Sungai Hilang, Kota Terendam, Misteri Tertutupnya Kali Ciputat dan Dampak Besar di Balik Pembangunan BXChange

Kilas Banten
4 Mei 2026 17:00
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Dugaan tertutupnya sebagian aliran Kali Ciputat di Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, memicu sorotan publik. Perubahan ini diduga berkaitan dengan pembangunan kawasan pusat perbelanjaan BXChange Mall oleh PT Jaya Real Property Tbk. Isu ini menguat setelah muncul indikasi gangguan aliran air yang berdampak pada lingkungan sekitar, termasuk meningkatnya potensi banjir.

 

Penelusuran lapangan pada 30 April hingga 1 Mei 2026 menunjukkan adanya perubahan signifikan pada sistem aliran air. Di titik Pintu Air Nuri, Kelurahan Sawah Lama, aliran sungai terlihat tidak lagi berjalan normal dari arah hulu. Air yang seharusnya mengalir ke hilir justru terhenti, bahkan berbalik arah akibat adanya perubahan struktur aliran.

 

Data citra satelit memperkuat temuan ini. Hingga 2012, aliran Kali Ciputat masih terlihat jelas mengalir dari Pintu Air Nuri, melewati rel kereta di sekitar Stasiun Jurangmangu, hingga menuju wilayah Pondok Jaya. Namun, sejak 2013, jejak aliran tersebut menghilang setelah melintasi jalan tol. Area itu kemudian berubah menjadi kawasan pembangunan BXChange Mall.

 

Catatan historis turut menguatkan keberadaan sungai tersebut. Peta tahun 1937 dari koleksi Dutch Colonial Maps di Universitas Leiden mencatat aliran Kali Ciputat dengan nama K. Tjipoetat. Peta itu menunjukkan adanya percabangan sungai di wilayah tersebut, termasuk aliran yang kini diduga sudah tidak lagi berfungsi.

 

Kondisi terkini memperlihatkan Kali Ciputat kecil dalam keadaan kritis. Aliran air nyaris mati. Pintu air di bagian hulu tertutup, menyebabkan tidak adanya suplai air ke hilir. Sedimentasi menumpuk. Tumbuhan liar tumbuh lebat. Batang pohon tumbang menutup badan sungai yang kini semakin dangkal.

 

Di beberapa titik, seperti area sekitar rumah pemotongan hewan dan fasilitas pengisian elpiji, air masih terlihat mengalir. Namun, sumbernya bukan dari aliran alami. Air tersebut berasal dari limbah domestik dan drainase jalan. Bau tidak sedap tercium. Aliran air mengalir sempit dan terbatas sebelum akhirnya mengikuti jalur sempit di antara rel kereta dan jalan tol.

 

Indra (53), warga yang tinggal di sekitar Pintu Air Nuri, menjadi salah satu saksi perubahan tersebut. Ia menyebut aliran Kali Ciputat kecil mulai mati setelah proyek rehabilitasi pintu air dan pembangunan tanggul pada 2024.

 

“Dulu airnya jernih. Bisa dipakai mandi, nyuci, bahkan cari ikan. Sekarang sudah beda jauh,” kata Indra, Senin, 4 Mei 2026.

 

Ia mengenang masa ketika sungai itu menjadi bagian penting kehidupan warga. Pada era 1980 hingga 1990-an, sungai tersebut menjadi tempat aktivitas sehari-hari. Warga memanfaatkannya untuk kebutuhan rumah tangga hingga mengairi sawah.

 

“Alirannya dari sini sampai ke Pondok Jaya. Dulu dipakai buat sawah. Airnya bagus dan mengalir terus,” ujarnya.

 

Indra berharap kondisi sungai dapat dipulihkan. Ia ingin aliran air kembali normal seperti dulu. “Yang penting hidup lagi. Dirapikan,” katanya.

 

Perubahan aliran Kali Ciputat diduga memberi dampak langsung ke wilayah hilir. Salah satu kawasan terdampak adalah Komplek Taman Mangu Indah. Di lokasi ini, sungai membelah wilayah permukiman di Kelurahan Jurang Mangu Barat dan Pondok Aren.

 

Kondisi sosial di kawasan tersebut mulai berubah. Di RW 12, puluhan rumah terlihat dipasangi tanda dijual. Tercatat sekitar 38 rumah ditawarkan ke pasar. Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran warga terhadap kondisi lingkungan.

 

Seorang warga yang telah tinggal lebih dari tiga dekade mengungkapkan banjir menjadi alasan utama mereka memilih pindah. “Saya kurang tahu detailnya, tapi yang jelas karena banjir,” ujarnya.

 

Tren penjualan rumah meningkat sejak 2024. Periode ini bertepatan dengan meningkatnya intensitas banjir di kawasan tersebut. Warga menilai perubahan aliran sungai menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi.

 

Kasus ini membuka kembali perdebatan soal tata ruang dan pengelolaan lingkungan di wilayah perkotaan. Dugaan penutupan aliran sungai tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Pemerintah dan pihak terkait kini diharapkan memberikan penjelasan serta solusi atas kondisi yang terus berkembang ini.***