Serang

BPBD Sebut Kekeringan di Kota Serang Terdeteksi di 12 Titik, Mayoritas Berada di Kasemen

×

BPBD Sebut Kekeringan di Kota Serang Terdeteksi di 12 Titik, Mayoritas Berada di Kasemen

Sebarkan artikel ini
BPBD Kota Serang mencatat 12 titik kekeringan di Kecamatan Kasemen dan Serang.
BPBD Kota Serang mencatat 12 titik kekeringan di Kecamatan Kasemen dan Serang.

KILAS BANTEN – Dampak kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kota Serang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Serang mencatat 12 titik telah dilaporkan dan mendapat penanganan, dengan 11 titik di antaranya berada di Kecamatan Kasemen.

Kepala BPBD Kota Serang Diat Hermawan mengatakan, satu titik lainnya berada di Kecamatan Serang. Penanganan dilakukan setelah laporan dari wilayah terdampak diterima BPBD.

“Kasemen 11 titik, Serang 1 titik,” ujar Diat, Senin 31 Agustus 2026.

BPBD Kota Serang menyiapkan langkah penanganan dengan pendekatan nonstruktural.

Upaya tersebut meliputi imbauan, sosialisasi, hingga pengiriman air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan.

Diat menegaskan, warga yang membutuhkan bantuan air bersih tidak perlu memenuhi persyaratan khusus. Laporan menjadi dasar bagi BPBD untuk melakukan penanganan.

“Syaratnya hanya melaporkan saja. Tidak ada syarat lain,” katanya.

Menurut Diat, laporan dari masyarakat menjadi bagian penting karena BPBD tidak mungkin memantau kondisi kekeringan secara langsung di seluruh wilayah Kota Serang.

Karena itu, peran unsur kewilayahan dari tingkat RT, RW hingga jenjang di atasnya diperlukan untuk menyampaikan kondisi di lapangan.

“Kita sendiri tidak mungkin melakukan monitoring gitu ya ke semua wilayah, ngecek kekeringan gitu. Tentunya kita membutuhkan data dari bawah,” jelasnya.

Dari 12 titik yang saat ini ditangani, Diat menyebut seluruh laporan telah masuk ke BPBD.

Kondisi tersebut membuat pihaknya dapat menyiapkan bantuan bagi wilayah yang membutuhkan.

“Yang kita tangani 12 titik tadi itu alhamdulillah suratnya udah masuk ke kita. Dalam arti ya kita siap membantu mereka,” ujarnya.

Kondisi ini masih berpotensi berlangsung lebih panjang. Berdasarkan informasi BMKG yang dibahas dalam rapat Forkopimda, dampak El Nino diperkirakan terjadi hingga awal 2027.

Baca Juga  Jadwal Wabup Serang Hari Ini Kunjungi Gerabah di Ciruas, Sinyal Kuat UMKM Siap Naik Kelas dan Rebut Pasar Lebih Luas

“Tadi dari BMKG disampaikan sampai awal tahun 2027,” kata Diat.

BPBD juga mencermati kemungkinan kekeringan meluas ke wilayah lain.

Catatan pada 2019, 2023, dan 2024 menunjukkan kekeringan pernah berdampak hingga lima kecamatan, termasuk Walantaka dan Taktakan.

Meski begitu, BPBD berharap kondisi tahun ini tidak berkembang seperti periode tersebut dan tetap berada pada dua kecamatan yang saat ini telah mendapat penanganan.

“Ya mudah-mudahan tidak lah, hanya di 2 kecamatan yang sekarang ini ditangani, mudah-mudahan seperti itu aja,” tuturnya.

Selain kekeringan, musim kemarau turut meningkatkan risiko kebakaran lahan.

BPBD Kota Serang mencatat tujuh kejadian kebakaran lahan selama Agustus, dengan enam kejadian terjadi di Kasemen dan satu kejadian di Serang.

Diat menyebut sebagian kejadian dapat berkaitan dengan kelalaian ketika masyarakat membakar sampah. Api yang ditinggalkan dan belum sepenuhnya padam berpotensi merembet ke area lain.

BPBD mengingatkan warga agar tidak meninggalkan api saat membakar sampah. Api harus dipastikan benar-benar padam, sementara sumber api lain seperti puntung rokok juga perlu diwaspadai, terutama di area terbuka.

“Dalam arti ketika membakar sampah karena memang bau dan mengganggu, ya ditungguin lah sampai dengan padam kembali seperti itu gitu, jangan sampai ditinggal,” ujar Diat.

Penanganan kekeringan dan pencegahan kebakaran lahan menjadi bagian dari langkah BPBD Kota Serang menghadapi dampak musim kemarau.

Di tengah potensi El Nino hingga awal 2027, laporan dari masyarakat dan koordinasi dengan unsur kewilayahan menjadi bagian penting dalam menentukan respons di lapangan.