KILAS BANTEN – Ribuan alumni Pondok Pesantren Assalafie Assalafiat Babakan Ciwaringin memadati Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu, 11 April 2026. Kehadiran sekitar 2.500 peserta dari berbagai daerah menjadi bukti kuatnya jaringan alumni pesantren. Mereka mengikuti Silaturrahim Nasional (Silatnas) Ikatan Alumni Assalafie-Assalafiat (IKTASA) yang dirangkai dengan Pengaosan ke-100 serta pengukuhan pengurus pusat masa khidmah 2025–2030.
Kegiatan ini menjadi momen penting untuk memperkuat konsolidasi alumni. Panitia mengangkat tema “Merajut Ukhuwah, Menguatkan Sanad Keilmuan dan Meneguhkan Langkah Bersama Dalam Keberkahan”. Tema tersebut mencerminkan tekad bersama untuk menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus memperluas kontribusi di tengah masyarakat.
Dalam tausiyahnya, Dr. KH. Manarul Hidayat menekankan pentingnya menjaga nilai dasar pesantren. Ia mengingatkan tiga peran utama pesantren yang harus terus dijalankan, yakni pendidikan, dakwah, dan pengabdian.
“Jika tiga peran ini dijalankan dengan baik, maka alumni pesantren akan terus memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.
Acara ini juga dihadiri para pengasuh pesantren. KH. Azka Hammam Syaerozie memimpin pembacaan kitab Mauidzotul Mu’minin.
Ia kemudian memberikan ijazah Hadiyu kepada peserta. Prosesi ini menegaskan kesinambungan sanad keilmuan yang menjadi ciri khas tradisi pesantren.
KH. Aziz Hakim Syaerozie dalam sambutannya menyoroti pentingnya menjaga hubungan antaralumni. Ia menyebut silaturahmi sebagai kekuatan sosial yang mampu memperbesar kontribusi alumni.
Menurutnya, jaringan yang solid akan melahirkan kerja sama yang berdampak luas bagi masyarakat dan bangsa.
Selain itu, Silatnas IKTASA juga menjadi ajang regenerasi kepemimpinan. Jabatan Ketua Umum resmi diserahterimakan dari KH. Asep Saefullah kepada Dr. H. Solichin. Prosesi pengukuhan ditandai dengan pembacaan ikrar yang dipimpin oleh KH. Arwani Syaerozi. Pergantian ini diharapkan membawa energi baru bagi organisasi dalam menjalankan program ke depan.
Secara historis, pesantren memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejak masa perjuangan kemerdekaan, pesantren aktif menanamkan nilai nasionalisme dan moral. Hingga kini, pesantren tetap menjadi pusat pendidikan karakter dan penguatan nilai keislaman yang moderat.
Kegiatan ini menegaskan bahwa alumni pesantren merupakan kekuatan sosial yang tidak bisa diabaikan. Dengan jaringan luas dan nilai yang kuat, mereka memiliki potensi besar dalam menjawab tantangan zaman. Konsolidasi yang terbangun dalam forum ini menjadi modal penting untuk memperkuat peran tersebut.
Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Suasana hangat terlihat saat para alumni saling berinteraksi. Silatnas ini tidak hanya menjadi ajang reuni, tetapi juga langkah strategis untuk memperkuat kontribusi alumni pesantren dalam membangun Indonesia yang berkarakter dan berdaya saing.***

