Peserta Latbernas IX Saka Bakti Husada mengikuti pembukaan kegiatan di Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Banten sebagai bagian dari upaya mencetak generasi muda yang peduli kesehatan dan siap menjadi pelopor pencegahan penyakit.KILAS BANTEN – Latihan Bersama Nasional (Latbernas) IX Saka Bakti Husada (SBH) Krida Penanggulangan Penyakit (P2) resmi digelar di Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Banten. Kegiatan ini menjadi wadah pembinaan generasi muda agar memiliki kemampuan dan kepedulian dalam mendukung program pencegahan penyakit serta mengampanyekan perilaku hidup sehat di lingkungan masyarakat.
Mengusung tema “SBH Banten Siaga Sehat: Generasi Muda Peduli Kesehatan, Cegah Penyakit dengan Hidup Sehat”, Latbernas IX diselenggarakan secara luring dan daring. Format tersebut memungkinkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tanpa terkendala jarak.
Selain menjadi ajang pelatihan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi anggota Saka Bakti Husada. Peserta juga mendapat kesempatan memperluas wawasan, bertukar pengalaman, dan mempererat jaringan antardaerah guna mendukung berbagai program kesehatan masyarakat.
Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Banten, Suwaib Amiruddin, menyampaikan tiga pesan penting kepada seluruh peserta.
Menurutnya, Latbernas bukan hanya menjadi forum pembelajaran, tetapi juga sarana membangun kolaborasi yang lebih kuat di antara anggota Saka Bakti Husada.
“Kegiatan ini bukan sekadar latihan bersama, tetapi momentum membangun jaringan dan kolaborasi. Saling mengenal akan melahirkan kerja sama yang semakin erat dalam menjalankan misi kemanusiaan dan kesehatan,” ujar Suwaib dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Ia menilai komunikasi yang baik antarpeserta akan memperkuat sinergi dalam menjalankan berbagai kegiatan sosial maupun pelayanan kesehatan di masa mendatang.
Suwaib juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat kekeluargaan selama mengikuti kegiatan. Menurutnya, nilai persaudaraan merupakan salah satu fondasi utama dalam Gerakan Pramuka yang mampu membentuk karakter generasi muda yang peduli terhadap sesama.
“Jadikan Latbernas ini sebagai rumah bersama. Bangun kekeluargaan, saling menghargai, dan tumbuhkan kebersamaan agar tercipta solidaritas yang kuat di antara anggota Saka Bakti Husada,” katanya.
Selain itu, ia meminta peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin dari para narasumber yang berasal dari kalangan praktisi dan pemangku kepentingan di bidang kesehatan.
“Serap seluruh ilmu yang diberikan narasumber. Pengetahuan yang diperoleh di sini harus menjadi bekal untuk diterapkan dan disebarluaskan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit,” tegasnya.
Latbernas IX turut dihadiri Pembina Saka Bakti Husada Nasional, dr. Andi Saguni, jajaran Krida Penanggulangan Penyakit Saka Bakti Husada Nasional, para pembina, pengurus Gerakan Pramuka, serta peserta dari berbagai pangkalan Saka Bakti Husada di Indonesia.
Selama pelaksanaan kegiatan, peserta memperoleh pembekalan mengenai berbagai isu kesehatan masyarakat. Materi yang diberikan meliputi peran Saka Bakti Husada dalam mendeteksi penyakit menular yang berpotensi menjadi wabah, pencegahan dan imunisasi campak, upaya mengendalikan leptospirosis, hingga penerapan Kawasan Tanpa Rokok.
Seluruh materi disampaikan oleh narasumber dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pembekalan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas peserta sehingga dapat menjadi agen perubahan yang aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah penyebaran penyakit.
Penyelenggaraan Latbernas IX menjadi bukti komitmen Saka Bakti Husada dalam memperkuat peran generasi muda sebagai mitra pemerintah di bidang kesehatan. Melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan semangat pengabdian, anggota Saka Bakti Husada diharapkan mampu menghadirkan berbagai aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan ini juga diharapkan melahirkan kader-kader muda yang kompeten, berkarakter, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan lingkungan. Dengan bekal yang diperoleh selama pelatihan, mereka diharapkan mampu menjadi pelopor perilaku hidup sehat sekaligus mendukung upaya pencegahan penyakit secara berkelanjutan demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.***