KILAS BANTEN – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekolah di Kota Tangerang mencatat capaian 203.271 siswa hingga 28 Agustus 2026.
Jumlah itu setara sekitar 59,4 persen dari total 342.310 siswa yang menjadi sasaran pemeriksaan.
Capaian tersebut mencakup siswa SD, SMP, SMA atau sederajat. Program yang berjalan sejak Januari 2026 ini menjadi bagian dari upaya pemerintah melakukan deteksi dini terhadap kondisi kesehatan anak dan remaja.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang dr. Dini Anggraeni mengatakan pemeriksaan tidak hanya melihat kondisi kesehatan secara umum, tetapi juga sejumlah aspek yang berkaitan langsung dengan keseharian siswa.
”Pelaksanaan CKG sekolah menjadi bagian dari upaya deteksi dini kondisi kesehatan anak dan remaja,” katanya Jumat 4 September 2026.
“Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan siswa sejak awal, termasuk kebugaran, aktivitas fisik, kesehatan gigi, hingga kondisi kesehatan lainnya yang dapat memengaruhi proses tumbuh kembang dan aktivitas belajar,” papar dr. Dini.
Dari pemeriksaan sementara, Dinkes Kota Tangerang menemukan lima temuan skrining yang paling banyak muncul pada siswa.
Di antaranya adalah kebugaran dengan hasil kurang, aktivitas fisik yang kurang, serta karies gigi.
Menurut dr. Dini, temuan tersebut perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan kebiasaan anak dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
”Temuan tersebut menjadi perhatian karena kondisi kebugaran dan aktivitas fisik berkaitan dengan pola hidup anak sehari-hari,” katanya.
“Hasil CKG diharapkan dapat menjadi dasar untuk mendorong siswa agar lebih aktif bergerak serta menerapkan kebiasaan hidup sehat sejak usia sekolah,” jelas dr. Dini.
Selain kebugaran dan aktivitas fisik, skrining juga mencakup pemeriksaan kesehatan gigi dan telinga.
Karies gigi maupun serumen telinga dapat teridentifikasi lebih awal sehingga siswa bisa mendapatkan edukasi dan tindak lanjut sesuai kondisi yang ditemukan.
Dinkes Kota Tangerang menekankan agar hasil CKG tidak berhenti sebagai data pemeriksaan.
Temuan kesehatan siswa dapat menjadi dasar tindak lanjut yang melibatkan sekolah, orang tua, dan fasilitas kesehatan.
Tindak lanjut tersebut antara lain berupa edukasi aktivitas fisik, kebersihan diri, kesehatan gigi, serta penerapan pola hidup sehat.
Dengan begitu, pemeriksaan diharapkan tidak sekadar mengetahui kondisi kesehatan siswa, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan sejak usia sekolah.***






