Banten

Banten Digadang Jadi Role Model Moderasi Beragama Nasional, UIN SMH Banten Ajak Lintas Iman Bersatu Lewat Aksi Nyata

×

Banten Digadang Jadi Role Model Moderasi Beragama Nasional, UIN SMH Banten Ajak Lintas Iman Bersatu Lewat Aksi Nyata

Sebarkan artikel ini
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Prof. Muhammad Ishom menyampaikan sambutan pada kegiatan Mimbar Moderasi Beragama yang menghadirkan tokoh enam agama di Auditorium Rektorat Lantai 3 pada Senin (12/10/2026)
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Prof. Muhammad Ishom menyampaikan sambutan pada kegiatan Mimbar Moderasi Beragama yang menghadirkan tokoh enam agama di Auditorium Rektorat Lantai 3 pada Senin (12/10/2026)

KILAS BANTEN – UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten menegaskan tekadnya menjadi pelopor penguatan moderasi beragama di Indonesia.

Kampus Islam negeri tersebut tidak hanya ingin memperkuat sikap saling menghormati antarumat beragama, tetapi juga mendorong lahirnya kolaborasi nyata lintas iman yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Mimbar Moderasi Beragama yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-64 UIN SMH Banten. Acara berlangsung di Auditorium Rektorat Lantai 3 pada Senin (12/10/2026) dan terselenggara melalui kerja sama dengan Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama (KAUB) MUI Pusat.

Forum ini menghadirkan tokoh dari enam agama resmi di Indonesia. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat bahwa dialog dan kerja sama dapat terus dibangun di tengah keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia, khususnya di Provinsi Banten.

Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom, mengatakan tantangan dalam membangun moderasi beragama kini telah berubah.

Menurutnya, masyarakat tidak lagi hanya membutuhkan sikap toleransi, tetapi juga aksi bersama yang mampu mempererat hubungan antarumat beragama.

Ia menjelaskan bahwa tingkat toleransi masyarakat Banten saat ini sudah berada pada kategori sangat baik. Angkanya bahkan telah melampaui 90 persen. Namun, tingkat kolaborasi lintas agama masih berada di bawah angka 60 sehingga masih memerlukan perhatian dan penguatan.

“Kalau berbicara soal toleransi, nilainya di Banten sudah sangat tinggi, bahkan di atas 90. Tetapi kerja sama lintas iman masih berada di bawah angka 60. Karena itu, yang ingin kita dorong sekarang adalah aksi nyata melalui kolaborasi agar angkanya terus meningkat,” ujar Prof. Ishom.

Menurutnya, penyelenggaraan Mimbar Moderasi Beragama juga menjadi media untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa nilai-nilai moderasi telah menjadi bagian dari sistem pendidikan di lingkungan UIN SMH Banten.

Momentum Dies Natalis ke-64 dinilai menjadi kesempatan penting untuk menunjukkan posisi UIN SMH Banten sebagai salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam negeri yang konsisten mengembangkan moderasi beragama melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Prof. Ishom menegaskan bahwa moderasi beragama tidak boleh berhenti pada slogan ataupun sikap saling menghargai. Nilai tersebut harus diwujudkan melalui berbagai program bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama.

“Kita ingin membangun kegiatan yang menggugah rasa kebersamaan. Yang kita tonjolkan bukan perbedaannya, tetapi persamaannya. Kita semua memiliki tujuan hidup yang sama sebagai sesama manusia,” katanya.

Semangat tersebut, lanjutnya, telah diterapkan di lingkungan kampus. Ia menegaskan bahwa UIN SMH Banten memberikan pelayanan akademik yang setara kepada seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa nonmuslim yang menempuh pendidikan di kampus tersebut.

“Mahasiswa nonmuslim juga ada di UIN Banten. Mereka mendapatkan pelayanan yang sama seperti mahasiswa lainnya,” ujarnya.

