Gubernur Banten Andra Soni menghadiri rangkaian kegiatan International Grand Imams Conference (IGIC) di Kabupaten Tangerang sekaligus menyampaikan dukungannya agar forum tersebut menjadi wadah diplomasi Islam untuk memperkuat perdamaian dunia.KILAS BANTEN – Pemerintah Provinsi Banten menaruh harapan besar terhadap penyelenggaraan International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 sebagai forum internasional yang mampu memperkuat diplomasi keagamaan dan mendorong terciptanya perdamaian dunia. Gubernur Banten Andra Soni menilai konferensi tersebut dapat menjadi ruang dialog strategis bagi para tokoh agama dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Pernyataan itu disampaikan Andra Soni saat menghadiri rangkaian kegiatan IGIC di Masjid Baitul Mukhtar, BSD, Kabupaten Tangerang. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Imam Masjid se-Provinsi Banten serta pelantikan Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Provinsi Banten oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Andra Soni mengatakan dunia saat ini menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Konflik bersenjata di berbagai kawasan, meningkatnya polarisasi sosial, perubahan iklim, hingga degradasi moral menjadi tantangan bersama yang membutuhkan solusi dari berbagai sektor.
Menurutnya, penyelesaian berbagai persoalan global tidak cukup hanya mengandalkan diplomasi politik maupun jalur pemerintahan. Pendekatan keagamaan dinilai memiliki peran penting dalam membangun komunikasi, mempererat persaudaraan antarbangsa, sekaligus menumbuhkan semangat perdamaian.
“Eskalasi geopolitik dunia yang semakin tinggi akibat perang antarnegara, polarisasi sosial yang begitu tinggi, perubahan iklim sampai degradasi moral menjadi tantangan yang memerlukan solusi lintas sektor, lintas bangsa serta pendekatan agama,” ujar Andra Soni, Sabtu (4/7/2026).
Ia menegaskan IGIC 2026 memiliki posisi strategis sebagai forum yang dapat menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang damai dan membawa manfaat bagi seluruh umat manusia. Menurutnya, Islam mengajarkan persaudaraan, toleransi, dan penghormatan terhadap sesama yang sangat relevan untuk menjawab tantangan dunia saat ini.
Andra Soni juga menilai masyarakat internasional membutuhkan lebih banyak ruang dialog yang terbuka. Kehadiran tokoh agama dinilai mampu memperkuat semangat persatuan sekaligus membangun saling pengertian di tengah beragam perbedaan budaya, bangsa, maupun keyakinan.
Ia optimistis penyelenggaraan IGIC 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 25-30 September 2026 di Jakarta dan Palembang akan menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai pusat diplomasi keagamaan dunia.
Selain membahas isu perdamaian global, forum tersebut juga diharapkan mempererat jaringan imam masjid dari berbagai negara sehingga kerja sama lintas negara dapat semakin berkembang melalui pendekatan spiritual.
Dalam kesempatan itu, Andra Soni turut menegaskan bahwa masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar tempat ibadah. Menurutnya, masjid juga menjadi pusat pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga tempat lahirnya para pemimpin yang membawa perubahan positif.
“Masjid menjadi pusat pendidikan, pelayanan sosial, pusat ekonomi, dan dari masjid pula lahir pemimpin-pemimpin hebat,” katanya.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan komitmennya untuk menjadikan IGIC sebagai forum internasional yang berfokus pada diplomasi perdamaian melalui pendekatan agama dan spiritual.
Nasaruddin menilai berbagai konflik yang masih terjadi di sejumlah negara menunjukkan bahwa upaya diplomasi politik belum sepenuhnya mampu menghadirkan penyelesaian yang menyeluruh. Karena itu, pendekatan spiritual dinilai dapat menjadi pelengkap dalam membangun perdamaian yang lebih berkelanjutan.
“Makanya kita akan coba melalui pendekatan agama, pendekatan spiritual,” ujar Nasaruddin.
Menteri Agama yang juga menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan Ketua Umum IPIM itu turut mengapresiasi pelaksanaan MTQ khusus imam masjid di Provinsi Banten.
Menurutnya, program tersebut merupakan inovasi yang layak diterapkan di berbagai daerah karena mampu meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an para imam sekaligus memperkuat pelayanan keagamaan kepada masyarakat.
Ia juga mengungkapkan tingginya antusiasme peserta. Hingga pelaksanaan kegiatan, jumlah pendaftar MTQ imam masjid telah melampaui 200 orang. Angka tersebut dinilai menjadi bukti besarnya semangat para imam dalam meningkatkan kompetensi dan memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat.
“Saya juga kaget, ternyata peserta yang mendaftar begitu banyak, sudah lebih dari 200 orang. Ini artinya, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan seperti ini begitu tinggi,” tuturnya.
Melalui penyelenggaraan IGIC 2026, pemerintah berharap Indonesia semakin dikenal sebagai pusat diplomasi keagamaan di tingkat internasional. Forum ini juga diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat kerja sama antarnegara, memperluas dialog lintas agama, serta menghadirkan solusi damai terhadap berbagai konflik global yang masih berlangsung.***