FUDA UIN SMH Banten Perkuat Peran Guru BK se-Pandeglang Hadapi Krisis Salah Jurusan dan Daya Saing

Kilas Banten
6 Mei 2026 18:08
Banten 0
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten bergerak cepat merespons persoalan serius yang tengah dihadapi pelajar, yaitu krisis arah karier dan fenomena salah jurusan. Melalui Tim Admisi dan Bagian Akademik, kampus ini menggelar workshop khusus bagi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) se-Kabupaten Pandeglang pada Rabu, 6 Mei 2026.

 

Kegiatan yang mengusung tema “Asesmen Minat dan Bakat Siswa” ini berlangsung di Horison Altama Pandeglang. Sebanyak 30 guru BK dari berbagai sekolah ikut serta dalam pelatihan tersebut. Workshop ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mendampingi siswa menentukan pilihan pendidikan yang sesuai.

 

Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan UIN SMH Banten, Ahmad Riyadi, menegaskan bahwa peran Guru BK sangat krusial dalam membentuk masa depan siswa. Ia menjelaskan bahwa guru tidak hanya bertugas sebagai pendamping, tetapi juga harus menjadi fasilitator sekaligus konsultan pendidikan.

 

Riyadi menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah. Ia berharap Guru BK dapat menjadi motivator bagi siswa dalam menentukan pilihan studi lanjut, terutama saat akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

 

Ia juga menyoroti dampak negatif dari kesalahan memilih jurusan. Salah satu contohnya adalah siswa yang lolos jalur prestasi namun memilih mundur karena merasa tidak cocok. Kondisi ini tidak hanya merugikan siswa, tetapi juga berdampak pada sekolah yang bisa terkena pengurangan kuota penerimaan di tahun berikutnya.

 

Dalam workshop tersebut, dosen Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA), Ahmad Muchlishon, memaparkan data yang cukup mengkhawatirkan. Ia menyebutkan bahwa 87 persen mahasiswa mengaku salah jurusan. Dari jumlah tersebut, sekitar 75 persen mengalami penurunan motivasi belajar.

 

Muchlishon menegaskan bahwa data ini harus menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan. Ia menilai salah satu penyebab utama adalah minimnya asesmen minat dan bakat sejak dini. Selain itu, faktor eksternal seperti tekanan keluarga, pengaruh teman sebaya, dan tren sosial juga turut memengaruhi keputusan siswa.

 

Untuk menjawab persoalan tersebut, ia memperkenalkan metode RIASEC. Pendekatan ini membantu siswa memahami minat berdasarkan enam tipe kepribadian, yaitu Realistic, Investigative, Artistic, Social, Enterprising, dan Conventional. Dengan metode ini, siswa diharapkan dapat lebih mengenali potensi diri sebelum menentukan jurusan.

 

Selain isu salah jurusan, workshop ini juga membahas pentingnya daya saing. Muchlishon menekankan bahwa persaingan masuk perguruan tinggi semakin ketat. Oleh karena itu, siswa perlu mempersiapkan diri dengan baik, baik dari sisi akademik maupun non-akademik.

 

Ia mendorong Guru BK untuk aktif membimbing siswa dalam mengembangkan kompetensi sejak dini. Menurutnya, kesiapan ini menjadi kunci agar siswa mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

 

Pada kesempatan yang sama, UIN SMH Banten turut memperkenalkan Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA) sebagai salah satu fakultas unggulan. Fakultas ini memiliki visi menjadi pusat integrasi keilmuan Ushuluddin dan Adab di Asia Tenggara pada 2029.

 

FUDA menawarkan berbagai program studi, seperti Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Ilmu Hadis, Aqidah dan Filsafat Islam, serta Bahasa dan Sastra Arab. Program tersebut dirancang untuk mencetak lulusan yang religius, kritis, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

 

Lulusan FUDA memiliki peluang karier yang luas. Mereka dapat berkarier di bidang pendidikan, media, penelitian, hingga diplomasi budaya. Selain itu, fakultas ini juga didukung fasilitas akademik yang memadai, jaringan kerja sama yang luas, serta berbagai program beasiswa seperti KIP-Kuliah, BAZNAS, dan beasiswa internal.

 

Melalui workshop ini, UIN Banten berharap Guru BK semakin siap dalam membimbing siswa menentukan masa depan. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk mengurangi angka salah jurusan sekaligus meningkatkan kualitas lulusan yang siap menghadapi tantangan global.***