KILAS BANTEN – Masjid Raya Al-A’zhom kini dikenal sebagai salah satu ikon paling megah di Kota Tangerang, Provinsi Banten. Namun, tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa kawasan tempat masjid tersebut berdiri pernah memiliki wajah yang sangat berbeda.
Sebelum berkembang menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat, wilayah Sukaasih merupakan daerah pinggiran yang didominasi lahan kosong, perkebunan, hingga kandang ratusan kerbau.
Fakta sejarah tersebut tercatat dalam buku Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang karya Burhanudin. Buku itu mendokumentasikan asal-usul sejumlah kampung di Kota Tangerang sekaligus merekam perubahan wilayah dari masa ke masa.
Salah satu pembahasan menarik dalam buku tersebut mengulas sejarah terbentuknya Kampung Sukaasih yang kini menjadi bagian penting dari Kota Tangerang.
Menurut keterangan tokoh masyarakat KH Edi Djunaedi, nama Sukaasih bersama Sukasari, Sukabakti, dan Sukarasa baru dikenal pada masa kepemimpinan Bupati Tangerang Amin Abdullah yang menjabat sekitar 1952 hingga 1955.
Sebelum masa itu, nama Sukaasih belum digunakan dalam administrasi pemerintahan maupun dalam penyebutan masyarakat setempat.
KH Edi Djunaedi menjelaskan bahwa pada era kolonial Belanda, kawasan tersebut berada di luar wilayah perkotaan. Sebagian besar lahannya masih berupa kebun dan tanah kosong.
“Di zaman kolonial Belanda, letak Sukaasih berada di luar kota. Dulu Sukaasih, Sukarasa, kavling dulunya kebon singkong, kepunyaan LP (Lembaga Pemasyarakatan), yang sekarang Masjid Raya Al-A’zhom dahulunya adalah kandang kerbau, ratusan kerbau,” ujar KH Edi Djunaedi sebagaimana dikutip dalam buku tersebut, Minggu, 19 Juli 2026.
Kesaksian tersebut menunjukkan besarnya perubahan yang dialami kawasan Sukaasih selama puluhan tahun. Wilayah yang dahulu dipenuhi kebun singkong dan kandang ternak kini berubah menjadi salah satu kawasan paling strategis di Kota Tangerang.
Di atas lahan itulah berdiri Masjid Raya Al-A’zhom yang kini menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus salah satu destinasi kebanggaan masyarakat.
Masjid Raya Al-A’zhom dibangun di atas lahan sekitar 2,25 hektare. Bangunan ini mampu menampung hingga 15 ribu jemaah dalam satu waktu.
Proses pembangunannya diawali dengan peletakan batu pertama pada Juli 1997. Setelah melalui pengerjaan sekitar enam tahun, masjid tersebut akhirnya diresmikan pada Februari 2003.
Bangunan utamanya memiliki luas sekitar 5.775 meter persegi. Selain ruang salat yang luas, kompleks masjid juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang untuk menunjang aktivitas ibadah dan pendidikan.
Fasilitas tersebut meliputi empat menara di setiap sudut bangunan, tempat wudu terpisah, ruang mihrab, ruang pengkajian, perpustakaan, ruang kantor, hingga area parkir seluas sekitar 14.000 meter persegi.
Kini, Masjid Raya Al-A’zhom tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Bangunan ini juga menjadi simbol perkembangan Kota Tangerang yang terus tumbuh menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, dan kegiatan masyarakat.
Sementara itu, buku karya Burhanudin memiliki peran penting dalam mendokumentasikan sejarah lokal. Melalui berbagai catatan dan kesaksian para tokoh masyarakat, buku tersebut membantu menjaga jejak perjalanan kampung-kampung di Kota Tangerang agar tidak hilang ditelan waktu.
Dokumentasi sejarah seperti ini menjadi referensi berharga bagi masyarakat, peneliti, hingga generasi muda yang ingin memahami identitas daerahnya. Dengan mengenal asal-usul wilayah, masyarakat dapat melihat bagaimana perubahan sosial, budaya, dan pembangunan berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perjalanan Sukaasih menjadi contoh nyata transformasi sebuah kawasan. Dari wilayah pinggiran yang dipenuhi kebun singkong dan kandang ratusan kerbau, kawasan tersebut kini menjelma menjadi pusat aktivitas masyarakat dengan Masjid Raya Al Azhom sebagai salah satu ikon terbesar Kota Tangerang.***

