Gubernur Banten Andra Soni meninjau fasilitas produksi PT Japfa Comfeed Unit Cikande, Kabupaten Serang, sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor peternakan unggas di Banten.KILAS BANTEN – Gubernur Banten Andra Soni menargetkan Provinsi Banten menjadi salah satu daerah utama pemasok telur dan daging ayam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Target tersebut akan diwujudkan melalui penguatan sektor peternakan unggas yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Menurut Andra Soni, Banten memiliki modal besar untuk mengembangkan industri peternakan. Salah satu kekuatan daerah ini adalah keberadaan 14 pabrik pakan ternak unggas yang telah beroperasi. Selain itu, posisi geografis Banten yang berbatasan langsung dengan Jabodetabek menjadi keuntungan dalam mempercepat distribusi hasil produksi.
Pernyataan itu disampaikan Andra Soni saat mengunjungi PT Japfa Comfeed Unit Cikande di Jalan Raya Rangkasbitung, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang.
“Saya berkunjung ke industri feedmill untuk melihat bagaimana potensi Provinsi Banten dapat dimanfaatkan secara maksimal. Industri pakan ternak di Provinsi Banten memiliki potensi yang sangat besar,” ujar Andra Soni.
Ia menilai potensi tersebut harus dioptimalkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memenuhi kebutuhan pangan bergizi masyarakat. Langkah itu juga sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.
Untuk mendukung target tersebut, Pemerintah Provinsi Banten sedang menyiapkan program pemberdayaan masyarakat melalui Bantuan Usaha Ekonomi Produktif. Program ini tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga dirancang agar mampu menciptakan usaha yang berkelanjutan.
“Pemprov Banten memiliki program pemberdayaan masyarakat melalui Bantuan Usaha Ekonomi Produktif,” kata Andra Soni, Rabu (1/7/2026).
Melalui program itu, pemerintah berharap masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Keberhasilan program tersebut, menurut Andra Soni, sangat bergantung pada kesungguhan penerima bantuan dalam mengelola dan mengembangkan usaha secara mandiri.
Dalam skema yang disusun, rumah tangga dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) akan didorong mengembangkan usaha ayam petelur. Sementara itu, pelaku usaha berskala menengah diarahkan untuk mengembangkan peternakan ayam pedaging yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Dengan potensi yang ada, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan serta menjadi penyuplai pangan bergizi bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain bantuan usaha, Pemprov Banten juga akan memberikan pelatihan kepada calon peternak. Pelatihan tersebut mencakup kemampuan teknis budidaya hingga manajemen usaha agar bisnis peternakan mampu berkembang secara berkelanjutan.
Di sisi distribusi, pemerintah akan memanfaatkan peran BUMD PT Agribisnis Banten Mandiri sebagai penghubung antara industri pakan ternak dengan masyarakat. Distribusi pakan maupun hasil produksi selanjutnya akan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sehingga akses peternak terhadap kebutuhan usaha menjadi lebih mudah.
Direktur PT Japfa Comfeed, Azrul Arifin, menyambut positif kunjungan Gubernur Banten beserta jajaran ke fasilitas produksi perusahaan di Cikande. Ia menjelaskan bahwa Unit Cikande telah beroperasi sejak Juni 2000 untuk mendukung pertumbuhan industri peternakan nasional.
Saat ini, pabrik tersebut melayani kebutuhan pasar di Jawa Barat, Jabodetabek, Provinsi Banten, hingga Kalimantan Barat.
“Industri berkembang baik kalau mendapat dukungan dari pemerintah,” kata Azrul.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan dalam penyediaan bahan baku. Jagung yang menjadi komponen utama pakan ternak masih banyak didatangkan dari luar Provinsi Banten.
Azrul juga membagikan pengalaman perusahaan dalam menjalankan program pemberdayaan bersama Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Menurutnya, bantuan akan memberikan hasil yang lebih optimal apabila diberikan kepada kelompok masyarakat yang benar-benar siap menjalankan usaha.
“Pengalaman dengan Koperasi Merah Putih, bantuan diberikan kepada yang sudah siap sehingga pembinaan berjalan lancar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa selain pelatihan teknis, calon penerima bantuan juga perlu memahami analisis usaha. Pengetahuan tersebut penting agar peternak mampu menghitung biaya produksi, mengelola keuntungan, serta menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.
Menurut Azrul, pembentukan kelompok usaha juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program pemberdayaan. Dengan bekerja secara berkelompok, proses pendampingan, evaluasi, hingga pengembangan usaha dapat dilakukan lebih efektif sehingga tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor peternakan dapat tercapai.
Jika seluruh program berjalan sesuai rencana, Banten berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu sentra produksi telur dan daging ayam nasional sekaligus menjadi pemasok utama kebutuhan pangan masyarakat di kawasan Jabodetabek.***