Daging Kurban Bau Prengus dan Alot? Ini Rahasia Mengolah Daging Iduladha Jadi Empuk dan Lezat

Kilas Banten
29 Mei 2026 22:00
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Perayaan Iduladha selalu identik dengan melimpahnya daging kurban di tengah masyarakat. Momen ini bukan hanya menjadi bentuk ibadah dan kepedulian sosial, tetapi juga kesempatan berkumpul bersama keluarga sambil menikmati aneka olahan daging sapi maupun kambing.

 

Namun di balik suasana hangat tersebut, banyak warga masih menghadapi masalah saat mengolah daging kurban. Tekstur yang alot hingga aroma prengus pada daging kambing sering menjadi keluhan utama. Akibatnya, masakan terasa kurang nikmat dan sulit diolah.

 

Padahal, dengan teknik yang tepat, daging kurban bisa diolah menjadi sajian empuk, lezat, dan tetap higienis. Beberapa langkah sederhana bahkan mampu menjaga kualitas daging lebih lama tanpa mengurangi cita rasanya.

 

Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan masyarakat adalah langsung mencuci daging mentah sebelum disimpan. Banyak orang menganggap langkah itu membuat daging lebih bersih. Faktanya, kebiasaan tersebut justru dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan memicu pembusukan.

 

Jika daging belum akan dimasak, masyarakat disarankan tidak mencucinya terlebih dahulu. Cukup bersihkan bagian kotor menggunakan tisu atau lap bersih. Setelah itu, potong sesuai kebutuhan lalu simpan dalam wadah tertutup rapat sebelum dimasukkan ke freezer.

 

Cara tersebut dinilai lebih efektif menjaga kesegaran daging dalam waktu lebih lama. Selain itu, kualitas tekstur daging juga tetap terjaga ketika akan diolah kembali.

 

Masalah lain yang sering muncul saat Iduladha adalah bau prengus pada daging kambing. Aroma khas ini membuat sebagian orang enggan memasaknya karena dianggap terlalu menyengat.

 

Untuk mengurangi bau tersebut, daging kambing sebaiknya tidak dicuci menggunakan air. Sebagai gantinya, masyarakat bisa melumuri daging dengan air perasan jeruk nipis. Cara lain yang cukup populer adalah membungkus daging menggunakan daun pepaya selama 20 hingga 30 menit.

 

Selain membantu mengurangi aroma prengus, daun pepaya juga dipercaya dapat membantu melunakkan serat daging. Hasilnya, tekstur daging menjadi lebih empuk saat dimasak.

 

Pemanfaatan rempah-rempah juga menjadi solusi alami yang banyak digunakan masyarakat. Jahe, serai, kemangi, ketumbar, hingga daun salam mampu membantu menyamarkan aroma amis dan membuat masakan lebih harum.

 

Penggunaan rempah yang tepat tidak hanya meningkatkan aroma, tetapi juga memperkaya cita rasa masakan khas Iduladha seperti gulai, sate, tongseng, maupun rendang.

 

Teknik memasak juga berpengaruh besar terhadap hasil akhir daging. Banyak orang memilih menggunakan panci presto agar daging cepat empuk. Namun, ada metode sederhana yang bisa dilakukan tanpa alat khusus.

 

Metode rebus 5-30-7 kini banyak digunakan karena dianggap praktis dan hemat gas. Caranya cukup mudah. Daging direbus selama lima menit dalam air mendidih. Setelah itu api dimatikan dan panci didiamkan selama 30 menit dalam keadaan tertutup. Selanjutnya, daging direbus kembali selama tujuh menit.

 

Teknik tersebut dipercaya mampu membuat serat daging lebih lunak tanpa harus direbus terlalu lama. Hasilnya, daging terasa lebih empuk saat disantap.

 

Saat perebusan berlangsung, biasanya muncul busa putih di permukaan air. Buih itu berasal dari sisa darah dan kotoran yang menempel pada daging.

 

Masyarakat dianjurkan segera membuang busa tersebut agar kuah tetap bening dan tidak berbau amis. Langkah sederhana ini juga membantu meningkatkan kualitas rasa masakan.

 

Di sisi lain, masyarakat tetap perlu memperhatikan pola konsumsi selama Iduladha. Daging merah mengandung lemak dan kolesterol cukup tinggi jika dikonsumsi berlebihan.

 

Karena itu, menu berbahan daging sebaiknya diimbangi dengan sayur dan buah. Konsumsi makanan bersantan juga perlu dibatasi agar kesehatan jantung dan kadar kolesterol tetap terjaga.

 

Dengan teknik pengolahan yang benar, daging kurban tidak hanya terasa lebih nikmat, tetapi juga aman dikonsumsi seluruh anggota keluarga. Momentum Iduladha pun bisa dirayakan dengan lebih sehat, hangat, dan penuh kebersamaan.***