KILAS BANTEN – Sebuah pamflet yang menyebut aktris Luna Maya terpilih sebagai Ketua Umum Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) periode 2026-2031 mendadak viral di media sosial. Unggahan tersebut memicu perbincangan luas karena beredar tidak lama setelah Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 rampung digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang.
Pamflet itu langsung menarik perhatian warganet. Banyak pengguna media sosial mempertanyakan keaslian informasi tersebut. Pasalnya, Luna Maya selama ini dikenal sebagai figur publik di industri hiburan dan tidak pernah diumumkan sebagai bagian dari kepengurusan organisasi otonom NU.
Dalam gambar yang beredar, tercantum ucapan selamat atas terpilihnya Luna Maya sebagai Ketua Umum Fatayat NU periode 2026-2031. Narasi dalam pamflet berbunyi, “Semoga amanah dalam memimpin, membawa Fatayat menjadi organisasi perempuan muda yang berdaya, berakhlak mulia, dan memberi manfaat untuk umat dan bangsa.”
Unggahan itu semakin ramai setelah disertai kalimat bernada sindiran, “Ini pasti hoax…!!! Kalau Luna Maya jadi Ketua Fatayat, Ariel NOAH pasti Ketua Ansor-nya.” Kalimat tersebut ikut memancing komentar dan membuat unggahan semakin banyak dibagikan.
Namun, hasil penelusuran tim cek fakta memastikan informasi tersebut tidak benar. Klaim yang menyebut Luna Maya menjabat sebagai Ketua Umum Fatayat NU dipastikan merupakan hoaks.
Tim cek fakta Redaksi Kilas Banten tidak menemukan satu pun dokumen, pengumuman, maupun informasi resmi yang menyatakan Luna Maya menduduki jabatan tersebut. Nama aktris itu juga tidak tercantum dalam hasil maupun keputusan yang berkaitan dengan kepengurusan Fatayat NU.
Fatayat NU sendiri merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama yang menghimpun perempuan muda. Organisasi ini berdiri pada 24 April 1950 di Surabaya dan memiliki peran penting dalam pemberdayaan perempuan, pendidikan, dakwah, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Sebelumnya, almarhumah Hj. Margaret Aliyatul Maimunah menjabat sebagai Ketua Umum Fatayat NU untuk periode 2022-2027. Setelah beliau wafat, Pimpinan Pusat Fatayat NU menunjuk Dewi Winarti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum hingga proses organisasi berjalan sesuai ketentuan.
Sementara itu, Muktamar NU ke-35 telah menetapkan kepemimpinan baru di tingkat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). KH Miftachul Akhyar dipercaya sebagai Rais Aam PBNU, sedangkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU pada Senin, 31 Agustus 2026.
Usai pengumuman hasil muktamar, berbagai ucapan selamat kepada para pemimpin baru NU memang bermunculan di media sosial. Beragam desain pamflet digital dipublikasikan oleh sejumlah pihak sebagai bentuk apresiasi. Di tengah banyaknya konten resmi tersebut, muncul pula pamflet palsu yang mengatasnamakan Fatayat NU dan memuat informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa momentum organisasi besar sering dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyebarkan informasi menyesatkan. Konten yang dikemas menyerupai desain resmi dapat dengan mudah mengecoh masyarakat apabila tidak disertai verifikasi.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati saat menerima informasi yang beredar di media sosial. Jangan langsung mempercayai atau membagikan sebuah unggahan sebelum memastikan sumbernya berasal dari kanal resmi organisasi terkait atau telah melalui proses verifikasi lembaga cek fakta.
Kasus viral pamflet Luna Maya ini kembali menjadi pengingat penting bahwa penyebaran hoaks masih menjadi tantangan di era digital. Sikap kritis, kebiasaan memeriksa fakta, dan mengandalkan sumber resmi menjadi langkah efektif untuk mencegah meluasnya informasi palsu yang dapat membingungkan publik.***





