KILAS BANTEN – Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan Haul Syekh Kicili Bayun ke-338, Kegiatan ini mengusung tema “Membangun Generasi yang Berkualitas, Berakhlak, Beriman, dan Bertakwa di Era Digitalisasi,” berlangsung khidmat di Maqbaroh Keramat Syekh Kicili Bayun, Kampung Nambo, Desa Cibodas, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Banten, Minggu, 18 Januari 2026.
Ratusan warga memadati area maqbaroh sejak pagi hari. Tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan Pemerintah Kabupaten Serang, Muspika Kecamatan Tanara, serta jamaah dari berbagai wilayah sekitar turut hadir mengikuti rangkaian acara. Ketua Fraksi DPRD Kabupaten Serang, Ahmad Muhibbin, hadir langsung dan memberikan sambutan di hadapan jamaah.
Dalam sambutannya, Ahmad Muhibbin menegaskan bahwa Haul Syekh Kicili Bayun merupakan agenda keagamaan yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Ia menyebut haul bukan hanya peringatan sejarah, tetapi juga sarana penting untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap peran ulama dalam membangun peradaban Islam di Desa Cibodas, Tanara.
“Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun saat memasuki haul Syekh Kicili Bayun. Tadi kami sempat berbincang di maqbaroh, membahas secara singkat tentang rekam jejak dan sejarah beliau,” ujar Ahmad Muhibbin.
Ia menjelaskan bahwa sejarah Syekh Kicili Bayun memang tidak banyak tercatat dalam literatur tertulis. Meski demikian, nilai dan ajaran beliau tetap hidup melalui tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Cerita tentang Syekh Kicili Bayun terus disampaikan melalui pitutur, obrolan warga, serta tradisi masyarakat Desa Cibodas dan Kecamatan Tanara.
“Memang tidak banyak literasi tertulis. Namun kisah dan teladan Syekh Kicili Bayun terus diceritakan dari generasi ke generasi melalui tradisi masyarakat,” katanya.
Ahmad Muhibbin menyebut Syekh Kicili Bayun sebagai ulama yang memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat. Selain dikenal sebagai guru spiritual, Syekh Kicili Bayun juga dipandang sebagai penjaga kampung dan pemersatu masyarakat. Ajaran beliau menekankan pentingnya hidup berlandaskan iman dan takwa.
Menurut Ahmad Muhibbin, bimbingan Syekh Kicili Bayun tidak terbatas pada urusan ibadah. Beliau juga memberi perhatian besar terhadap kehidupan sosial dan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Pendekatan tersebut membuat ajaran Syekh Kicili Bayun tetap relevan hingga saat ini.
“Beliau selalu mengarahkan masyarakat tentang bagaimana hidup ber-Islam, hidup dengan iman dan takwa, sekaligus memikirkan kesejahteraan masyarakat, terutama soal ketahanan ekonomi,” ungkapnya.
Salah satu perhatian utama Syekh Kicili Bayun pada masanya adalah sektor pertanian. Ia mendorong masyarakat agar mengelola lahan pertanian secara optimal. Arahan tersebut menjadi fondasi penting bagi kehidupan ekonomi warga Cibodas dan sekitarnya pada masa itu.
Haul Syekh Kicili Bayun tahun ini juga dirangkaikan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Panitia menghadirkan tausiah keagamaan yang disampaikan oleh para ulama dan guru agama. Materi tausiah difokuskan pada makna Isra Mi’raj serta relevansinya dengan tantangan kehidupan umat Islam di era digital.
Ahmad Muhibbin menilai peringatan Isra Mi’raj yang digabungkan dengan haul memiliki makna strategis. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi umat Islam untuk memperkuat keimanan sekaligus membangun karakter generasi muda yang berakhlak dan bertanggung jawab.
Ia berharap tradisi haul yang terus dijaga ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi penerus. Nilai perjuangan, keteladanan, dan spiritualitas Syekh Kicili Bayun dinilai masih sangat relevan untuk dijadikan pedoman di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat.
“Mudah-mudahan haul ini selalu membawa semangat bagi generasi penerus untuk melestarikan nilai-nilai hidup yang diwariskan Syekh Kicili Bayun,” tuturnya.
Ahmad Muhibbin juga mengapresiasi peran panitia dan masyarakat yang konsisten menjaga tradisi keagamaan tersebut. Ia menilai sinergi antara ulama, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah menjadi kunci penting dalam merawat warisan spiritual dan budaya Islam di Kabupaten Serang.

