Advertisement
Opini

Mahasiswa dan Tanggung Jawab Moral di Tengah Zaman Bising

Mahasiswa dan Tanggung Jawab Moral di Tengah Zaman Bising, opini ini ditulis oleh Joko Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.
Mahasiswa dan Tanggung Jawab Moral di Tengah Zaman Bising, opini ini ditulis oleh Joko Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.

KILAS BANTEN – Di tengah derasnya arus informasi dan hiruk-pikuk media sosial hari ini, mahasiswa berada pada posisi yang tidak sederhana. Dunia digital membuat segala sesuatu bergerak cepat; opini lahir dalam hitungan detik, penilaian muncul tanpa jeda, dan perdebatan sering kali lebih ramai daripada substansi persoalannya sendiri. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton yang sibuk menggulir layar telepon genggam, tetapi juga harus hadir sebagai kelompok intelektual yang mampu menjaga akal sehat publik.

 

Zaman hari ini bisa disebut sebagai zaman yang bising. Bising oleh informasi, bising oleh ambisi popularitas, dan bising oleh kegaduhan yang sering kali kehilangan arah. Banyak orang berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar mendengar. Banyak yang ingin terlihat paling benar, tetapi enggan memahami persoalan secara utuh. Akibatnya, ruang publik perlahan dipenuhi emosi sesaat dibandingkan pemikiran yang jernih.

 

Di sinilah mahasiswa seharusnya mengambil peran moralnya.

Memimpin dengan Hati Tapi Tetap Dibenci

 

Sejak dahulu, mahasiswa dikenal sebagai kelompok yang membawa semangat perubahan. Mereka bukan hanya hadir di ruang kelas untuk mengejar nilai akademik, melainkan juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap keadaan masyarakat di sekitarnya. Sejarah Indonesia mencatat bagaimana suara mahasiswa pernah menjadi penanda arah perubahan bangsa. Namun tantangannya hari ini berbeda. Jika dulu mahasiswa menghadapi tekanan kekuasaan secara langsung, kini tantangan terbesar justru datang dari derasnya distraksi dan budaya serba instan.

 

Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya lebih sibuk membangun citra dibandingkan membangun gagasan. Aktivitas sosial terkadang hanya dijadikan konten, sementara diskusi-diskusi kritis mulai kehilangan tempat. Padahal, mahasiswa memiliki posisi penting sebagai jembatan antara idealisme dan realitas sosial.

 

Ketika Wakil Rakyat Kehilangan Perspektif Pendidikan

Tanggung jawab moral mahasiswa bukan hanya soal turun ke jalan atau menyampaikan kritik kepada pemerintah. Lebih dari itu, tanggung jawab moral berarti keberanian menjaga nilai kejujuran, kepedulian, serta keberpihakan kepada kebenaran di tengah lingkungan yang sering kali permisif terhadap manipulasi informasi. Mahasiswa perlu menjadi kelompok yang mampu berpikir jernih ketika masyarakat mudah terprovokasi oleh potongan video, judul sensasional, ataupun opini yang belum tentu benar.

 

Hari ini, masyarakat membutuhkan suara yang menenangkan, bukan sekadar suara yang paling keras. Mahasiswa seharusnya mampu menghadirkan gagasan yang mencerdaskan, bukan ikut memperkeruh keadaan. Ketika media sosial dipenuhi hujatan dan polarisasi, mahasiswa justru perlu menunjukkan etika dalam berdiskusi dan kedewasaan dalam menyampaikan pendapat.

 

Tentu bukan hal mudah menjaga idealisme di tengah tekanan ekonomi, tuntutan akademik, dan pengaruh lingkungan digital yang begitu kuat. Namun justru dalam keadaan itulah integritas diuji. Sebab pendidikan tinggi pada dasarnya bukan hanya membentuk seseorang menjadi pintar, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab kemanusiaan.

Apresiasi Kinerja Budi-Agis: Lompatan Progresif Kota Serang di Mata Mahasiswa

 

Mahasiswa tidak harus selalu menjadi tokoh besar untuk membawa perubahan. Perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana: membangun budaya literasi, menjaga kejujuran akademik, aktif dalam kegiatan sosial, hingga berani melawan penyebaran informasi yang menyesatkan. Sikap-sikap kecil semacam itu memiliki dampak besar dalam menjaga kualitas kehidupan publik.

 

Bangsa ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas berbicara, tetapi juga bijak dalam bersikap. Di tengah zaman yang semakin ramai oleh kepentingan dan pencitraan, mahasiswa perlu kembali mengingat bahwa ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab moral. Sebab tanpa moralitas, pendidikan hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah.

 

Pada akhirnya, mahasiswa bukan sekadar status pendidikan, melainkan amanah sosial. Dan di tengah zaman yang bising ini, keberanian untuk tetap berpikir jernih dan bertindak benar mungkin menjadi bentuk perjuangan yang paling penting.

 

*) Opini ini ditulis oleh Joko Mahasiswa Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang.

 

**) Segala bentuk tanggungjawab atas tulisan tersebut adalah mutlak dari penulis bukan dari Redaksi Kilas Banten.

× Advertisement
× Advertisement