Forum Nasional di Cirebon, Dekan FUDA UIN Banten Soroti Masa Depan Adab dan Humaniora di Tengah Gempuran Era Siber

Kilas Banten
14 Mei 2026 06:00
4 menit membaca

KILAS BANTEN – Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pengembangan keilmuan Islam dan humaniora di tingkat nasional. Komitmen itu terlihat melalui kehadiran Dekan FUDA UIN Banten, Dr Masykur, dalam Rapat Koordinasi Pra-Forum Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) se-Indonesia yang digelar di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC), pada 11 hingga 13 Mei 2026.

 

Forum tersebut menjadi ruang strategis bagi para dekan, pengelola program studi, asosiasi keilmuan, dan dosen bidang adab-humaniora untuk membahas masa depan pendidikan tinggi Islam di tengah derasnya transformasi digital dan tantangan global.

 

Kegiatan itu tidak hanya menjadi ajang koordinasi antarlembaga pendidikan tinggi Islam. Forum juga menjadi wadah akademik untuk membahas posisi ilmu adab, humaniora, ushuluddin, bahasa, sejarah, peradaban, hingga kepustakawanan di era siber yang terus berkembang cepat.

 

Dalam agenda rapat, peserta membahas sejumlah program penting. Mulai dari Pra Seminar Internasional, Forum Dekan FAH, hingga Kompetisi Ilmiah Internasional Mahasiswa Adab dan Humaniora.

 

Panitia menegaskan forum tersebut diarahkan untuk memperkuat sinergi akademik dan memperluas jejaring kelembagaan bidang adab dan humaniora di tingkat nasional maupun internasional.

 

Dekan FUDA UIN Banten, Dr Masykur, mengatakan forum menghasilkan beberapa keputusan penting yang akan menjadi dasar pelaksanaan agenda lanjutan.

 

“Bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi Seminar Internasional, Kompetisi Ilmiah Internasional Mahasiswa Adab dan Humaniora (KI-IMAH), Forum Dekan FAH, serta forum asosiasi program studi dan asosiasi dosen bidang adab-humaniora,” ujar Dr Masykur dalam keterangannya, Kamis 14 Mei 2026.

 

Forum juga menetapkan agenda utama yang akan berlangsung pada 22 hingga 25 Mei 2026 di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Penetapan jadwal itu menjadi tindak lanjut dari rapat koordinasi pra-forum yang berlangsung selama tiga hari.

 

Tidak hanya membahas teknis kegiatan, forum tersebut juga menjadi ruang konsolidasi gagasan antar fakultas adab dan humaniora dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri di Indonesia.

 

Salah satu poin utama yang menjadi perhatian ialah penetapan tema besar kegiatan, yakni “Revitalisasi Adab dan Humaniora di Era Siber untuk Penguatan Kurikulum Cinta, Ekoteologi, dan Peradaban Bangsa.”

 

Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan kondisi global saat ini. Dunia pendidikan sedang menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi digital, krisis lingkungan, dan tantangan membangun peradaban yang berorientasi pada nilai kemanusiaan.

 

Di tengah perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat, ilmu adab dan humaniora dipandang memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan moral, budaya, dan spiritualitas masyarakat.

 

Forum menilai penguatan adab dan humaniora harus menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran ekologis, memperkuat literasi budaya, serta menjaga nilai etika di tengah arus digitalisasi.

 

Bagi FUDA UIN Banten, tema tersebut sejalan dengan visi fakultas dalam mengembangkan keilmuan Islam dan humaniora berbasis kearifan lokal Banten yang mampu bersaing di tingkat global.

 

Banten sendiri dikenal memiliki warisan sejarah Islam dan tradisi intelektual yang kuat. Mulai dari manuskrip keagamaan, budaya lokal, bahasa, hingga sejarah peradaban Islam Nusantara yang masih terus berkembang.

 

Kekayaan tersebut dinilai perlu dikembangkan melalui pendekatan akademik modern dan berbasis teknologi digital agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

 

Selain itu, forum juga menetapkan tiga kategori utama dalam Kompetisi Ilmiah Internasional Mahasiswa Adab dan Humaniora, yakni writing, reading, dan produk digital.

 

Pembagian kategori itu menunjukkan bahwa mahasiswa bidang adab dan humaniora kini tidak cukup hanya memahami teks secara teoritis. Mereka juga dituntut mampu menulis secara akademik, berpikir kritis, dan menghasilkan karya digital yang kreatif serta inovatif.

 

Forum tersebut turut mengingatkan bahwa fakultas-fakultas adab dan humaniora di lingkungan PTKIN harus bergerak lebih progresif. Perguruan tinggi dinilai tidak cukup hanya mempertahankan eksistensi program studi, tetapi juga harus mampu menjawab perubahan sosial dan perkembangan teknologi global.

 

Lulusan di era siber dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami konteks sosial, menguasai teknologi, serta tetap menjunjung tinggi nilai etik, spiritualitas, dan kebangsaan.

 

Sebagai penutup kegiatan, peserta forum melaksanakan ziarah ke maqbarah Sunan Gunung Djati atau Syarif Hidayatullah di Cirebon. Agenda tersebut menjadi simbol penguatan hubungan antara tradisi akademik dengan akar spiritual dan sejarah Islam Nusantara.

 

Kehadiran Dekan FUDA UIN Banten dalam forum itu menjadi bagian dari komitmen fakultas untuk memperkuat jejaring akademik nasional dan internasional. Selain itu, forum tersebut juga menjadi momentum penting bagi FUDA UIN Banten untuk terus mengembangkan kurikulum, riset, dan pengabdian masyarakat berbasis keilmuan Islam, humaniora, serta tantangan global di era digital.***