utama demokrasi yang harus dijaga bersama.

 

Menurutnya, generasi muda perlu memahami proses demokrasi sejak dini agar tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan maupun praktik politik yang merugikan masyarakat.

 

“Pemilih pemula harus melek informasi dan tidak mudah percaya hoaks. Anak muda juga harus berani melapor jika menemukan pelanggaran pemilu,” ujar Ichsan, Selasa, 12 Mei 2026.

 

Materi berikutnya disampaikan Ketua PDB Kabupaten Serang, Rusnadi. Ia membawakan tema tentang partisipasi aktif pemilih pemula. Dalam sesi tersebut, Rusnadi menjelaskan bahwa pemilih pemula adalah warga yang baru pertama kali menggunakan hak pilih, umumnya berusia 17 tahun.

 

Ia menegaskan bahwa hak memilih bukan sekadar formalitas saat datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Menurutnya, generasi muda juga memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kualitas demokrasi dengan tidak bersikap apatis atau golput.

 

Rusnadi menyebut suara anak muda sangat menentukan arah bangsa ke depan. Karena itu, pemilih pemula diharapkan mampu menjadi motor penggerak demokrasi yang sehat dan berkualitas.

 

Selain itu, ia juga mengingatkan para siswa mengenai berbagai tantangan yang sering muncul menjelang pemilu. Mulai dari penyebaran hoaks, politik uang, hingga rendahnya minat masyarakat terhadap politik.

 

“Jangan hanya menjadi penonton demokrasi. Anak muda harus ikut terlibat dan menjadi bagian dari perubahan,” kata Rusnadi.

 

Suasana kegiatan semakin hidup ketika memasuki sesi tanya jawab. Para siswa tampak aktif mengajukan pertanyaan kritis terkait proses demokrasi dan pemilu di Indonesia.

 

Sedikitnya lima pertanyaan mencuri perhatian narasumber. Salah satu siswa menanyakan tentang pihak yang berwenang menindak kecurangan pemilu. Pertanyaan lain membahas mekanisme pelaporan jika terjadi ancaman terhadap hak pilih masyarakat.

 

Tidak hanya itu, siswa juga mempertanyakan prosedur pindah memilih, pengertian demokrasi mati, hingga alasan anggota TNI dan Polri tidak memiliki hak memilih dalam pemilu.

 

Antusiasme para peserta menjadi bukti bahwa kesadaran politik generasi muda mulai tumbuh. Para siswa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap masa depan demokrasi di Indonesia.

 

KPU Kabupaten Serang berharap kegiatan pendidikan pemilih seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan di sekolah-sekolah. Dengan begitu, generasi muda memiliki pemahaman politik yang baik serta mampu menggunakan hak pilih secara cerdas dan bertanggung jawab.

 

Sementara itu, PDB Kabupaten Serang menegaskan komitmennya sebagai organisasi independen dan nonpartisan dalam mendorong literasi politik di kalangan masyarakat, khususnya pemilih muda.***