Fakultas Dakwah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten memperkuat literasi media mahasiswa untuk menghadapi tantangan dakwah di era digitalKILAS BANTEN – Mahasiswa dakwah kini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika sebelumnya dakwah identik dengan ceramah langsung di hadapan masyarakat, kini ruang digital telah menjadi arena baru yang harus dipahami dan dikuasai oleh generasi muda.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Fakultas Dakwah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Melalui kegiatan Pembinaan Kegiatan Lembaga Kemahasiswaan yang digelar di Auditorium Fakultas Dakwah, kampus tersebut berupaya memperkuat kapasitas organisasi mahasiswa sekaligus meningkatkan kemampuan literasi media di tengah derasnya arus informasi digital.
Kegiatan itu diikuti puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Senat Mahasiswa (Sema), Dewan Mahasiswa (Dema), dan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS). Hadir sebagai narasumber utama Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Banten, Ahmad Solahudin, yang juga merupakan alumni UIN Banten.
Dekan Fakultas Dakwah UIN SMH Banten, Prof. Endad Musaddad, membuka kegiatan tersebut secara langsung. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola dakwah secara signifikan.
Menurutnya, tantangan dakwah saat ini tidak lagi terbatas pada interaksi tatap muka. Perkembangan media sosial dan berbagai platform digital membuat ruang dakwah semakin luas sekaligus lebih kompleks.
“Tantangan dakwah hari ini semakin rumit. Dulu objek dakwah kita jelas terlihat di hadapan, namun sekarang tantangan dakwah bukan hanya berkaitan dengan manusia yang kasat mata, tetapi juga berkaitan dengan ruang digital yang luas,” ujar Prof. Endad, Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan memahami teknologi dan media digital kini menjadi kebutuhan mendasar bagi mahasiswa Fakultas Dakwah. Pasalnya, berbagai informasi keagamaan beredar dengan sangat cepat dan mudah diakses oleh masyarakat melalui internet.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penerima informasi. Mereka harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima, terutama yang berkaitan dengan dalil, hadis, maupun materi dakwah yang tersebar di media sosial.
“Kita hari ini dipantau oleh jejak digital yang lebih besar. Ketika ada ceramah atau kutipan hadis yang beredar, kita harus bisa menimbang dan memverifikasi kebenarannya, tidak sekadar menelan mentah-mentah,” katanya.
Prof. Endad menilai perkembangan teknologi juga menghadirkan peluang besar bagi generasi muda. Banyak dai nasional yang berhasil memanfaatkan media digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk menyebarkan pesan dakwah secara kreatif dan inovatif.
Selain itu, ia mengapresiasi peran KPID Banten dalam menjaga kualitas ruang publik melalui pengawasan berbagai konten siaran. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen literasi yang mampu membantu masyarakat memilah informasi yang akurat dan bermanfaat.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Endad juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas organisasi kemahasiswaan. Ia meminta para aktivis kampus untuk mewaspadai berbagai bentuk infiltrasi maupun perekrutan yang membawa agenda tersembunyi dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
“Jangan sampai organisasi yang kita banggakan ini dimasuki oleh nilai-nilai yang tersembunyi dan merusak. Mahasiswa Fakultas Dakwah harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kemurnian nilai organisasi dan dakwah,” tegasnya.
Kehadiran Ahmad Solahudin sebagai narasumber sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa. Rekam jejaknya yang aktif berorganisasi, berdiskusi, dan berpikir kritis selama masa kuliah dinilai menjadi modal penting hingga dipercaya menduduki jabatan strategis di KPID Banten.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Dakwah UIN SMH Banten berharap mahasiswa semakin siap menghadapi perubahan zaman. Penguatan literasi media, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta komitmen menjaga nilai-nilai dakwah menjadi bekal penting untuk menjawab tantangan era digital yang terus berkembang.***