KILAS BANTEN – Menjelang pelaksanaan Kongres XXI Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pimpinan Cabang (PC) IPNU Kota Serang mengingatkan bahwa forum tertinggi organisasi tersebut tidak boleh hanya dimaknai sebagai ajang pergantian kepemimpinan.
Kongres harus menjadi momentum strategis untuk memperkuat kaderisasi dan mengembalikan fokus organisasi kepada kader di tingkat akar rumput.
Kongres XXI IPNU dijadwalkan berlangsung pada 26 hingga 30 November 2026 di Pondok Pesantren Darul Amanah, Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Agenda nasional itu akan menjadi ruang bagi seluruh kader untuk menyusun arah gerakan organisasi dalam beberapa tahun ke depan.
Ketua PC IPNU Kota Serang, Rohendi, menegaskan bahwa kongres memiliki peran penting sebagai ruang evaluasi sekaligus refleksi bersama.
Menurutnya, kebijakan yang dihasilkan harus mampu menjawab kebutuhan kader di seluruh tingkatan, terutama di tingkat ranting yang menjadi basis utama organisasi.
“Kongres harus menjadi ruang refleksi bersama agar arah gerakan organisasi tetap berpijak pada kebutuhan kader di akar rumput,” ujar Rohendi, Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia menilai tantangan organisasi saat ini bukan hanya membangun sistem administrasi yang tertata, tetapi juga memastikan sistem tersebut mampu menghidupkan gerakan kaderisasi. Menurutnya, organisasi tidak boleh terjebak pada urusan struktural hingga melupakan semangat perjuangan yang menjadi identitas IPNU.
Rohendi menekankan bahwa kekuatan IPNU lahir dari kader yang aktif belajar, berkembang, dan hadir di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, proses kaderisasi harus menjadi prioritas utama dalam setiap program organisasi.
Ia mengingatkan agar keberhasilan organisasi tidak hanya diukur dari kelengkapan struktur kepengurusan atau banyaknya program kerja. Lebih dari itu, manfaat program harus benar-benar dirasakan oleh para pelajar Nahdlatul Ulama dan kader di tingkat bawah.
“Jangan sampai organisasi terlihat kuat secara struktural, tetapi lemah dalam kaderisasi. Program yang disusun harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh kader hingga tingkat paling bawah,” katanya.
Menurut Rohendi, penguatan kaderisasi harus berjalan secara berkesinambungan mulai dari tingkat pimpinan pusat, wilayah, cabang, anak cabang hingga ranting. Ia menyebut ranting sebagai ujung tombak organisasi karena menjadi tempat lahirnya kader-kader yang akan meneruskan perjuangan IPNU di masa depan.
“Kaderisasi harus terus digaungkan, diperkuat, dan dihidupkan di setiap tingkatan kepengurusan. Ranting bukan sekadar pelengkap struktur, melainkan pusat lahirnya kader yang akan melanjutkan perjuangan organisasi,” tegasnya.
Ia berharap Kongres XXI IPNU mampu menghasilkan kebijakan yang mendukung pemerataan kualitas kader, memperkuat sistem kaderisasi, serta memastikan gerakan organisasi tetap hidup hingga ke tingkat ranting. Menurutnya, kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan kader, bukan hanya membangun sistem organisasi.
Di akhir keterangannya, Rohendi mengajak seluruh kader menjadikan Kongres XXI sebagai titik awal memperkuat persatuan dan menjaga marwah organisasi. Ia menegaskan bahwa IPNU harus tetap menjadi rumah bagi pelajar Nahdlatul Ulama untuk tumbuh, belajar, dan mengabdi kepada masyarakat.
“Rawat akar rumput, hidupkan kaderisasi, dan pastikan IPNU tetap menjadi rumah tumbuh bagi seluruh kader pelajar Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.***






