Jajaran Kopri PKC PMII Banten bersama ketua dan tim kaderisasi Kopri cabang se-Banten saat Rapat Dengar Pendapat di Kota Serang, Kamis, 25 Desember 2025KILAS BANTEN – Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Banten bergerak cepat membenahi sistem kaderisasi. Upaya tersebut diwujudkan melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama seluruh ketua Kopri dan tim kaderisasi cabang PMII se-Banten. Agenda ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus memacu gerakan perempuan PMII agar lebih terarah dan berdaya.
RDP diinisiasi oleh Wakil Ketua I Kopri PKC PMII Banten, Rohati. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang memungkinkan setiap cabang menyampaikan kondisi kaderisasi di daerah masing-masing. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi terhadap kerja-kerja organisasi yang selama ini berjalan.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus PKC PMII Banten, ketua Kopri cabang PMII se-Banten, serta tim kaderisasi dari berbagai cabang. Para peserta aktif menyampaikan laporan, keluhan, dan pengalaman lapangan terkait dinamika kaderisasi. Seluruh masukan itu diserap langsung oleh pengurus Kopri PKC PMII Banten. RDP berlangsung di sebuah kafe di Kota Serang, Kamis, 25 Desember 2025.
Wakil Ketua I Kopri PKC PMII Banten, Rohati, menegaskan bahwa RDP bukan sekadar forum penyampaian laporan tugas. Ia menyebut kegiatan ini sebagai ruang refleksi bersama untuk menata ulang arah gerak organisasi.

Jajaran Kopri PKC PMII Banten bersama ketua dan tim kaderisasi Kopri cabang se-Banten saat Rapat Dengar Pendapat di Kota Serang, Kamis, 25 Desember 2025
“RDP ini bukan hanya membahas tugas dan hambatan, tetapi juga menjadi evaluasi dan revolusi bersama dalam menjalankan amanah organisasi. PMII adalah organisasi kaderisasi, dan Kopri harus membuktikan kekuatannya melalui kaderisasi yang berlapis dan berkelanjutan,” ujar Rohati, Sabtu, 27 Desember 2025.
Ia berharap para pimpinan Kopri cabang dapat kembali merawat semangat kaderisasi di tingkat lokal. Menurutnya, kaderisasi yang sehat akan melahirkan kader perempuan yang tangguh, kritis, dan memiliki daya saing.
Sementara itu, Ketua KOPRI PKC PMII Banten, Novi Oktaviani, menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan antusiasme seluruh peserta. Ia menilai RDP mencerminkan kesadaran kolektif bahwa kaderisasi Kopri di Banten perlu ditinjau dan diperbaiki secara serius.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh ketua Kopri dan tim kaderisasi cabang PMII se-Banten yang hadir dan aktif berdiskusi. Ini menunjukkan bahwa kaderisasi Kopri perlu pembenahan, baik dari sisi fasilitator maupun minat kader,” kata Novi.
RDP juga menghadirkan pandangan dari para Ketua Kopri Cabang PMII Banten, antara lain Lulu Lateefah dari Kota Serang, Zahra dari Kabupaten Tangerang, Nanda dari Kabupaten Lebak, Ihah dari Kabupaten Serang, Erna dari Kabupaten Pandeglang, Zebrina Destha dari Kota Tangerang, dan Dewi Nita dari Kota Cilegon.
Para ketua cabang sepakat bahwa kaderisasi Kopri membutuhkan formulasi baru. Pembaruan diperlukan pada konsep kaderisasi, peningkatan kualitas fasilitator, serta strategi menumbuhkan minat kader agar gerak Kopri sejalan dengan visi dan misi organisasi.
“RDP ini memberi ruang bagi kami untuk menyampaikan keluhan dan keterbatasan yang dihadapi. Banyak hal yang akhirnya bisa kami refleksikan bersama. Forum ini menjadi energi baru bagi kami,” demikian kesimpulan bersama para ketua cabang.
Dalam pernyataan penutup, Rohati menegaskan bahwa kepemimpinan di Kopri tidak hanya berbicara soal struktur organisasi, tetapi juga kepekaan dan kebijaksanaan dalam merawat kader. RDP ditutup dengan sejumlah kesepakatan strategis terkait arah kaderisasi Kopri di Banten, perumusan program kerja, serta penguatan konsep kaderisasi yang lebih matang dan berkelanjutan.