Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Prof Muhammad Ishom memberikan arahan kepada Dosen Pembimbing Lapangan saat pembekalan KKN Nusantara dan KKN Konvensional sebagai bagian dari persiapan program pengabdian masyarakat.KILAS BANTEN – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak boleh berhenti sebagai kegiatan akademik semata. Program tersebut harus mampu menghadirkan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Penegasan itu disampaikan Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, saat membuka pembekalan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Nusantara dan KKN Konvensional yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).
Kegiatan yang diselenggarakan melalui Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan Pengembangan Pedesaan LP2M itu menjadi bagian penting dalam mempersiapkan pelaksanaan KKN agar berjalan efektif, terarah, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Selain dihadiri jajaran pimpinan kampus, pembekalan juga menghadirkan Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof Muhammad Muntahibun Nafis, sebagai narasumber.
Dalam arahannya, Prof Muhammad Ishom menekankan bahwa keberhasilan program KKN tidak hanya bergantung pada kesiapan mahasiswa.
Menurutnya, Dosen Pembimbing Lapangan memegang peran penting dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai tujuan.
Ia meminta seluruh DPL mendampingi mahasiswa secara maksimal mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi program di lokasi pengabdian.
“Saya meminta para DPL untuk serius dan optimal dalam membimbing mahasiswa Kukerta dan KKN Nusantara. Walaupun dari segi finansial mungkin tidak sebanding dengan tugas, apalagi medan pengabdian kali ini berada di daerah Selatan Kabupaten Lebak, kita harus tetap profesional,” tegas Prof Muhammad Ishom dalam keterangannya, Senin, 6 Juli 2026.
Ia juga mengingatkan bahwa berbagai tantangan di lapangan tidak boleh mengurangi semangat dosen maupun mahasiswa dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, ukuran keberhasilan KKN bukan hanya terlaksananya program kerja, tetapi sejauh mana program tersebut mampu memberikan perubahan positif bagi warga.
“Saya berharap program-program yang sudah dibuat oleh mahasiswa dapat terlaksana dengan baik di lapangan dan benar-benar memberikan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat setempat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LP2M UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Mufti Ali, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada kampusnya sebagai penyelenggara KKN Nusantara tahun 2026.
Menurutnya, penunjukan tersebut menjadi kehormatan sekaligus tanggung jawab besar karena UIN Banten dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan pengabdian masyarakat tingkat nasional.
“Tahun ini UIN Banten menjadi tuan rumah KKN Nusantara. Ini merupakan suatu kehormatan yang luar biasa bagi kita karena dipercaya menyambut sejumlah 293 peserta yang berasal dari seluruh PTKIN di Indonesia untuk berkolaborasi bersama,” kata Prof Mufti Ali.
Sebanyak 293 mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) akan mengikuti KKN Nusantara. Mereka akan berkolaborasi menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat di lokasi yang telah ditentukan.
Momentum tersebut dinilai menjadi peluang bagi UIN Banten untuk memperkuat kerja sama antarkampus sekaligus meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi.
Pada sesi pembekalan, Prof Muhammad Muntahibun Nafis menjelaskan pentingnya pendekatan partisipatif dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat. Ia menilai masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek, melainkan sebagai mitra yang aktif dalam proses pembangunan.
Menurutnya, dosen dan mahasiswa perlu memanfaatkan metode yang mampu menggali potensi lokal sekaligus melibatkan warga dalam mencari solusi atas persoalan yang dihadapi bersama.
“Di lapangan, pelaksanaannya bisa dengan menggunakan metode ABCD atau PAR. Kedua pendekatan ini sangat aplikatif untuk memetakan aset lokal sekaligus melibatkan partisipasi aktif warga dalam melakukan riset aksi yang membawa perubahan,” jelasnya.
Metode Asset Based Community Development (ABCD) maupun Participatory Action Research (PAR) dinilai efektif karena berfokus pada penguatan potensi yang telah dimiliki masyarakat. Pendekatan tersebut juga mendorong kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan warga dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Melalui pembekalan ini, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten berharap seluruh Dosen Pembimbing Lapangan memiliki pemahaman yang sama dalam mengawal pelaksanaan KKN Nusantara maupun KKN Konvensional. Sinergi antara kampus dan masyarakat diharapkan mampu melahirkan program pengabdian yang berkualitas, tepat sasaran, serta menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dengan persiapan yang matang, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten optimistis pelaksanaan KKN tahun ini tidak hanya menjadi agenda akademik tahunan, tetapi juga mampu menghadirkan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya di wilayah pengabdian.***