Gunung Kaupas Padarincang Ambruk Tiba-tiba, Longsor Mendadak Picu Kepanikan Warga Kabupaten Serang

Kilas Banten
8 Jan 2026 07:00
Serang 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Bencana longsor mendadak terjadi di kawasan Gunung Kaupas, Kampung Cibodas, Desa Kadubeureum, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Banten, Selasa, 6 Januari 2026. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 10.00 WIB dan langsung memicu kepanikan warga yang berada di sekitar lokasi.

 

Longsor terjadi secara tiba-tiba di salah satu sisi lereng Gunung Kaupas. Material tanah dan batu runtuh disertai suara keras. Warga yang berada tidak jauh dari lokasi langsung berlarian menjauh untuk menyelamatkan diri. Situasi tersebut terekam dalam sejumlah video yang kemudian beredar luas melalui pesan berantai WhatsApp.

 

Dalam rekaman video yang beredar, terdengar suara warga yang meneriakkan informasi longsor sambil berlari meninggalkan area lereng. Kepanikan terlihat jelas karena tidak ada tanda-tanda awal sebelum longsor terjadi. Warga khawatir runtuhan susulan dapat terjadi sewaktu-waktu.

 

Informasi awal mengenai peristiwa ini dengan cepat menyebar di tengah masyarakat. Sejumlah warga mengaku mengetahui kejadian tersebut dari pesan singkat dan video yang diteruskan di grup percakapan. Dalam video lain, tampak aparat gabungan dari Polsek dan Koramil Padarincang sudah berada di lokasi untuk melakukan pengecekan awal.

 

Petugas gabungan langsung mengamankan area sekitar dan memastikan kondisi lapangan. Aparat juga memantau kemungkinan adanya warga yang berada terlalu dekat dengan titik longsor. Langkah ini dilakukan untuk mencegah risiko lanjutan jika terjadi pergerakan tanah susulan.

 

Seorang anggota aparat yang berada di lokasi menjelaskan bahwa longsor terjadi sekitar pukul 10.00 WIB dan menyebabkan warga panik. Ia menyebutkan, petugas langsung bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat.

 

“Kami langsung melakukan pengecekan ke lokasi untuk memastikan kondisi dan melihat apakah ada korban jiwa,” ujarnya dalam rekaman video yang beredar.

 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang membenarkan kejadian longsor tersebut. Anggota Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Serang, Jhonny E Wangga, mengatakan pihaknya menerima laporan tidak lama setelah kejadian dan segera mengirimkan tim ke lokasi.

 

Menurut Jhonny, hasil pengecekan sementara memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa longsor di Gunung Kaupas. Ia menjelaskan bahwa jarak antara titik longsor dengan permukiman warga cukup jauh, yakni sekitar satu kilometer, sehingga tidak berdampak langsung terhadap rumah penduduk.

 

“Tim sudah turun ke lapangan. Sampai saat ini belum ada laporan korban jiwa,” kata Jhonny saat dikonfirmasi.

 

Meski tidak menimbulkan korban, BPBD Kabupaten Serang tetap mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Jhonny menegaskan, kondisi Gunung Kaupas masih berpotensi mengalami longsor susulan, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.

 

Ia menjelaskan, kontur Gunung Kaupas berupa lereng yang cukup curam. Kondisi tersebut membuat tanah rentan bergerak saat jenuh air. Faktor curah hujan menjadi salah satu pemicu utama terjadinya longsor di wilayah tersebut.

 

“Potensi longsor susulan masih ada. Terutama jika terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, karena kontur gunung berupa lereng curam,” ujarnya.

 

BPBD Kabupaten Serang mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi longsor dan tetap mematuhi arahan petugas. Warga juga diminta memantau informasi resmi dari pemerintah daerah dan BPBD terkait perkembangan situasi di Gunung Kaupas.

 

Selain itu, BPBD meminta aparat desa dan kecamatan untuk aktif menyosialisasikan potensi bencana kepada warga sekitar. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi risiko korban jika terjadi longsor lanjutan.

 

Peristiwa longsor di Gunung Kaupas menjadi pengingat akan tingginya kerawanan bencana di wilayah dengan kontur perbukitan dan lereng curam. Pemerintah daerah diharapkan terus meningkatkan mitigasi bencana serta kesiapsiagaan masyarakat, khususnya di musim hujan yang berpotensi memicu pergerakan tanah.