Kepala DPKD Kabupaten Serang dr. Rahmat Fitriadi saat menjadi pembicara dalam forum diskusi Asia Pasifik di National University of Singapore.KILAS BANTEN – Kabupaten Serang kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Serang, dr. Rahmat Fitriadi, tampil sebagai pembicara dalam forum diskusi meja bundar Asia Pasifik yang digelar di Singapura. Kehadiran pejabat daerah ini mencuri perhatian karena membahas isu strategis tentang peradaban sosial di negara maju.
Forum tersebut diselenggarakan oleh lembaga riset dan kebijakan swasta yang berbasis di Washington D.C., Amerika Serikat. Diskusi menyoroti pengelolaan lingkungan sosial, kesehatan masyarakat, serta tantangan pembangunan kawasan Asia Pasifik di masa depan. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, sejak 9 hingga 11 Desember 2025, bertempat di National University of Singapore (NUS).
Sebanyak 30 peserta dari tujuh negara hadir dalam forum tersebut. Mereka berasal dari Jepang, Amerika Serikat, Filipina, India, Bangladesh, Indonesia, dan Singapura. Forum ini menjadi ruang bertukar gagasan lintas negara mengenai strategi membangun masyarakat yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Dalam paparannya, dr. Rahmat menyoroti transformasi sosial yang dilakukan Singapura selama beberapa dekade terakhir. Ia menilai negara tersebut berhasil membangun peradaban masyarakat yang aman dan sehat melalui pendekatan sistematis dan konsisten.
“Singapura mengalami perubahan besar. Dulu kesannya individualistis. Sekarang mereka membangun komunitas sosial yang kuat. Polanya mirip arisan di Indonesia, tetapi fokus pada kesehatan dan produktivitas,” kata dr. Rahmat, Kamis, 18 Desember 2025.
Ia menjelaskan, komunitas sosial itu banyak melibatkan warga lanjut usia. Penduduk berusia di atas 70 tahun tetap aktif dalam kegiatan sosial dan menjadi relawan di berbagai sektor. Menurutnya, kebijakan ini mencerminkan cara pandang Singapura yang menempatkan kesehatan sebagai investasi jangka panjang.
“Bagi mereka, kesehatan adalah modal utama. Lansia tidak dipinggirkan, tetapi diberdayakan dan dilibatkan dalam aktivitas sosial,” ujarnya.
Dr. Rahmat juga mengungkapkan alasan dirinya dipercaya mewakili Indonesia dalam forum tersebut. Menurutnya, penyelenggara telah memantau rekam jejaknya sejak 2010. Pengalaman sebagai birokrat, praktisi, serta keterlibatan dalam berbagai program kelembagaan menjadi pertimbangan utama.
“Mereka melihat pengalaman saya di pemerintahan, kerja-kerja sosial, dan keterlibatan di NGO, khususnya di Banten,” katanya.
Dari diskusi tersebut, dr. Rahmat menarik kesimpulan bahwa keberhasilan Singapura bertumpu pada dua pilar utama. Pilar pertama adalah pemerintahan yang kuat dan konsisten. Pilar kedua adalah peradaban masyarakat yang saling mendukung dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Ia mencontohkan capaian konkret Singapura yang kini tidak lagi memiliki warga dengan penghasilan di bawah dua dolar Amerika Serikat per hari. Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator keberhasilan pembangunan sosial yang menyeluruh.
“Kunci mereka ada pada pembangunan peradaban masyarakat. Itulah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya,” tegasnya.
Meski menyadari tidak semua model dapat diterapkan secara langsung, dr. Rahmat berharap nilai-nilai dasarnya bisa diadaptasi. Ia menilai kesejahteraan sosial, lingkungan yang sehat, dan kualitas hidup yang baik harus menjadi tujuan pembangunan di Kabupaten Serang dan Provinsi Banten.
Ia mengaku bangga bisa berdiskusi dengan tokoh-tokoh internasional dalam forum tersebut. Pengalaman itu menjadi tantangan sekaligus motivasi untuk mendorong pembangunan peradaban masyarakat yang lebih maju di daerah.
“Ini menjadi tantangan ke depan. Bagaimana kita membangun masyarakat yang lebih berdaya dan berkelanjutan,” pungkasnya.