Serang

Mahasiswa Demo HUT ke-500 Kabupaten Serang, Deretan Persoalan Daerah Dibongkar: Tambang, Truk ODOL hingga Pengangguran Disorot

×

Mahasiswa Demo HUT ke-500 Kabupaten Serang, Deretan Persoalan Daerah Dibongkar: Tambang, Truk ODOL hingga Pengangguran Disorot

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Serang Barat (Kumaseba) menggelar aksi di depan Gedung DPRD Kabupaten Serang saat peringatan HUT ke-500 Kabupaten Serang, Kamis (8/10/2026), dengan membawa berbagai tuntutan terkait persoalan daerah.
Mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Serang Barat (Kumaseba) menggelar aksi di depan Gedung DPRD Kabupaten Serang saat peringatan HUT ke-500 Kabupaten Serang, Kamis (8/10/2026), dengan membawa berbagai tuntutan terkait persoalan daerah.

KILAS BANTEN – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-500 Kabupaten Serang tidak hanya dipenuhi agenda seremonial. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Serang Barat (KUMASEBA) dan Gerakan Mahasiswa Serang Utara (GAMSUT) memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan yang dinilai masih membayangi pembangunan di Kabupaten Serang.

Aksi unjuk rasa berlangsung di depan Gedung DPRD Kabupaten Serang, Kamis (8/10/2026). Dalam demonstrasi itu, mahasiswa mengangkat sejumlah isu yang mereka anggap mendesak untuk segera ditangani pemerintah daerah.

Isu tersebut meliputi aktivitas pertambangan, truk over dimension over loading (ODOL), minimnya penerangan jalan umum (PJU), kualitas pendidikan, tingginya angka pengangguran, hingga kemiskinan.

Koordinator Lapangan Kumaseba, Mahyadi, menjelaskan bahwa seluruh tuntutan yang disampaikan berasal dari hasil pengamatan mahasiswa terhadap kondisi di sejumlah kecamatan, khususnya wilayah Serang bagian barat.

“Kami membawa banyak tuntutan yang berasal dari berbagai kecamatan, khususnya di Kabupaten Serang bagian barat. Kami bergerak bersama atas nama Keluarga Mahasiswa Serang Barat,” kata Mahyadi.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah aktivitas pertambangan di Kecamatan Bojonegara dan Pulo Ampel.

Mahasiswa meminta adanya kejelasan mengenai status serta perizinan sejumlah kegiatan tambang yang menurut mereka masih belum diketahui secara luas oleh masyarakat.

“Di Bojonegara dan Pulo Ampel, kami mempertanyakan status maupun perizinan tambang yang sampai sekarang masih belum jelas diketahui masyarakat,” ujarnya.

Selain persoalan tambang, Kumaseba juga mendesak Pemerintah Kabupaten Serang agar memperkuat pengawasan terhadap operasional truk ODOL. Mahasiswa berharap pemerintah menerbitkan regulasi atau kebijakan yang lebih tegas sehingga kendaraan yang melanggar aturan dimensi dan muatan dapat ditindak secara maksimal.

“Mahasiswa Serang Barat meminta adanya regulasi atau keputusan Bupati Serang untuk menindaklanjuti persoalan truk ODOL,” tutur Mahyadi.

Di bidang infrastruktur, mahasiswa menyoroti masih terbatasnya penerangan jalan umum di sejumlah wilayah seperti Gunungsari, Mancak, Anyer, dan Cinangka. Menurut mereka, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan masyarakat saat beraktivitas.

Baca Juga  Jadwal Bupati dan Wakil Bupati Serang di HUT RI Ke-81: Dari Upacara Merah Putih hingga Misi Air Bersih, Seharian Penuh untuk Rakyat

Persoalan pendidikan juga menjadi bagian dari tuntutan yang disampaikan. Kumaseba menilai kualitas pendidikan masih membutuhkan pembenahan dan pengawasan yang lebih serius. Mahasiswa memandang sektor pendidikan memiliki hubungan erat dengan tingginya angka pengangguran di Kabupaten Serang.

“Kalau melihat kondisi pengangguran saat ini, kami juga melihat kualitas pendidikan di Kabupaten Serang masih perlu menjadi perhatian,” ucap Mahyadi.

Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan adanya penurunan jumlah pendaftar siswa pada tahun sebelumnya. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih rendahnya minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan sehingga diperlukan langkah nyata dari pemerintah.

“Kami mendata jumlah pendaftar siswa tahun kemarin menurun. Hal itu menjadi gambaran bahwa minat belajar masih rendah dan perlu adanya perhatian pemerintah,” katanya.

Mahyadi menilai lemahnya perhatian terhadap sektor pendidikan berpotensi memperbesar angka pengangguran. Ia bahkan menyebut Kabupaten Serang masih menjadi daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi di Provinsi Banten.

Selain itu, mahasiswa turut menyoroti kondisi kesejahteraan masyarakat. Mereka menilai masih banyak warga yang bergantung pada bantuan pangan. Menurut Kumaseba, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa persoalan kemiskinan masih membutuhkan penanganan yang lebih serius.

“Dari data penerima bantuan pangan dapat terlihat masih banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan. Ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah,” ujar Mahyadi.

Melalui aksi refleksi lima abad Kabupaten Serang ini, Kumaseba berharap pemerintah tidak sekadar menjadikan peringatan HUT ke 500 Kabupaten Serang sebagai agenda seremonial. Mahasiswa meminta pemerintah daerah menunjukkan komitmen melalui langkah konkret dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang mereka soroti, mulai dari tambang, truk ODOL, penerangan jalan, pendidikan, pengangguran, hingga kemiskinan demi mewujudkan pembangunan Kabupaten Serang yang lebih merata.***