Bank Sampah 102, Limbah Rumah Tangga Disulap Jadi Cuan, Warga Kota Tangerang Ikut Panen Manfaat

Kilas Banten
17 Mei 2026 11:00
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Permasalahan sampah yang selama ini identik dengan pencemaran lingkungan kini berhasil diubah menjadi sumber penghasilan oleh warga di Kota Tangerang. Melalui kreativitas dan kepedulian lingkungan, Bank Sampah 102 mampu menyulap limbah rumah tangga menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus menggerakkan kegiatan sosial untuk masyarakat sekitar.

 

Bank sampah yang berada di Jalan Jamlang II, RT 04 RW 15, Kelurahan Cibodasari, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang itu kini menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berjalan efektif. Tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, program tersebut juga menciptakan peluang usaha baru bagi warga.

 

Ketua Bank Sampah 102, Saifuddin, mengatakan pengelolaan sampah yang dijalankan selama hampir lima tahun mampu berkembang berkat dukungan masyarakat dan kerja sama dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

 

Menurutnya, kolaborasi tersebut membuat hasil produk daur ulang lebih mudah dipasarkan sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi warga.

 

“Produk daur ulang kami pasarkan bersama UMKM sehingga hasilnya bisa lebih maksimal,” ujar Saifuddin, Minggu, 17 Mei 2026.

 

Ia menjelaskan, sampah yang dikumpulkan dari rumah warga tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pengelola lebih dulu memilah berbagai jenis sampah untuk kemudian diolah kembali menjadi barang yang memiliki nilai guna.

 

Botol plastik bekas misalnya, diubah menjadi sapu rumah tangga. Sementara tutup botol dimanfaatkan menjadi gantungan dan limbah kantong plastik dijadikan media permainan edukatif bagi anak-anak.

 

“Botol plastik bisa menjadi sapu, tutup botol jadi gantungan, sedangkan kresek plastik bisa menjadi mainan mewarnai untuk anak-anak,” katanya.

 

Program pengelolaan sampah tersebut tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi. Bank Sampah 102 juga aktif menjalankan berbagai kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat sekitar.

 

Keuntungan dari hasil pengelolaan sampah diputar kembali untuk mendukung rumah belajar gratis, santunan anak yatim, hingga program Jumat Berkah bagi warga kurang mampu di lingkungan sekitar.

 

“Kami tidak hanya mengumpulkan sampah. Ada edukasi lingkungan dan kegiatan sosial. Hasil dari pengelolaan sampah kembali digunakan untuk membantu masyarakat,” jelas Saifuddin.

 

Keberadaan bank sampah itu perlahan mengubah pola pikir masyarakat terhadap sampah. Warga yang sebelumnya terbiasa membuang sampah sembarangan kini mulai sadar pentingnya memilah sampah sejak dari rumah.

 

Perubahan tersebut berdampak langsung terhadap kondisi lingkungan permukiman. Kawasan yang sebelumnya dipenuhi sampah kini terlihat lebih bersih, sehat, dan tertata.

 

Tidak hanya itu, anak-anak di sekitar lokasi juga mendapatkan ruang belajar tambahan melalui rumah belajar gratis yang dikelola bersama program bank sampah.

 

“Lingkungan sekarang lebih bersih dan sehat. Anak-anak juga memiliki rumah belajar sehingga waktu mereka lebih bermanfaat,” tambahnya.

 

Manfaat keberadaan Bank Sampah 102 juga dirasakan langsung oleh para nasabah. Salah seorang warga, Pipit, mengaku pengelolaan sampah memberi tambahan penghasilan bagi keluarganya.

 

Ia mengatakan botol plastik yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai kini justru dapat menghasilkan uang setelah dikumpulkan dan disetorkan ke bank sampah.

 

“Sangat membantu. Dulu sampah plastik langsung dibuang, sekarang botol yang tidak terpakai bisa menjadi tambahan uang,” ujar Pipit.

 

Menurut Pipit, hampir seluruh warga di lingkungan tersebut merasakan dampak positif dari keberadaan bank sampah. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi dari sampah yang sebelumnya terbuang percuma.

 

“Semua warga terbantu. Sampah yang dulu berserakan sekarang ditampung di Bank Sampah 102 dan hasilnya juga membantu kesejahteraan warga,” katanya.

 

Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai peduli terhadap pengelolaan sampah dari lingkungan rumah masing-masing. Menurutnya, kebiasaan memilah sampah dapat menjadi solusi sederhana untuk mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

 

“Persoalan sampah jangan diwariskan kepada anak cucu. Kita bisa mulai memilah sampah dari rumah agar dapat didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi,” tandasnya.***