Wakil Bupati Serang Muhammad Najib Hamas menyampaikan pentingnya peran ayah dalam membangun ketahanan keluarga saat memperingati Hari Keluarga Nasional 2026 di Kabupaten Serang, saat ditemui diruang kerjanya, Senin, 29 Juni 2026KILAS BANTEN – Fenomena fatherless atau hilangnya peran ayah di dalam keluarga menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Serang. Wakil Bupati Serang, Muhammad Najib Hamas, mengingatkan bahwa persoalan tersebut dapat menjadi pemicu berbagai masalah sosial yang mengancam masa depan anak sekaligus melemahkan ketahanan bangsa.
Peringatan itu disampaikan Najib Hamas saat momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026. Ia menegaskan tema “Ayah Harus Hadir” bukan sekadar slogan, melainkan ajakan bagi seluruh keluarga Indonesia untuk mengembalikan peran ayah sebagai bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Menurut Najib, banyak orang masih memandang ayah hanya sebagai pencari nafkah. Padahal, tanggung jawab seorang ayah jauh lebih luas. Ayah harus hadir secara fisik maupun emosional agar anak memperoleh kasih sayang, bimbingan, dan teladan yang baik.
“Ketika ayah tidak hadir, anak akan mencari sosok pengganti di luar rumah. Pintu pertama biasanya melalui gadget, kemudian lingkungan pergaulan. Dari situ berbagai pengaruh negatif bisa masuk,” ujar Najib saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, minimnya komunikasi di lingkungan keluarga membuat anak lebih memilih mencari jawaban melalui media sosial maupun teman sebaya. Situasi tersebut berisiko menyeret anak pada berbagai perilaku negatif, mulai dari penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga terlibat dalam aksi kenakalan remaja.
Karena itu, Najib menilai keluarga merupakan benteng pertama dalam mencegah munculnya berbagai penyakit masyarakat. Semakin kuat sebuah keluarga, semakin kecil pula peluang munculnya persoalan sosial di tengah masyarakat.
“Kalau keluarga kuat, potensi munculnya berbagai persoalan sosial juga akan berkurang. Hulu dari ketahanan masyarakat adalah ketahanan keluarga,” katanya.
Najib menegaskan seorang ayah tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ayah juga harus menjadi guru pertama bagi anak-anaknya, pemberi semangat bagi keluarga, sekaligus sosok yang mampu memberikan solusi ketika persoalan muncul di dalam rumah.
Ia menilai ukuran keluarga harmonis tidak hanya dilihat dari kecukupan materi. Hubungan emosional, komunikasi yang terbuka, dan waktu berkualitas bersama anak justru menjadi faktor penting dalam membentuk karakter generasi muda.
Karena itu, Najib mengapresiasi berbagai program yang mendorong keterlibatan ayah dalam kehidupan anak, salah satunya kegiatan ayah mengambil rapor anak di sekolah. Menurutnya, aktivitas sederhana seperti menemani belajar, berdiskusi, atau sekadar meluangkan waktu bersama dapat memberikan dampak besar terhadap perkembangan psikologis anak.
Selain itu, ia juga mengajak setiap keluarga mulai membiasakan waktu berkumpul tanpa gangguan gadget. Menurutnya, kebiasaan tersebut mampu mempererat komunikasi dan membangun kedekatan emosional antaranggota keluarga.
“Hari ini banyak keluarga berkumpul dalam satu rumah, tetapi masing-masing sibuk dengan gadget. Akibatnya komunikasi batin tidak terbangun,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Serang melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPKB3A) terus melakukan edukasi mengenai pentingnya ketahanan keluarga hingga tingkat kecamatan.
Namun, Najib mengakui tantangan semakin besar seiring derasnya arus informasi di internet dan media sosial. Anak-anak kini dapat mengakses berbagai informasi tanpa batas. Tanpa pendampingan orang tua, mereka berpotensi mengonsumsi konten yang tidak sesuai usia.
Ia bahkan mengingatkan bahwa pencarian informasi tertentu di internet dapat membawa anak menuju konten berbahaya apabila tidak ada pengawasan dari keluarga.
Selain persoalan digital, Najib juga menyoroti meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilakukan oleh orang-orang terdekat, termasuk ayah kandung. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm serius yang harus mendapat perhatian semua pihak.
Ia menilai persoalan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan sosial, perkembangan teknologi, tekanan ekonomi, hingga melemahnya komunikasi dalam keluarga.
Oleh sebab itu, Najib mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tenaga pendidik, hingga media massa, ikut memperkuat edukasi mengenai pentingnya peran ayah dalam keluarga.
Menurutnya, media memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi sekaligus membangun kesadaran publik mengenai pentingnya keluarga yang sehat, aman, dan harmonis.
Terkait usulan pemberian sanksi sosial bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak, Najib menilai pendekatan edukatif dan persuasif tetap harus menjadi langkah awal. Namun, apabila tindak pidana telah terjadi, proses hukum harus tetap dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia juga memastikan pemerintah daerah akan terus memberikan pendampingan kepada korban, termasuk memenuhi kebutuhan anak-anak yang kehilangan pengasuhan akibat proses hukum yang menjerat orang tuanya.
Najib berharap peringatan Hari Keluarga Nasional 2026 menjadi momentum membangun kesadaran bersama bahwa kehadiran ayah merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan anak. Menurutnya, keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang sehat, aman, berkarakter, serta menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan bangsa.
“Kehadiran ayah merupakan investasi penting bagi masa depan anak sekaligus menjadi pondasi utama dalam menciptakan masyarakat yang aman, sehat, dan berkarakter,” tutupnya.***