Prof. Ishom juga optimistis Banten memiliki modal sejarah yang kuat untuk menjadi contoh nasional dalam penerapan moderasi beragama. Ia mengingatkan bahwa pada masa Kesultanan Banten, masyarakat hidup berdampingan dengan berbagai kelompok dari latar belakang agama, budaya, hingga etnis yang berbeda.

Menurutnya, pemerintahan Kesultanan Banten pada masa lalu mampu melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk komunitas dari Eropa dan Tiongkok. Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa sikap inklusif telah menjadi bagian dari identitas Banten sejak ratusan tahun silam.

Baca Juga  Prestasi Meroket, UIN SMH Banten Tembus 10 Besar PTKIN Terbaik Nasional Versi Webometrics 2026

“Kita ingin menghidupkan kembali semangat itu agar Banten menjadi role model moderasi beragama melalui kegiatan yang nyata,” tuturnya.»

Ia juga mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z, agar mengambil peran aktif dalam memperkuat kerja sama lintas agama. Bentuk kolaborasi itu dapat diwujudkan melalui kegiatan sosial, pengabdian kepada masyarakat, hingga program pelestarian lingkungan.

Menurut Prof. Ishom, berbagai konflik yang masih terjadi di sejumlah negara akibat perbedaan keyakinan menjadi pelajaran penting bahwa keberagaman harus dipandang sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan.

“Kemajemukan adalah berkah dari Tuhan. Karena itu, mari tingkatkan kerja sama lintas iman agar persatuan Indonesia semakin kuat,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Moderasi Beragama LPPM UIN SMH Banten, Salim Rosyadi, menjelaskan bahwa Mimbar Moderasi Beragama sengaja menghadirkan perwakilan majelis tinggi dari seluruh agama resmi di Indonesia.

Menurutnya, kehadiran tokoh Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu menjadi bukti bahwa dialog lintas agama dapat dibangun melalui semangat kesetaraan dan kolaborasi.

“Acara ini merupakan hasil sinergi dengan Komisi Hubungan Antar Umat Beragama MUI Pusat. Tujuan utamanya adalah membumikan moderasi beragama melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” kata Salim.

Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun budaya toleransi. Kampus bukan hanya melahirkan gagasan akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk mempraktikkan nilai-nilai hidup berdampingan secara damai.

“Kami ingin menunjukkan bahwa moderasi beragama di UIN Banten bukan hanya konsep, tetapi diwujudkan dengan merangkul seluruh pemeluk agama yang ada di Provinsi Banten,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang, KH Matin Syarkowi. Ia menilai sejarah panjang Banten telah menunjukkan bahwa kehidupan harmonis di tengah keberagaman bukan hal baru.

Keberadaan kelenteng, vihara, gereja, dan berbagai rumah ibadah lain yang masih berdiri hingga saat ini menjadi bukti bahwa masyarakat Banten telah lama hidup dalam suasana saling menghormati.

Menurut KH Matin, modal sosial tersebut harus terus dijaga dan dikembangkan agar kerukunan menjadi kebutuhan bersama, bukan sekadar kepentingan sesaat.

Ia juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Kalangan akademisi diharapkan mampu menyebarkan semangat toleransi dan moderasi kepada masyarakat luas melalui edukasi dan aksi nyata.

“Mahasiswa harus menjadi agen perubahan. Mereka harus mengedukasi masyarakat bahwa moderasi dan toleransi merupakan kebutuhan bersama. Semua agama pada dasarnya membawa pesan perdamaian, kemanusiaan, dan harmoni dalam kehidupan,” tuturnya.

Melalui kolaborasi lintas agama yang terus diperkuat, UIN SMH Banten berharap Provinsi Banten mampu menjadi contoh nasional dalam membangun kehidupan yang harmonis, damai, dan inklusif. Kampus menilai keberhasilan moderasi beragama tidak hanya diukur dari tingginya angka toleransi, tetapi juga dari kemampuan seluruh elemen masyarakat bekerja sama membangun masa depan yang lebih baik.***