Advertisement
Opini

66 Tahun PMII: Dari Rahim NU hingga Melahirkan Deretan Tokoh Nasional, Begini Jejak Perjuangannya Membangun Indonesia

Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia konsisten mencetak kader yang berkiprah di bidang akademik, pemerintahan, politik, hingga pesantren. (Redaksi Kilas Banten)
Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia konsisten mencetak kader yang berkiprah di bidang akademik, pemerintahan, politik, hingga pesantren. (Redaksi Kilas Banten)

KILAS BANTEN – Sejarah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memasuki usia ke-66 sebagai salah satu organisasi mahasiswa Islam terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.

Selama lebih dari enam dekade, organisasi ini konsisten menjadi wadah kaderisasi yang melahirkan banyak pemimpin di berbagai bidang, mulai dari akademisi, birokrat, politisi, hingga tokoh pesantren.

Sejak berdiri pada 17 April 1960 di Surabaya, PMII terus berkembang mengikuti dinamika bangsa. Organisasi ini tidak hanya fokus membentuk mahasiswa yang memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang menjadi fondasi perjuangannya.

Perjalanan panjang PMII memperlihatkan bagaimana organisasi tersebut mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Berbagai tantangan politik, sosial, hingga perkembangan teknologi tidak mengubah komitmennya dalam mencetak generasi muda yang berintegritas.

Lahir sebagai Jawaban atas Tantangan Bangsa

Memimpin dengan Hati Tapi Tetap Dibenci

PMII resmi berdiri pada 17 April 1960 di Surabaya. Mahbub Djunaidi dipercaya menjadi Ketua Umum pertama sekaligus memimpin arah perjuangan organisasi pada masa awal pembentukannya.

Kelahiran PMII bukan sekadar membentuk organisasi mahasiswa baru. Saat itu, Indonesia sedang menghadapi dinamika politik yang cukup kompleks. Kondisi tersebut mendorong munculnya kebutuhan akan organisasi yang mampu membina mahasiswa sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan dan keislaman.

Sejumlah mahasiswa yang memiliki latar belakang Nahdlatul Ulama (NU) melihat pentingnya menghadirkan ruang pembelajaran bagi generasi muda. Mereka menginginkan organisasi yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga memperkuat karakter berdasarkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan bersama hingga akhirnya melahirkan PMII sebagai organisasi mahasiswa Islam yang memiliki identitas kuat.

Empat Faktor yang Melatarbelakangi Berdirinya PMII

Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Perspektif Pendidikan

Catatan sejarah menunjukkan sedikitnya ada empat faktor utama yang mendorong lahirnya PMII.

Pertama, situasi politik Indonesia sepanjang 1950 hingga 1959 berlangsung dalam kondisi yang penuh gejolak. Ketidakstabilan politik memengaruhi berbagai sektor kehidupan nasional.

Kedua, sistem pemerintahan dan perangkat hukum pada masa itu belum berjalan secara mapan. Kondisi tersebut melahirkan kebutuhan terhadap generasi muda yang mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

Ketiga, keputusan Nahdlatul Ulama untuk berpisah dari Partai Masyumi ikut mengubah dinamika organisasi mahasiswa Islam di Indonesia.

Keempat, pembubaran Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) oleh Presiden Soekarno memunculkan dorongan agar NU memiliki organisasi mahasiswa yang dapat menjadi wadah pembinaan kader secara mandiri.

Apresiasi Kinerja Budi-Agis: Lompatan Progresif Kota Serang di Mata Mahasiswa

Momentum itu kemudian dimanfaatkan oleh kalangan intelektual muda NU untuk membentuk organisasi yang mampu menyalurkan aspirasi mahasiswa sekaligus memperkuat nilai keislaman yang moderat.

Berpegang Teguh pada Ahlussunnah wal Jamaah dan Pancasila

Sejak awal berdiri, PMII menetapkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah sebagai dasar ideologi organisasi. Nilai tersebut berjalan seiring dengan Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam Anggaran Dasar PMII disebutkan bahwa organisasi bertujuan membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki ilmu pengetahuan, mampu mengamalkan ilmunya secara bertanggung jawab, serta berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Rumusan tersebut menjadi arah utama kaderisasi PMII hingga sekarang. Organisasi ini tidak hanya menekankan kemampuan intelektual, tetapi juga membangun karakter kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.

