Puluhan siswa TK Islam Gunung Jati antusias mengikuti kegiatan Polisi Sahabat Anak di Polres Metro Tangerang Kota, mencoba mobil patroli dan belajar keselamatan lalu lintas.KILAS BANTEN – Puluhan siswa TK Islam Gunung Jati memadati halaman Polres Metro Tangerang Kota dalam sebuah kunjungan edukatif yang dikemas menarik. Kegiatan bertajuk Polisi Sahabat Anak ini menghadirkan pengalaman belajar berbeda. Anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas interaktif.
Sekitar 40 siswa mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tampak antusias sejak awal. Wajah ceria dan rasa ingin tahu terlihat jelas sepanjang acara. Anak-anak belajar melalui pendekatan bermain, baik di dalam ruangan maupun di luar area kantor polisi.
Kepala TK Islam Gunung Jati, Marlina, menegaskan pentingnya pembelajaran di luar kelas. Ia menilai kegiatan ini mampu memperkaya pengalaman anak dan mendukung perkembangan mereka secara menyeluruh.
“Kegiatan ini penting agar anak-anak bisa mengenal lingkungan, memahami profesi, serta mengembangkan aspek sosial-emosional dan kognitif mereka,” ujar Marlina, Kamis, 7 Mei 2026.
Ia menambahkan, pengalaman langsung memberi dampak besar terhadap pemahaman anak. Menurutnya, metode ini membuat siswa lebih cepat menyerap informasi dibanding pembelajaran di dalam kelas.
“Mereka sangat bahagia karena mendapatkan pengalaman baru. Ini tidak bisa didapatkan hanya dari pembelajaran di dalam kelas,” katanya.
Program ini juga menjadi sarana pengenalan profesi sejak dini. Anak-anak diajak memahami peran polisi dalam kehidupan sehari-hari. Petugas menyampaikan materi dengan cara sederhana dan menyenangkan. Hal ini membuat anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.
Aipda Dewi Yulia dari Unit Keamanan dan Keselamatan (Kamsel) Satlantas Polres Metro Tangerang Kota menjelaskan, kegiatan ini merupakan agenda rutin. Program Polisi Sahabat Anak bertujuan mendekatkan polisi dengan masyarakat, khususnya anak-anak.
“Dalam kegiatan ini, kami memberikan edukasi tentang rambu-rambu lalu lintas, cara menyeberang yang benar, serta pentingnya keselamatan saat berkendara,” jelas Dewi.
Ia menekankan pentingnya edukasi sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan tertib lalu lintas perlu dibangun sejak kecil. Anak-anak diajarkan hal sederhana, seperti memakai sabuk pengaman dan memahami fungsi rambu jalan.
Selain menerima materi, siswa juga diajak melihat langsung aktivitas kepolisian. Mereka dikenalkan pada berbagai fasilitas di lingkungan Polres. Momen paling menarik terjadi saat anak-anak mencoba naik mobil patroli. Sorak gembira langsung terdengar saat kendaraan dinas itu mulai bergerak.
Kegiatan ini dinilai efektif membangun citra positif kepolisian. Pendekatan humanis membuat anak merasa dekat dan nyaman. Mereka tidak lagi melihat polisi sebagai sosok yang menakutkan.
Di sisi lain, program ini membuka peluang kerja sama antara sekolah dan kepolisian. Dewi menyebut, pihaknya siap menerima kunjungan dari institusi pendidikan lain yang ingin mengikuti kegiatan serupa.
“Sekolah atau instansi yang ingin berkunjung dapat mengajukan permohonan resmi kepada Satlantas,” ujarnya.
Kegiatan edukatif ini diharapkan terus berlanjut. Program ini tidak hanya memberikan pengalaman baru, tetapi juga menanamkan nilai disiplin dan keselamatan sejak dini.
Dengan konsep belajar sambil bermain, anak-anak memperoleh pengetahuan sekaligus membangun karakter. Program Polisi Sahabat Anak menjadi contoh bahwa pendidikan dapat dikemas menarik tanpa mengurangi esensi pembelajaran.***