KILAS BANTEN – Deru air Sungai Ayung memecah kesunyian pagi di Ubud, Bali. Perahu-perahu karet meluncur mengikuti arus yang sesekali menghantam bebatuan. Di atasnya, para jurnalis asal Banten berteriak, tertawa, lalu kompak mengayuh dayung agar perahu tetap seimbang.
Selama beberapa jam, profesi seolah tak lagi menjadi sekat. Tak ada ruang konferensi, tak ada podium, apalagi mikrofon. Yang ada hanya sungai, jeram, dan kerja sama.
Pemandangan itu menjadi pembuka rangkaian Capacity Building yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten di Bali pada 22–24 Juli 2026. Program yang diikuti puluhan jurnalis tersebut sengaja dirancang berbeda. BI memilih membangun percakapan melalui pengalaman, bukan sekadar presentasi.
Di salah satu perahu, Taufik Hidayat, jurnalis yang sehari-hari meliput isu ekonomi dan bisnis, menikmati setiap tantangan yang datang bersama derasnya arus.
“Rafting bersama Jurnalis Media Banten di Sobek Bali benar-benar memacu adrenalin. Kegiatan seperti ini menurut saya penting karena menjadi penyegaran sekaligus memperkuat hubungan antara BI Banten dan media,” katanya di sela kegiatan di Sobek Rafting Adventure, Ubud, Kamis, 23 Juli 2026.
Bersama Taufik, terdapat Edwin Mahesa Pardede, Febby Sahri Purnama, A. Hilal Fauzi, Ahmad Haris, hingga Suhedi. Mereka berasal dari berbagai media, tetapi dalam perahu yang sama hanya memiliki satu tujuan: mencapai garis akhir dengan kekompakan.
Barangkali, itulah metafora yang ingin dibangun Bank Indonesia.
—
Malam harinya, suasana berubah menjadi lebih seru dan menarik. Riuh suara air berganti denting musik akustik di New Dewata Cafe, Jimbaran. Permainan, canda, dan kompetisi kostum bertema pelaut membuat forum terasa lebih cair dibanding agenda resmi pemerintahan pada umumnya.
Namun, ketika Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, Sofwan Kurnia, berdiri menyampaikan sambutan, pembicaraan segera bergeser ke isu yang jauh lebih serius: masa depan ekonomi Banten.
Ia membawa kabar yang menurutnya layak disambut dengan optimisme.
Investasi di Provinsi Banten, kata Sofwan, kini menempati peringkat ketiga terbesar secara nasional. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahwa Banten sedang bergerak menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Bagi Sofwan, capaian tersebut tidak akan berarti banyak apabila tidak dibarengi dengan kepercayaan publik. Di sinilah ia melihat media memiliki posisi yang tidak tergantikan.
“Tulisan teman-teman media yang membangun optimisme akan sangat berpengaruh. Investor membutuhkan keyakinan bahwa masyarakat Banten siap menerima investasi dan bertumbuh bersama,” ujarnya, Jumat, 24 Juli 2026.
Ucapan itu bukan sekadar ajakan agar media menulis kabar baik. Sofwan berbicara mengenai pentingnya narasi yang berpijak pada fakta, tetapi tetap mampu membangun harapan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
—
Menurut Sofwan, peran Bank Indonesia juga telah berkembang. Setelah lahirnya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), bank sentral tidak hanya bertugas menjaga stabilitas moneter. Lembaga itu juga mendapat mandat mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja melalui penguatan sinergi dengan pemerintah daerah.
Dalam pandangannya, Banten memiliki modal yang sulit ditandingi banyak daerah lain.
Provinsi ini berada di jantung kawasan aglomerasi Jakarta dengan populasi sekitar 42 juta jiwa. Bandara internasional berada di wilayahnya. Kota-kota modern tumbuh pesat di Tangerang Raya. Kawasan pesisir juga terus berkembang, termasuk proyek waterfront city di PIK 2 yang dirancang terhubung hingga Pantai Carita.
“Tarikannya sekarang bukan lagi ke Bekasi, tetapi ke Banten. Kota-kota modern berkembang di sini. Potensi ini harus terus disampaikan agar masyarakat menyiapkan diri menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi yang lebih besar,” katanya.
Kalimat itu menggambarkan perubahan arah pembangunan yang sedang berlangsung. Jika selama ini kawasan timur Jakarta lebih sering disebut sebagai episentrum pertumbuhan baru, kini Banten mulai mengambil peran yang semakin besar.
—
Di penghujung acara, Sofwan kembali menitipkan harapan kepada para jurnalis yang tergabung dalam Media Banten Jawara. Ia meminta media terus menghadirkan informasi yang edukatif mengenai peluang investasi, perkembangan ekonomi, dan berbagai kebijakan yang dapat meningkatkan kepercayaan pelaku usaha.
Baginya, optimisme bukan sesuatu yang lahir begitu saja. Optimisme dibangun melalui informasi yang akurat, narasi yang bertanggung jawab, dan kolaborasi yang terus dirawat.
Seperti halnya mengarungi jeram, pertumbuhan ekonomi pun membutuhkan arah yang sama. Satu orang mendayung tidak akan membawa perahu melaju jauh. Tetapi ketika semua bergerak dalam irama yang serupa, arus yang paling deras sekalipun dapat dilalui bersama.***

