KILAS BANTEN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten meningkatkan langkah mitigasi bencana menyusul aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang masih berada pada Level III atau Siaga.
Meski status tersebut belum berubah, aktivitas wisata di kawasan Pantai Anyer dan Carita tetap berlangsung normal. Ribuan wisatawan masih memadati kawasan pesisir karena situasi dinilai aman.
Pemprov Banten melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau berdasarkan laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan seluruh pihak apabila sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
Kepala BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, menegaskan pemerintah tidak hanya mengawasi potensi erupsi, tetapi juga mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan, termasuk ancaman tsunami.
“Mitigasi sudah kita lakukan sejak awal tahun, bahkan kita perkuat pasca Level III status GAK,” kata Lutfi, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, keputusan melakukan evakuasi tidak akan diambil hanya karena terjadi erupsi. Pemerintah akan bertindak apabila hasil analisis resmi menunjukkan adanya potensi tsunami yang membahayakan wilayah pesisir.
Menurut Lutfi, jika terjadi erupsi yang berpotensi memicu tsunami, masyarakat di kawasan pantai diperkirakan masih memiliki waktu sekitar 40 menit untuk menyelamatkan diri menuju lokasi yang lebih aman.
Untuk mendukung kesiapsiagaan tersebut, BPBD Banten terus memperkuat koordinasi dengan PVMBG, BMKG, TNI, Polri, serta pemerintah kabupaten dan kota. Selain itu, pelatihan juga diberikan kepada Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) agar proses evakuasi dan penyelamatan dapat berlangsung cepat, terukur, dan terorganisasi.
Lutfi juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Ia memastikan aktivitas masyarakat maupun wisata di sepanjang pesisir Anyer hingga Cinangka masih berjalan seperti biasa.
Sementara itu, Pengamat Gunung Api PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Anggi Nuryo Saputro, mengingatkan masyarakat tetap mematuhi rekomendasi yang berlaku. Warga, nelayan, wisatawan, hingga pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
“Kondisi kegempaan masih fluktuatif dan rekomendasinya belum berubah, masih tiga kilometer dari kawah pusat. Semua informasi resminya dapat diakses melalui MAGMA Indonesia,” ujar Anggi.
Ia menjelaskan, kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan menjelang tsunami Selat Sunda pada 2018. Sebelum longsoran besar terjadi, tinggi gunung mencapai sekitar 337 meter di atas permukaan laut. Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, tinggi gunung kini sekitar 158 meter di atas permukaan laut.
“Kalau berdasarkan kajian para ahli, potensinya berbeda dengan tahun 2018. Namun masyarakat tetap harus mematuhi rekomendasi PVMBG,” katanya.
Anggi juga menegaskan bahwa selama sejarah pemantauan, Gunung Anak Krakatau belum pernah ditetapkan pada status Level IV atau Awas.
Bahkan saat longsoran tubuh gunung memicu tsunami Selat Sunda pada Desember 2018, status aktivitas vulkaniknya tetap berada di Level III atau Siaga. Karena itu, masyarakat diminta tidak menyimpulkan kondisi saat ini berdasarkan pengalaman masa lalu, melainkan mengikuti informasi resmi yang disampaikan pemerintah.
Di tengah peningkatan kewaspadaan tersebut, sektor pariwisata di Anyer dan Carita tetap menunjukkan geliat positif. Sejumlah wisatawan mengaku tetap memilih berlibur karena melihat situasi di lapangan masih aman dan kondusif.
Abdul Malik (42), wisatawan asal Bekasi yang datang bersama rombongan Universitas Pancasila, mengatakan liburannya berjalan lancar tanpa kendala.
“Perjalanannya menyenangkan dan suasana pantainya juga bagus. Saya lihat kondisinya masih aman, belum ada masalah apa-apa,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Marlian (39), warga Tajur Halang, Bogor. Bersama komunitas senam yang berjumlah 28 orang, ia tetap menjalankan agenda wisata meski mengetahui status Gunung Anak Krakatau masih Siaga.
“Kami tetap berangkat karena informasinya aman. Tadi bahkan sempat naik perahu ke tengah laut dan semuanya berjalan lancar,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Jonelisa (18), pelajar asal Nabire, Papua Tengah, yang kini menempuh pendidikan di Tangerang. Bersama keluarganya, ia memilih menikmati liburan di Pantai Carita setelah memastikan kondisi kawasan wisata tetap aman.
Ramainya pengunjung juga dirasakan pelaku usaha setempat. Maria Ulfah, petugas penjualan tiket sekaligus penyewa saung di Pantai Bandulu, mengatakan jumlah wisatawan masih stabil.
Hingga siang hari tercatat sekitar 10 bus rombongan dan 15 kendaraan pribadi memasuki kawasan wisata. Saat akhir pekan, jumlah tersebut biasanya meningkat menjadi 30 hingga 50 bus ditambah puluhan kendaraan pribadi.
“Pengunjung tetap ramai. Penyewaan saung juga berjalan seperti biasa dan sampai sekarang peningkatan status Gunung Anak Krakatau tidak berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan,” ujar Maria.***