Deklarasi Murnajati Menjadi Titik Balik

Pada masa awal berdiri, PMII masih berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Hubungan tersebut berlangsung baik secara struktural maupun organisatoris.

Namun perubahan politik nasional pada awal era Orde Baru mendorong PMII melakukan evaluasi terhadap posisinya.

Kebijakan pemerintah terkait penyederhanaan partai politik serta penerapan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) menjadi salah satu faktor penting.

Momentum bersejarah terjadi pada 14 Juli 1972 melalui Musyawarah Besar III di Murnajati. Dalam forum itu, PMII mendeklarasikan independensinya melalui Deklarasi Murnajati.

Sikap tersebut kemudian dipertegas dalam Kongres PMII di Ciloto, Jawa Barat, melalui Manifest Independensi. Sejak saat itu PMII berdiri sebagai organisasi mahasiswa yang mandiri dan tidak terikat secara organisatoris dengan partai politik maupun organisasi lain.

Hubungan dengan NU Tetap Terjalin

Meski telah menyatakan independensi secara organisasi, PMII tetap menjaga hubungan historis, moral, dan kultural dengan Nahdlatul Ulama.

Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah tetap menjadi identitas utama organisasi. Kesamaan tradisi, budaya, dan pemikiran menjadi jembatan yang menjaga hubungan baik antara PMII dan NU hingga saat ini.

Karena itu, banyak kalangan memandang bahwa independensi PMII lebih bersifat organisatoris. Sementara ikatan nilai, sejarah, dan semangat perjuangan dengan NU tetap dipertahankan.

Konsisten Mencetak Tokoh Bangsa

Sistem kaderisasi menjadi salah satu kekuatan utama PMII. Proses pembinaan dilakukan secara bertahap sehingga mampu menghasilkan kader yang siap berkiprah di berbagai sektor.

Alumni PMII kini tersebar di berbagai bidang profesi. Banyak yang menjadi akademisi, pejabat pemerintah, politisi, pengusaha, menteri, hingga pengasuh pondok pesantren.

Di kalangan pesantren, salah satu tokoh yang dikenal berasal dari lingkungan PMII adalah KH Matin Syarkowi dari Kota Serang, Banten.

Selain itu, sejumlah mantan Ketua Umum PMII juga dikenal luas di tingkat nasional. Di antaranya Mahbub Djunaidi, Surya Dharma Ali, Ali Maskur Musa, Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, Addin Jauharudin, Aminuddin Maruf, Agus Herlambang, dan Muhammad Abdullah Syukri.

Keberadaan para alumni tersebut menjadi bukti bahwa kaderisasi PMII mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Menjawab Tantangan Era Modern

Memasuki usia ke-66, PMII menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Digitalisasi, perkembangan teknologi informasi, perubahan sosial, hingga dinamika politik menuntut organisasi mahasiswa terus beradaptasi.

Meski demikian, PMII berupaya mempertahankan tradisi intelektual yang selama ini menjadi ciri khasnya. Organisasi juga terus memperkuat sistem kaderisasi agar mampu melahirkan pemimpin muda yang memiliki wawasan kebangsaan, nilai keislaman, dan kepedulian terhadap kemanusiaan.

Perjalanan sejak 1960 membuktikan bahwa PMII bukan hanya organisasi mahasiswa, tetapi juga salah satu pilar penting dalam mencetak calon pemimpin bangsa. Dengan tetap berpegang pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah, semangat kebangsaan, serta komitmen terhadap pengembangan sumber daya manusia, PMII terus menjaga eksistensinya sebagai organisasi yang relevan menghadapi perubahan zaman sekaligus berkontribusi bagi masa depan Indonesia.

*) Opini ini ditulis oleh Taufik Hidayat, Ketua IKA PMII UIN SMH Banten, senior advisor GUSDURian Serang Raya, dan Presidium Forum Komunikasi Pemuda Lintas Iman (FOKAPELA) Banten.

**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Kilas Banten.

× Advertisement
× Advertisement