KILAS BANTEN – Arus deras digitalisasi dinilai membuka celah baru bagi penyebaran paham radikal di kalangan generasi muda. Menjawab tantangan itu, PCNU Kota Serang bersama UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar halalbihalal yang dirangkai dengan pelatihan kepeloporan moderasi beragama, Minggu, 12 April 2026.
Kegiatan berlangsung di Majelis Utama Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele, Cipocok Jaya, Kota Serang. Tema yang diangkat menyoroti strategi mitigasi radikalisme serta optimalisasi media sosial bagi mahasiswa, santri, dan pelajar di era digital.
Acara ini menjadi respons atas lonjakan pengguna internet di Indonesia yang kini mencapai ratusan juta orang. Kondisi tersebut membuka peluang besar dalam penyebaran informasi, tetapi juga menghadirkan ancaman serius berupa infiltrasi paham ekstrem melalui platform digital.
Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN SMH Banten, Salim Rosyadi, mengungkapkan bahwa dari total populasi sekitar 268,2 juta jiwa, lebih dari 150 juta orang telah terhubung dengan internet dan media sosial.
Menurut dia, fakta ini harus menjadi perhatian serius, terutama karena generasi muda menjadi kelompok paling rentan.
“Ini peluang sekaligus tantangan. Generasi muda sangat aktif di media sosial, tetapi juga mudah terpapar ideologi ekstrem jika tidak dibekali pemahaman yang kuat,” ujar Salim dalam pemaparannya, Minggu, 12 April 2026.
Ia menjelaskan, moderasi beragama memiliki makna luas yang berakar dari berbagai tradisi bahasa. Dalam Bahasa Indonesia, moderasi berarti mengurangi kekerasan dan menjauhi ekstremisme. Dalam Bahasa Latin, moderatio merujuk pada sikap sedang atau tidak berlebihan. Sementara dalam Bahasa Arab, konsep ini dikenal dengan istilah wasathiyah yang berarti adil dan seimbang.
“Moderasi beragama menekankan keseimbangan dalam keyakinan, moral, dan perilaku. Ini penting, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan bernegara,” katanya.

Suasana halalbihalal dan pelatihan moderasi beragama yang digelar PCNU Kota Serang bersama UIN SMH Banten di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele, Minggu, 12 April 2026
Salim menegaskan, moderasi tidak mengubah ajaran agama. Pendekatan ini justru mendorong cara beragama yang bijak dan tidak kaku. Dengan demikian, potensi munculnya sikap eksklusif dapat ditekan sejak dini.
Ia juga mengingatkan pentingnya menerima perbedaan sebagai bagian dari ketetapan Tuhan. Menurutnya, keragaman keyakinan dan latar belakang manusia adalah keniscayaan yang harus dihormati.
“Perbedaan bukan ancaman. Itu adalah rahmat. Yang harus kita jaga adalah nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, ia menyinggung prinsip kemanusiaan yang ditempatkan di atas kepentingan kelompok. Konsep ini tercermin dalam ajaran menjaga agama (hifdz al-din) dan menjaga jiwa (hifdz al-nafs), yang sama-sama menempatkan nilai kemanusiaan sebagai prioritas.
Salah satu isu yang turut dibahas adalah polemik ucapan selamat hari raya lintas agama. Salim menjelaskan bahwa tidak ada dalil yang secara eksplisit melarang atau membolehkan praktik tersebut.
“Ada ulama yang melarang, ada yang membolehkan. Perbedaan itu wajar. Yang penting adalah menjaga harmoni dan saling menghormati,” katanya.
Ia menambahkan, ucapan selamat hari raya tidak serta-merta mengubah keyakinan seseorang. Tindakan tersebut lebih mencerminkan sikap toleransi dalam kehidupan sosial.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Serang, KH Saifun Nawasi, menyoroti hubungan antara agama dan negara. Ia menegaskan bahwa keduanya tidak boleh dipertentangkan.
Menurutnya, agama berfungsi sebagai sumber nilai, sedangkan negara menjadi ruang implementasi dalam kehidupan berbangsa. Keduanya harus saling berdialog untuk menciptakan keseimbangan.
“Jika agama tidak berdialog dengan negara, bisa muncul sekularisme ekstrem. Sebaliknya, jika negara hanya didasarkan pada satu agama, berpotensi melahirkan teokrasi,” ujarnya.
Ia menilai Indonesia memiliki karakter unik sebagai bangsa yang religius sekaligus majemuk. Karena itu, pendekatan jalan tengah menjadi pilihan paling realistis.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Sekretaris LP2M UIN SMH Banten, Prof. Sholahuddin Al-Ayubi. Ia mengajak generasi muda untuk menjadikan Pancasila sebagai titik temu antara nilai agama dan kehidupan bernegara.
Menurutnya, Pancasila mampu menjaga keseimbangan sekaligus merawat keutuhan bangsa di tengah keberagaman.
Selain isu sosial dan ideologi, kegiatan ini juga mengangkat perspektif ekoteologi. Pendekatan ini menggabungkan nilai iman, ilmu, dan amal dalam upaya pelestarian lingkungan.
Dalam konsep ini, alam dipandang sebagai amanah Ilahi yang harus dijaga. Menjaga lingkungan bahkan disebut sebagai bagian dari ibadah.
“Ekoteologi menekankan cinta dan kepedulian terhadap alam. Ini harus menjadi bagian dari pendidikan keagamaan,” ujar Sholahuddin.
Ia menambahkan, pendekatan ini menolak cara pandang eksploitatif terhadap alam. Sebaliknya, ia mendorong pendekatan berbasis kasih sayang terhadap seluruh makhluk hidup.
Melalui kegiatan ini, PCNU Kota Serang dan UIN SMH Banten berharap lahir generasi muda yang tidak hanya memahami nilai toleransi, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di ruang digital.
Para peserta didorong untuk memanfaatkan media sosial secara bijak dan aktif menyebarkan pesan damai. Langkah ini dinilai penting untuk menekan laju penyebaran radikalisme yang kian masif di dunia maya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, penguatan moderasi beragama tetap menjadi kunci utama menjaga persatuan bangsa. Tanpa upaya tersebut, ruang digital berpotensi menjadi ladang subur bagi tumbuhnya paham ekstrem yang mengancam keutuhan Indonesia.***

