Tim PTKIN se-Indonesia bersama Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama saat melakukan visitasi dan pemetaan sosial di kawasan Baduy, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.KILAS BANTEN – Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, mulai dipersiapkan menjadi pusat pembelajaran sosial dan budaya nasional melalui program KKN Nusantara 2026. Perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI bersama Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten turun langsung melakukan visitasi dan pemetaan sosial di kawasan tersebut, Selasa, 12 Mei 2026 kemarin.
Kegiatan itu menjadi langkah strategis untuk memastikan kesiapan lokasi pengabdian mahasiswa sebelum program nasional tersebut dilaksanakan pada pertengahan tahun depan. Leuwidamar dipilih karena dinilai memiliki kekuatan budaya, sosial, dan lingkungan yang masih terjaga kuat, terutama di kawasan masyarakat adat Baduy.
Rombongan dipimpin Kepala Subdirektorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Litapdimas) Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Dr. Nur Kafid. Dalam keterangannya, ia menilai konsep ekoteologi yang saat ini menjadi fokus Kementerian Agama sangat relevan diterapkan di wilayah Leuwidamar.
Menurut Nur Kafid, kawasan tersebut bukan hanya menyimpan kekayaan alam yang masih lestari, tetapi juga menjadi ruang hidup masyarakat adat Baduy yang konsisten menjaga tradisi dan keseimbangan lingkungan.
“Mahasiswa yang datang ke sini nantinya bukan hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga belajar secara langsung bagaimana masyarakat menjaga harmoni dengan alam, merawat lingkungan, sekaligus mempertahankan identitas budaya,” ujar Nur Kafid.
Ia menjelaskan, KKN Nusantara 2026 akan menjadi ruang pembelajaran lintas budaya bagi mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Program itu tidak hanya berfokus pada pengabdian masyarakat, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal yang masih bertahan di tengah modernisasi.
Dalam kegiatan tersebut, peserta visitasi juga mendapatkan penjelasan langsung dari Medi, Sekretaris Desa Kanekes yang berasal dari komunitas Baduy.
Ia memaparkan kondisi sosial masyarakat adat Baduy yang hingga kini tetap memegang teguh adat istiadat warisan leluhur.
Menurut Medi, jumlah warga Baduy saat ini mencapai sekitar 5.300 jiwa. Mereka tinggal di wilayah seluas kurang lebih 5.537 hektar yang tersebar di 68 kampung di kawasan Kanekes, Kecamatan Leuwidamar.
Ia menjelaskan, masyarakat Baduy memiliki pola kehidupan yang berbeda dengan masyarakat modern. Pendidikan formal, khususnya di wilayah Baduy Dalam, belum menjadi bagian dari sistem sosial mereka.
Selain itu, aktivitas masyarakat Baduy Dalam hingga kini masih mengandalkan berjalan kaki untuk mobilitas sehari-hari. Sementara dalam pelayanan kesehatan, sebagian warga tetap memanfaatkan pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Meski hidup dengan kesederhanaan, masyarakat Baduy dikenal sangat menjaga kelestarian alam. Hutan dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam menopang kehidupan mereka.
“Masyarakat Baduy sangat menjaga alam karena kehidupan mereka bergantung pada kelestarian lingkungan,” kata Medi, dalam keterangannya, Rabu, 13 Mei 2026.
Kondisi tersebut menjadi alasan kuat bagi Kementerian Agama dan PTKIN menjadikan Leuwidamar sebagai lokasi strategis KKN Nusantara 2026. Kawasan ini dinilai memiliki potensi besar sebagai laboratorium sosial, budaya, dan lingkungan bagi mahasiswa dari seluruh Indonesia.
Selama satu hari penuh, peserta melakukan observasi lapangan dan berdialog dengan masyarakat setempat. Setelah itu, seluruh peserta melanjutkan rapat koordinasi untuk mematangkan konsep dan desain program KKN Nusantara 2026.
Program nasional tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 15 Juli hingga 23 Agustus 2026. Kehadiran mahasiswa dari berbagai daerah diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat adat, dan upaya pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal.
Leuwidamar kini tidak hanya dipandang sebagai kawasan adat yang kaya budaya, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran kehidupan harmonis antara manusia dan alam di tengah tantangan modernisasi.***