Banten

Pemuda Asal Banten Terpilih Wakili Indonesia di Konferensi Imam Dunia 2026, Bertemu Ulama dari 46 Negara

×

Pemuda Asal Banten Terpilih Wakili Indonesia di Konferensi Imam Dunia 2026, Bertemu Ulama dari 46 Negara

Sebarkan artikel ini
Achmad Syarif, pemuda asal Serang, Banten, saat mengikuti International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta bersama para imam dan ulama dari puluhan negara, Kamis, 1 Oktober 2026.
Achmad Syarif, pemuda asal Serang, Banten, saat mengikuti International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta bersama para imam dan ulama dari puluhan negara, Kamis, 1 Oktober 2026.

KILAS BANTEN – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra daerah Banten. Achmad Syarif, pemuda asal Kabupaten Serang, dipercaya menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 25-27 September 2026.

Keikutsertaan Achmad Syarif dalam forum internasional tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Banten.

Saat ini ia mengabdikan diri sebagai khodim di Yayasan Pendidikan Islam Daarul Ma’arij. Selain itu, ia juga aktif berdakwah dan berkontribusi di bidang pendidikan Islam.

Bagi Syarif, kesempatan menghadiri konferensi imam tingkat dunia itu menjadi momentum penting dalam perjalanan pengabdian serta pengembangan ilmu keislaman yang selama ini ia tekuni.

IGIC 2026 menghadirkan imam besar dari 46 negara. Forum tersebut disebut sebagai konferensi imam masjid berskala internasional pertama di dunia.

Dalam kesempatan itu, Indonesia juga ditetapkan sebagai sekretariat permanen The International Assembly of Mosque Imams (IAMI). Penetapan tersebut menjadi pencapaian penting dalam diplomasi keagamaan Indonesia di tingkat global.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa kehadiran para imam besar dari berbagai negara menunjukkan tingginya kepercayaan dunia terhadap Indonesia sebagai pusat dialog dan kerja sama keagamaan.

Menurutnya, di sejumlah negara seperti Mesir dan Arab Saudi, imam besar memiliki kedudukan yang sangat strategis. Karena itu, setiap kunjungan mereka biasanya mendapat penghormatan melalui protokol kenegaraan.

Konferensi tersebut diikuti peserta dari berbagai belahan dunia. Imam besar dari masjid terbesar di Roma, Italia, turut hadir bersama delegasi dari Argentina, negara-negara Skandinavia, Prancis, Inggris, Uzbekistan, Pakistan, India, Malaysia, dan berbagai negara lainnya.

Sementara dari Indonesia, peserta berasal dari pengurus Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) serta para imam besar dari berbagai provinsi.

Baca Juga  Tragis! 9 Jiwa di Pabuaran Bertahan di Rumah Nyaris Ambruk, Lansia Sakit Terlantar Tanpa Perawatan

Achmad Syarif mengaku sangat bersyukur dapat menjadi bagian dari forum bergengsi tersebut. Ia mengatakan kesempatan itu merupakan anugerah yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya.

“Saya sangat bersyukur kepada Allah. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa keberkahan Al-Qur’an dan kemampuan bahasa Arab yang terus saya pelajari bisa mengantarkan saya sampai pada kesempatan seperti ini, hadir dalam konferensi imam internasional yang diikuti para ulama dan imam dari berbagai negara,” ujar Syarif, Kamis, 1 Oktober 2026.

Ia menegaskan keberhasilannya tidak diraih seorang diri. Menurutnya, doa kedua orang tua, bimbingan para guru, serta ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan menjadi fondasi utama hingga mampu meraih kesempatan tersebut.

“Saya menyadari bahwa ini bukan semata-mata karena kemampuan saya. Ada keberkahan doa dan pengorbanan orang tua, ada guru-guru saya di Pesantren Daarul Falah yang telah mendidik dan membimbing, serta para dosen dan ahlul Qur’an di Universitas PTIQ Jakarta yang memberikan ilmu dan membuka wawasan saya tentang Al-Qur’an dan bahasa Arab,” tuturnya.

Syarif berharap pengalaman mengikuti IGIC 2026 menjadi motivasi untuk terus memperdalam ilmu, memperkuat dakwah, dan memberikan manfaat yang lebih luas melalui dunia pendidikan.

Ia juga ingin pertemuan dengan para imam dan ulama dari berbagai negara dapat memperluas wawasan, mempererat ukhuwah Islamiyah, sekaligus menjadi bekal untuk terus mengabdi kepada masyarakat.

“Semoga kesempatan ini bukan hanya menjadi pengalaman untuk diri saya, tetapi menjadi amanah agar saya semakin semangat belajar, berkhidmat, dan memberikan manfaat. Semoga Allah menjaga hati agar tetap rendah hati, menjadikan ilmu yang dipelajari bermanfaat, dan memberikan kesempatan untuk terus berkhidmat kepada agama, masyarakat, dan bangsa,” pungkasnya.***