Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Perspektif Pendidikan

Kilas Banten
1 Jul 2026 20:38
Opini 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Pernyataan seorang wakil rakyat yang merendahkan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memunculkan keprihatinan di tengah masyarakat akademik. Di ruang publik, kritik merupakan hal yang lumrah. Namun, ketika kritik berubah menjadi generalisasi yang merendahkan sebuah komunitas akademik, persoalannya tidak lagi sekadar perbedaan pendapat, melainkan menyangkut penghormatan terhadap dunia pendidikan dan kesetaraan kesempatan bagi setiap mahasiswa.

 

PTKIN merupakan bagian integral dari sistem pendidikan tinggi nasional. Kehadirannya tidak hanya berperan mencetak sarjana di bidang keislaman, tetapi juga melahirkan lulusan dari berbagai disiplin ilmu, seperti ekonomi, hukum, sains, teknologi, kesehatan, hingga ilmu sosial. Dalam beberapa dekade terakhir, transformasi PTKIN menunjukkan bahwa kampus-kampus ini terus berkembang menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang kompetitif.

 

Prestasi mahasiswa dan dosen PTKIN juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Berbagai kompetisi ilmiah, riset internasional, inovasi teknologi, hingga pengabdian masyarakat telah menunjukkan bahwa kualitas akademik tidak ditentukan oleh label institusi semata. Banyak alumni PTKIN yang berkiprah sebagai akademisi, birokrat, hakim, diplomat, pengusaha, jurnalis, maupun tokoh masyarakat yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

 

Oleh karena itu, pernyataan yang merendahkan mahasiswa PTKIN lebih mencerminkan prasangka daripada penilaian yang berbasis fakta. Prasangka lahir ketika seseorang menyimpulkan sesuatu tanpa memahami realitas secara utuh. Dalam konteks pendidikan, prasangka seperti ini berbahaya karena dapat memperkuat stereotip dan menghambat terciptanya ekosistem akademik yang sehat, inklusif, dan saling menghargai.

 

Sebagai wakil rakyat, setiap pejabat publik memiliki tanggung jawab moral untuk membangun optimisme generasi muda, bukan justru meruntuhkan kepercayaan diri mereka. Mahasiswa, dari kampus mana pun, adalah aset bangsa yang sedang mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. Mereka membutuhkan ruang untuk tumbuh melalui apresiasi, kritik yang membangun, dan kesempatan yang setara, bukan stigma yang mendiskreditkan identitas akademiknya.

 

Pendidikan tinggi pada hakikatnya bukanlah arena untuk membandingkan siapa yang lebih unggul berdasarkan asal perguruan tinggi. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap institusi mampu menghasilkan lulusan yang berintegritas, kompeten, berpikir kritis, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Dalam konteks ini, PTKIN telah menunjukkan komitmennya melalui berbagai inovasi kurikulum, peningkatan kualitas riset, dan penguatan kolaborasi dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional.

 

Perbedaan karakter antarperguruan tinggi seharusnya dipandang sebagai kekayaan ekosistem pendidikan Indonesia. Universitas umum, perguruan tinggi vokasi, sekolah tinggi, maupun PTKIN memiliki mandat dan keunggulan masing-masing. Tidak ada alasan untuk menempatkan satu institusi lebih rendah hanya karena sejarah, nomenklatur, atau orientasi keilmuannya. Justru keberagaman itulah yang memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia.

 

Momentum ini hendaknya menjadi pengingat bahwa narasi publik yang dibangun oleh para pemimpin memiliki dampak yang luas. Kata-kata yang diucapkan seorang wakil rakyat dapat membentuk persepsi masyarakat, memengaruhi semangat belajar mahasiswa, bahkan menentukan arah diskursus tentang pendidikan nasional. Karena itu, setiap pernyataan sepatutnya lahir dari pemahaman yang utuh, penghormatan terhadap fakta, dan komitmen untuk memajukan pendidikan.

 

Stereotip negatif terhadap PTKIN harus diakhiri. Kita harus satu perspektif bahwa yang dibutuhkan bangsa ini bukanlah prasangka terhadap PTKIN, melainkan pengakuan atas prestasi, kerja keras, dan dedikasi seluruh sivitas akademika. Pendidikan akan maju ketika setiap anak bangsa diberi kesempatan yang sama untuk berkembang, dihargai berdasarkan kapasitas dan kontribusinya, bukan dinilai dari stereotip yang melekat pada nama kampusnya.

 

*) Opini ini ditulis oleh Prof Muhammad Ishom, Guru Besar dan Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

 

**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Kilas Banten.