Aktivitas pengolahan sampah organik menggunakan maggot Black Soldier Fly di Unit Pengolahan Sampah Pasar Anyar, Kota TangerangKILAS BANTEN – Pasar Anyar Tangerang kini tampil dengan wajah baru. Kawasan yang dulu identik dengan tumpukan sampah dan bau menyengat itu berubah menjadi pusat pengolahan limbah modern berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF).
Lewat inovasi tersebut, sampah organik dari aktivitas pasar disulap menjadi pakan ternak berprotein tinggi yang memiliki nilai ekonomi. Program ini lahir dari kolaborasi antara Unit Pengelola Pasar Anyar dan Rumah Edukasi OC di Kota Tangerang.
Pengolahan limbah berbasis maggot BSF dinilai menjadi solusi efektif untuk mengatasi persoalan sampah pasar sekaligus membantu peternak mendapatkan pakan dengan harga lebih murah.
Pengelola Rumah Edukasi OC, Hok Tjuan Wula Djana, mengatakan metode maggot dipilih karena prosesnya jauh lebih cepat dibandingkan sistem pengolahan sampah konvensional seperti pengomposan.
Menurut dia, pengolahan menggunakan teknik maggot ring mampu menghabiskan sampah organik hanya dalam waktu semalam.
“Kami menggunakan maggot teknik ring. Sampah seperti sisa makanan dan sayuran diberikan sore hari, lalu pagi harinya sudah habis dimakan maggot,” ujar Hok Tjuan, Minggu, 17 Mei 2026.
Ia menjelaskan, satu kilogram maggot BSF dapat mengurai tiga hingga empat kilogram sampah organik setiap hari. Saat ini Rumah Edukasi OC telah memiliki 30 unit pengolahan sampah dengan kapasitas sekitar tujuh kilogram per ember.
Jumlah tersebut akan terus ditambah untuk memperbesar kapasitas pengolahan limbah organik di Pasar Anyar. Dalam waktu dekat, pengelola menargetkan memiliki 90 unit pengolahan dengan kemampuan mengolah hingga 300 kilogram sampah organik per hari.
Menurut Hok Tjuan, hasil panen maggot tidak hanya membantu mengurangi sampah kota, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak ikan, ayam, bebek, hingga udang.
Ia mengungkapkan kandungan protein maggot BSF mencapai 58,6 persen berdasarkan hasil uji laboratorium. Kandungan itu dinilai sangat baik untuk mendukung pertumbuhan ternak.
“Kami ingin membantu peternak mendapatkan pakan berkualitas dengan harga lebih murah. Harga pakan dari maggot ini hampir separuh dari harga pakan komersial di pasaran,” katanya.
Program tersebut mendapat apresiasi dari pengelola Pasar Anyar Tangerang. Kepala Unit Pasar Anyar, Achmad Junaidi, menyebut inovasi pengolahan sampah berbasis maggot memberikan dampak besar terhadap kebersihan lingkungan pasar.
Sebelum program berjalan, volume sampah di Pasar Anyar mencapai lima hingga enam kontainer setiap hari atau sekitar 20 hingga 24 ton. Setelah pengolahan limbah diterapkan, jumlah sampah turun drastis menjadi sekitar dua kontainer atau delapan ton per hari.
“Dampaknya sangat terasa. Sampah organik diolah menjadi maggot, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan botol juga kami kelola untuk didaur ulang,” ujar Junaidi.
Ia menambahkan, hasil penjualan sampah anorganik turut dimanfaatkan untuk membantu kesejahteraan petugas kebersihan pasar.
Tak berhenti pada pengelolaan limbah, pihak pengelola juga menyiapkan pengembangan kawasan menjadi pusat edukasi urban farming dan ketahanan pangan.
Area pengolahan sampah yang berada di bagian atas Pasar Anyar rencananya akan diubah menjadi ruang pembelajaran terbuka bagi masyarakat, pelajar, hingga komunitas peduli lingkungan.
“Ke depan tempat ini bukan hanya lokasi pengolahan sampah, tetapi pusat edukasi pertanian dan ketahanan pangan. Kami ingin menunjukkan bahwa sampah bisa menjadi berkah,” kata Junaidi.
Program pengolahan sampah berbasis maggot di Pasar Anyar juga dibuka untuk masyarakat umum dan peternak yang ingin belajar langsung mengenai teknik budidaya maggot BSF.
Lokasi Rumah Edukasi OC berada di Unit Pengolahan Sampah Pasar Anyar, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.
Inovasi tersebut kini menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah modern di perkotaan yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi dan mendukung ketahanan pangan masyarakat.***