Tangerang Ngebut Tekan TBC, Skrining Tembus 51 Persen dalam Empat Bulan dan Jadi Terbaik di Banten

Kilas Banten
16 Mei 2026 06:00
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Pemerintah Kota Tangerang mencatat pencapaian signifikan dalam upaya penanggulangan Tuberkulosis atau TBC sepanjang awal tahun 2026. Hingga April 2026, angka skrining mandiri TBC di Kota Tangerang berhasil mencapai 51 persen dari target tahunan yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

 

Capaian tersebut menjadikan Kota Tangerang sebagai daerah dengan penanganan TBC tertinggi di Provinsi Banten. Hasil itu sekaligus memperlihatkan agresivitas pemerintah daerah dalam mempercepat deteksi dan pengendalian penyakit menular tersebut.

 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Dini Anggraeni, mengatakan keberhasilan itu merupakan hasil dari sejumlah program penanganan TBC yang dijalankan secara intensif sejak awal tahun.

 

“Sejauh ini, kami telah berhasil melampaui target penanggulangan TBC lewat sejumlah program-program yang sudah berjalan. Bisa dilihat datanya per bulan April kemarin meski baru empat bulan berjalan, skrining mandiri sudah mencapai 51 persen,” ujar Dini, Sabtu, 16 Mei 2026.

 

Menurutnya, tingginya angka skrining menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini. Partisipasi warga dinilai menjadi faktor utama dalam mempercepat penanganan kasus TBC di wilayah tersebut.

 

Pemerintah Kota Tangerang menilai deteksi dini menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan TBC. Melalui pemeriksaan lebih cepat, pasien dapat segera menjalani pengobatan sehingga risiko penyebaran penyakit ke lingkungan sekitar dapat ditekan.

 

Dini menjelaskan, capaian tersebut juga berhasil melampaui kabupaten dan kota lain di Provinsi Banten dalam bidang penanggulangan TBC. Meski demikian, Pemkot Tangerang mengaku belum ingin berpuas diri.

 

Pemerintah daerah berkomitmen terus memperkuat penanganan demi mengejar target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030. Berbagai program berbasis masyarakat akan terus diperluas agar penemuan kasus dapat dilakukan lebih cepat dan pengobatan pasien berjalan optimal.

 

“Tidak berhenti di sini, kami akan terus bergerak cepat berkolaborasi dengan perangkat kewilayahan untuk meningkatkan kinerja penanggulangan TBC ke depan untuk mengejar target eliminasi TBC pada 2030 mendatang,” katanya.

 

Untuk mempercepat pengendalian kasus, Pemkot Tangerang mengoptimalkan sejumlah program unggulan. Salah satunya melalui program Kelurahan Siaga TBC yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat di tingkat lingkungan.

 

Program tersebut fokus meningkatkan edukasi kepada warga terkait gejala TBC, pentingnya pemeriksaan dini, hingga pendampingan pasien selama menjalani pengobatan. Pemerintah berharap masyarakat semakin memahami bahaya TBC dan tidak lagi takut menjalani pemeriksaan kesehatan.

 

Selain itu, Dinas Kesehatan Kota Tangerang juga menjalankan program Ransel TBC. Program ini berfokus pada edukasi serta pemantauan pasien agar disiplin menjalani pengobatan sampai tuntas. Langkah tersebut dinilai penting karena pengobatan TBC membutuhkan waktu panjang dan harus dilakukan secara rutin.

 

Pemerintah daerah juga memperkuat strategi Active Case Finding atau ACF Rontgen. Program ini dilakukan dengan metode jemput bola menggunakan fasilitas rontgen bergerak untuk mendatangi kelompok masyarakat berisiko tinggi.

 

Strategi tersebut dianggap efektif untuk menemukan kasus TBC lebih cepat, khususnya di kawasan padat penduduk yang memiliki tingkat penularan lebih tinggi. Dengan deteksi dini, tenaga kesehatan dapat segera memberikan penanganan kepada pasien sebelum kondisi semakin parah.

 

TBC hingga kini masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius di Indonesia. Penyakit yang menyerang paru-paru itu dapat menular melalui percikan droplet saat penderita batuk maupun bersin.

 

Karena itu, pemerintah pusat dan daerah terus mendorong peningkatan skrining, edukasi masyarakat, serta kepatuhan pengobatan sebagai langkah utama menuju eliminasi TBC nasional.

 

Keberhasilan Kota Tangerang menembus angka skrining 51 persen hanya dalam waktu empat bulan menjadi sinyal positif bahwa percepatan pengendalian TBC mulai menunjukkan hasil nyata. Pemerintah berharap kolaborasi tenaga kesehatan, perangkat wilayah, dan masyarakat terus diperkuat agar target eliminasi TBC tahun 2030 dapat tercapai.***