Sekretaris Daerah Provinsi Banten Deden Apriandi mengajak para ASN mengambil rapor anak secara langsung sebagai bentuk penguatan peran ayah dalam pendidikan dan pengasuhan keluarga.KILAS BANTEN – Pemprov Banten meluncurkan kebijakan baru yang mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah, Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki anak usia sekolah diminta hadir langsung saat pembagian rapor kenaikan kelas.
Langkah tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk membangun budaya pengasuhan yang lebih seimbang. Kehadiran ayah di sekolah diharapkan tidak sekadar menjadi formalitas, tetapi juga menjadi bukti nyata dukungan terhadap perkembangan pendidikan anak.
Kebijakan itu dituangkan dalam Surat Edaran Nomor 28 Tahun 2026 yang diterbitkan pada 11 Juni 2026. Surat edaran tersebut ditandatangani Sekretaris Daerah Provinsi Banten, Deden Apriandi, sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat peran ayah di lingkungan keluarga.
Penerbitan surat edaran tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 14 Tahun 2025 mengenai Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah. Selain itu, kebijakan tersebut juga mengacu pada surat Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Provinsi Banten Nomor 1321/PK.02/J.11/2026 tertanggal 22 Mei 2026 yang mendukung pelaksanaan gerakan tersebut.
Deden Apriandi menegaskan bahwa kehadiran ayah saat menerima rapor memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menghadiri agenda sekolah.
“Ini merupakan upaya mendorong penguatan peran ayah dalam meningkatkan pengasuhan dan pendidikan anak sejak dini,” ujar Deden, Senin, 15 Juni 2026.
Menurutnya, keterlibatan ayah dalam dunia pendidikan dapat mempererat hubungan emosional dengan anak. Selain itu, anak akan merasakan perhatian langsung dari kedua orang tua terhadap proses belajar yang dijalani selama satu semester.
Ia juga menilai, partisipasi aktif ayah dalam pendidikan mampu mendukung terciptanya keluarga yang lebih berkualitas. Kondisi tersebut dinilai penting dalam menyiapkan generasi emas Indonesia yang berkarakter, berdaya saing, dan tumbuh dengan dukungan penuh dari lingkungan keluarga.
Lebih lanjut, Deden menyebut gerakan ini menjadi simbol perubahan pola pengasuhan di Indonesia. Selama ini, tanggung jawab mendampingi pendidikan anak masih identik dengan peran ibu. Melalui program tersebut, pemerintah ingin membangun budaya pengasuhan yang melibatkan ayah dan ibu secara setara.
“Gerakan ini diharapkan menjadi simbol perubahan budaya pengasuhan di Indonesia, dari yang semula terpusat pada peran ibu menjadi kolaboratif dan setara,” katanya.
Pelaksanaan program akan menyesuaikan jadwal pembagian rapor di masing-masing sekolah. Kebijakan tersebut berlaku bagi ASN yang memiliki anak mulai jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat.
Pemprov Banten berharap para ayah dapat meluangkan waktu untuk datang ke sekolah dan menerima hasil belajar anak secara langsung. Kehadiran tersebut diyakini mampu meningkatkan motivasi belajar anak sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama dalam keluarga.
Tidak hanya menyasar ASN, pemerintah daerah juga mengajak para pegawai menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing. ASN didorong mengajak keluarga, kerabat, hingga masyarakat sekitar untuk ikut mendukung gerakan tersebut agar manfaatnya semakin luas.
“Kepada seluruh ASN diharapkan dapat mengedukasi keluarga, kerabat, dan tetangga untuk berpartisipasi dalam gerakan tersebut, sehingga bisa berjalan secara masif,” ujar Deden.
Melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak ke Sekolah, Pemprov Banten berharap keterlibatan ayah tidak berhenti saat pembagian rapor semata. Pemerintah ingin membangun kebiasaan baru yang memperkuat kolaborasi antara ayah, ibu, dan sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang anak sehingga lahir generasi Indonesia yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.***