Rektor UIN SMH Banten Prof Muhammad Ishom saat menghadiri rapat koordinasi KKN Nusantara 2026 bersama perwakilan PTKIN se-Indonesia di Serang, Banten, Senin 11 Mei 2026KILAS BANTEN – Provinsi Banten resmi ditunjuk menjadi tuan rumah pelaksanaan KKN Nusantara 2026. Program pengabdian mahasiswa tingkat nasional itu akan dipusatkan di kawasan adat Baduy, Kabupaten Lebak. Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam negeri di Indonesia dijadwalkan tinggal bersama masyarakat adat selama kurang lebih 40 hari.
Program tersebut menjadi salah satu agenda nasional terbesar yang digelar UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Persiapan pelaksanaan mulai dimatangkan melalui rapat koordinasi yang berlangsung di Horison Ultima Ratu Serang pada 11 hingga 13 Mei 2026.
Kegiatan itu dihadiri perwakilan dari 58 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia serta jajaran Kementerian Agama Republik Indonesia.
Rektor UIN SMH Banten, Prof Muhammad Ishom, mengatakan pelaksanaan KKN Nusantara 2026 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi dan wajah baru Provinsi Banten kepada mahasiswa dari berbagai daerah.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang memiliki pandangan lama terhadap kawasan Baduy. Padahal saat ini masyarakat adat Baduy sudah berkembang dan semakin dikenal luas, termasuk di media sosial.
“Jangan gambarkan Baduy di Banten seperti zaman dulu. Sekarang masyarakat Baduy sudah berkembang dan dikenal luas. Bahkan ada tokoh-tokoh Baduy yang terkenal di media sosial,” ujar Prof Ishom, Senin 11 Mei 2026.
Ia menjelaskan masyarakat Baduy tetap mempertahankan adat dan tradisi leluhur. Namun mereka juga mulai membuka diri terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Mahasiswa peserta KKN nantinya akan ditempatkan di sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak, termasuk kawasan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Selama menjalani pengabdian, mahasiswa tidak hanya fokus pada program sosial masyarakat, tetapi juga mempelajari pola hidup, budaya, hingga sistem sosial masyarakat adat.
Menurut Prof Ishom, kawasan Baduy dipilih karena memiliki nilai pembelajaran yang kuat. Kawasan tersebut dinilai cocok menjadi laboratorium sosial berbasis ekoteologi atau konsep hubungan manusia dengan alam.
Masyarakat Baduy dikenal memiliki filosofi hidup sederhana dan sangat menjaga kelestarian lingkungan. Nilai tersebut dinilai penting untuk dipelajari mahasiswa di tengah meningkatnya persoalan lingkungan dan kerusakan alam di berbagai daerah.
“Orang Baduy punya prinsip menjaga gunung dan sawah agar tidak dirusak. Nilai-nilai itu penting dipelajari mahasiswa,” katanya.
Ia menambahkan masyarakat Baduy juga memiliki berbagai aturan adat dan pantangan yang masih dijaga ketat hingga saat ini. Karena itu, mahasiswa akan mendapat pembekalan khusus sebelum diterjunkan ke lokasi KKN.
Pembekalan dilakukan agar peserta memahami budaya lokal dan mampu beradaptasi dengan masyarakat setempat tanpa menimbulkan persoalan sosial maupun budaya selama pelaksanaan pengabdian.
Selain menjadi sarana pengabdian masyarakat, KKN Nusantara 2026 juga diharapkan menjadi media promosi budaya dan potensi daerah Banten di tingkat nasional.
Prof Ishom menyebut Banten memiliki sejarah panjang sebagai salah satu wilayah maju di Nusantara sejak masa Kesultanan Banten. Pada era Sultan Ageng Tirtayasa, Banten bahkan dikenal sebagai pusat perdagangan dan lumbung pangan penting di kawasan Asia Tenggara.
Ia mengungkapkan hasil pertanian Banten pada masa lalu pernah dikirim ke sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Thailand dan Kamboja.
“Dulu Banten pernah mengekspor beras ke Thailand dan Kamboja. Sejarah itu menunjukkan Banten pernah menjadi daerah yang sangat maju,” ujarnya.
Selain sejarah besar, Banten juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Mulai dari potensi tambang emas, minyak dan gas, hingga sektor wisata alam dan budaya yang tersebar di berbagai wilayah.
Menurut Prof Ishom, seluruh potensi tersebut perlu diperkenalkan lebih luas agar mampu mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Tambang emas ada, minyak dan gas juga ada. Wisata alam dan budaya juga lengkap. Tinggal bagaimana semua potensi itu dikembangkan,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Litapdimas) Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Dr. Nur Kafid, mengatakan rapat koordinasi menjadi tahapan penting sebelum mahasiswa diterjunkan ke lapangan.
Ia menilai setiap daerah memiliki karakteristik berbeda. Karena itu, peserta KKN perlu memahami kondisi wilayah tujuan sejak awal agar proses pengabdian berjalan lancar.
“Banten tentu memiliki kekhasan yang berbeda dengan daerah lain seperti Jogja, Parepare, atau Surabaya. Karena itu, orientasi awal sangat penting,” kata Nur Kafid.
Ia juga meminta panitia memperhatikan kesiapan teknis mahasiswa selama menjalani KKN di kawasan Baduy. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah akses perjalanan menuju lokasi yang membutuhkan waktu cukup panjang.
Selain itu, keterbatasan sinyal telepon dan internet di beberapa wilayah juga harus diinformasikan sejak awal kepada peserta dan keluarga mahasiswa.
Menurut Nur Kafid, kesiapan fisik dan mental mahasiswa menjadi faktor penting agar proses pengabdian berjalan optimal selama 40 hari di lokasi.
“Hal-hal teknis seperti sinyal handphone, perjalanan, atau kondisi lapangan harus diinformasikan sejak dini supaya peserta siap,” ujarnya.
KKN Nusantara merupakan program kolaboratif perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia yang bertujuan memperkuat pengabdian masyarakat sekaligus membangun wawasan kebangsaan mahasiswa melalui interaksi lintas budaya dan daerah.
Pelaksanaan KKN Nusantara 2026 di kawasan Baduy diharapkan tidak hanya memperkuat nilai pengabdian mahasiswa, tetapi juga memperkenalkan budaya adat dan potensi besar Banten kepada masyarakat nasional.***