KILAS BANTEN – Muktamar ke 21 Mathla’ul Anwar resmi berlangsung di Kota Serang, Banten, Sabtu, 11 April 2026. Forum tertinggi organisasi ini menjadi ajang penting untuk memperkuat arah gerak sekaligus mengevaluasi kiprah di tengah masyarakat.
Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, KH Embay Mulya Syarief, mengungkap fakta yang cukup mengejutkan: organisasi besar ini belum dikenal luas di wilayah asalnya sendiri.
Dalam sambutannya, Embay langsung menyoroti rendahnya tingkat pengenalan Mathla’ul Anwar di wilayah utara Banten, termasuk Kota Serang. Ia menyebut kondisi ini sebagai ironi, mengingat organisasi tersebut lahir dan berkembang dari tanah Banten.
“Di Kota Serang, masih banyak yang belum tahu Mathla’ul Anwar,” kata Embay, Sabtu, 11 April 2026.
Ia menjelaskan, selama ini pelaksanaan muktamar lebih sering digelar di luar Pulau Jawa. Untuk agenda tahun ini, panitia awalnya merencanakan kegiatan di Sumatera Utara.
Namun, Embay memutuskan memindahkan lokasi ke Banten. Ia ingin menjadikan muktamar sebagai sarana memperkenalkan organisasi kepada masyarakat setempat.
Menurutnya, selama ini Mathla’ul Anwar lebih dikenal di wilayah selatan seperti Pandeglang dan Lebak. Sementara di wilayah utara, eksistensinya belum terasa kuat. Padahal, organisasi ini telah berdiri sejak 1916 dan memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Embay mengaku masih sering mendapat pertanyaan tentang Mathla’ul Anwar, bahkan setelah lima tahun menjabat sebagai ketua umum. Hal ini menunjukkan bahwa sosialisasi organisasi belum berjalan optimal.
Sejak berdiri, Mathla’ul Anwar berfokus pada pengembangan pendidikan. Organisasi ini memadukan sistem pendidikan modern dengan pendidikan berbasis pesantren. Model tersebut menjadi kekuatan utama dalam mencetak sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak.
Ia juga mengingatkan bahwa pada era 1930-an, Mathla’ul Anwar telah mendirikan sekolah khusus perempuan. Salah satu alumninya adalah Maria Ulfah, yang kemudian menjadi Menteri Sosial pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Saat ini, Mathla’ul Anwar mengelola sekitar 947 madrasah. Sebagian besar tersebar di wilayah Banten. Embay menegaskan organisasi akan terus konsisten bergerak di tiga bidang utama, yaitu pendidikan, dakwah, dan sosial.
Muktamar ke-21 mengusung tema “Membangun Peradaban Umat Menuju Kemandirian Bangsa”. Tema ini menegaskan komitmen organisasi untuk meningkatkan kualitas umat Islam sebagai bagian terbesar dari populasi Indonesia.
Embay menilai peningkatan mutu pendidikan menjadi kunci utama dalam mendorong kemajuan bangsa. Ia menegaskan bahwa muktamar tidak boleh hanya menjadi agenda rutin pergantian kepemimpinan. Forum ini harus menghasilkan langkah nyata untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan.
Ia juga menyoroti kondisi para guru di daerah terpencil, khususnya di Banten Selatan. Banyak madrasah yang sulit dijangkau kendaraan. Para guru harus berjalan kaki untuk mengajar. Meski menghadapi keterbatasan, mereka tetap menunjukkan dedikasi tinggi.
“Mereka tetap mengajar dengan militansi tinggi, meskipun aksesnya sangat sulit,” ujarnya.
Selain pendidikan, Embay menekankan pentingnya pembenahan di bidang dakwah. Ia mengusulkan agar Mathla’ul Anwar menyusun kode etik dakwah. Hal ini penting untuk mencegah munculnya metode dakwah yang bersifat provokatif atau menyinggung pihak lain.
“Dakwah tidak boleh dengan cara mencaci. Harus ada etika,” kata Embay.
Ia juga menilai dakwah melalui tindakan nyata atau dakwah bil hal lebih efektif dalam membangun kepercayaan masyarakat. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan dampak langsung tanpa mengandalkan retorika semata.
Lebih lanjut, Embay menegaskan bahwa Mathla’ul Anwar sejak awal selalu menjalin kerja sama dengan pemerintah. Sinergi ini menjadi bagian penting dalam upaya membangun masyarakat yang lebih baik.
Sementara itu, Gubernur Banten Andra Soni mengapresiasi peran Mathla’ul Anwar dalam pembangunan daerah. Ia menilai organisasi ini telah memberikan kontribusi besar, terutama dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.
“Mathla’ul Anwar membantu pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Andra.
Ia juga menyampaikan rasa bangga karena Banten dipercaya menjadi tuan rumah muktamar ke-21.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat.
Andra berharap muktamar ini berjalan lancar dan menghasilkan keputusan strategis bagi kemajuan organisasi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga sinergi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Muktamar ke-21 Mathla’ul Anwar dijadwalkan berlangsung hingga 13 April 2026. Selain agenda utama, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Musyawarah Nasional Muslimat Mathla’ul Anwar.
Melalui forum ini, Mathla’ul Anwar diharapkan mampu memperluas peran dan memperkuat eksistensinya. Terutama di Banten sebagai daerah kelahiran, agar keberadaannya semakin dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.***

