Suasana Kenduri Festival Volume 3 di Lapangan Al-Azhar Bintaro menampilkan pertunjukan seni budaya yang dipadukan dengan kampanye gaya hidup ramah lingkungan.KILAS BANTEN – Kenduri Festival Volume 3 kembali menyedot perhatian masyarakat Pondok Karya, Tangerang Selatan. Festival tahunan yang berlangsung di Lapangan Al-Azhar Bintaro itu tampil berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Tahun ini, panitia memadukan pelestarian seni budaya dengan kampanye gaya hidup ramah lingkungan melalui tema green habit.
Konsep tersebut menjadi warna baru dalam pelaksanaan festival. Jika pada dua edisi sebelumnya kegiatan lebih berfokus pada pelestarian budaya, kali ini masyarakat juga diajak membangun kebiasaan menjaga lingkungan melalui langkah-langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Pelaksana Kenduri Festival, Budi Setiadi, mengatakan tema green habit dipilih sebagai upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di wilayah Pondok Karya dan Kota Tangerang Selatan.
“Tahun ini berbeda karena membawa tema green habit atau budaya ramah lingkungan, untuk menjaga lingkungan seperti memilah sampah, juga melestarikan lingkungan di Tangerang Selatan, khususnya Pondok Karya,” ujar Budi, Minggu (5/7/2026).
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengurangi pencemaran merupakan langkah awal yang dapat dilakukan seluruh masyarakat. Melalui festival tersebut, panitia ingin mengajak warga menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari budaya sehari-hari.
Panitia menilai pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan memiliki keterkaitan yang erat. Keduanya sama-sama menjadi warisan yang harus dijaga agar tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Meski mengusung kampanye lingkungan, Kenduri Festival tetap mempertahankan identitasnya sebagai panggung bagi seni dan budaya lokal. Berbagai pertunjukan tradisional ditampilkan untuk menghibur sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat dari berbagai kalangan.
Sejumlah penampilan berhasil memikat perhatian pengunjung. Mulai dari tari tradisional, pencak silat, barongsai, hingga pertunjukan lenong tampil bergantian sepanjang acara. Ragam atraksi tersebut mencerminkan keberagaman budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Pondok Karya.
Festival ini juga menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas budaya. Kehadiran para seniman dan pelaku budaya menunjukkan bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat di tengah perkembangan zaman.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap para pelestari budaya, panitia kembali menyerahkan Tokoh Budaya Award kepada sejumlah budayawan yang dinilai memiliki dedikasi besar dalam menjaga, mengembangkan, dan melestarikan budaya lokal di wilayah Pondok Karya.
Budi menilai penghargaan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh yang selama ini konsisten merawat warisan budaya daerah. Peran mereka dinilai sangat penting dalam menanamkan nilai budaya kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Selain menjadi ajang hiburan, Kenduri Festival juga diharapkan mampu mempererat hubungan sosial antarwarga. Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang menjadi bukti bahwa budaya mampu menjadi perekat persatuan sekaligus memperkuat rasa kebersamaan.
Panitia memastikan Kenduri Festival akan kembali digelar pada tahun mendatang. Berbagai inovasi akan terus disiapkan agar festival semakin menarik tanpa meninggalkan tujuan utamanya, yakni melestarikan budaya sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Budi berharap generasi muda dapat mengambil peran lebih besar dalam menjaga identitas budaya daerah. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan semakin sadar pentingnya membangun kebiasaan ramah lingkungan demi menciptakan kawasan yang bersih, sehat, dan nyaman.
“Harapannya, budaya lokal semakin dikenal dan terus dijaga oleh para pemuda Pondok Karya sebagai perekat persatuan masyarakat. Melalui Kenduri Festival, kami juga berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan semakin tumbuh,” tuturnya.
Melalui perpaduan antara pertunjukan budaya dan kampanye peduli lingkungan, Kenduri Festival Volume 3 membuktikan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga alam. Kolaborasi tersebut menjadi contoh bahwa budaya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi media edukasi untuk membangun kebiasaan positif di tengah masyarakat.***