Muhamad Sahid dan Fajar Nugraha resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa DEMA UIN SMH Banten periode 2026 di Aula Serbaguna Gedung Rektorat UIN SMH Banten, Kamis, 7 Mei 2026.KILAS BANTEN – UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten resmi memiliki pemimpin baru organisasi mahasiswa tingkat universitas. Muhamad Sahid dan Fajar Nugraha dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN SMH Banten periode 2026, Kamis, 7 Mei 2026.
Pelantikan berlangsung di Aula Serbaguna Gedung Rektorat Lantai 3 UIN SMH Banten. Momen tersebut menjadi awal baru arah gerakan mahasiswa di kampus Islam negeri terbesar di Provinsi Banten itu.

Muhamad Sahid dan Fajar Nugraha resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa DEMA UIN SMH Banten periode 2026 di Aula Serbaguna Gedung Rektorat UIN SMH Banten, Kamis, 7 Mei 2026.
Pasangan Sahid-Fajar sebelumnya memenangkan Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) yang digelar secara daring. Kemenangan itu mengantarkan keduanya memimpin DEMA universitas dengan membawa gagasan perubahan dan penguatan konsolidasi mahasiswa.
Suasana pelantikan berlangsung khidmat. Sejumlah pimpinan kampus turut hadir dalam agenda tersebut. Di antaranya Wakil Rektor II UIN SMH Banten Dr Ali Muhtarom, Wakil Rektor III Dr Dedi Sunardi, serta jajaran biro administrasi umum, perencanaan, keuangan, kepegawaian, dan organisasi.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, menegaskan organisasi mahasiswa memiliki posisi strategis dalam mendukung kemajuan kampus.
Menurutnya, DEMA harus mampu bergerak sejalan dengan visi internasionalisasi yang sedang dikembangkan UIN SMH Banten.
“Program kerja DEMA UIN SMH Banten harus sejalan dengan visi kampus yang berorientasi internasional. DEMA juga harus mampu menyerap dan menyalurkan aspirasi mahasiswa serta merangkul seluruh mahasiswa untuk bersama membangun kemajuan kampus,” ujar Prof Ishom, Kamis, 7 Mei 2026.
Ia menilai mahasiswa tidak boleh hanya sibuk pada agenda seremonial. Organisasi mahasiswa harus menjadi ruang lahirnya gagasan, inovasi, dan solusi bagi lingkungan kampus maupun masyarakat.
Menurut Prof Ishom, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral menjaga atmosfer akademik yang sehat. Mahasiswa juga harus menjadi jembatan komunikasi antara civitas akademika dan mahasiswa.
Pelantikan tersebut sekaligus menjadi panggung penting bagi Muhamad Sahid untuk menyampaikan arah kepemimpinannya selama satu periode ke depan. Dalam pidatonya, Sahid menegaskan DEMA UIN SMH Banten harus keluar dari pola lama yang terlalu administratif dan formalitas.
Ia ingin organisasi mahasiswa berubah menjadi pusat gerakan yang lebih strategis dan berdampak nyata. Menurutnya, dinamika gerakan mahasiswa saat ini membutuhkan pola kerja baru yang progresif dan terorganisasi.
“DEMA UIN SMH Banten tidak lagi cukup hanya menjadi ruang kegiatan seremonial belaka, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat eskalasi gerakan mahasiswa yang terstruktur, terarah, dan berdampak,” kata Sahid.
Pernyataan itu langsung mendapat perhatian mahasiswa. Banyak pihak menilai pidato Sahid membawa energi baru dalam dinamika organisasi mahasiswa di lingkungan UIN SMH Banten.
Sahid menegaskan perubahan tidak cukup hanya dilakukan melalui pergantian kepengurusan. Ia ingin terjadi perubahan pola pikir di kalangan mahasiswa agar gerakan yang dibangun lebih visioner dan memiliki arah jelas.
“Perubahan bukan sekadar pergantian kepemimpinan dan struktural, melainkan pergeseran cara berpikir dari administratif menjadi strategis, dari reaktif menjadi progresif,” lanjutnya.
Dalam kepemimpinannya, Sahid juga menyoroti pentingnya konsolidasi seluruh elemen organisasi mahasiswa. Ia ingin DEMA universitas menjadi titik temu seluruh kekuatan mahasiswa, mulai dari DEMA fakultas, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), hingga komunitas gerakan sosial di kampus.
Menurut Sahid, gerakan mahasiswa tidak akan memiliki pengaruh besar jika berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, ia mengajak seluruh organisasi mahasiswa membangun kekuatan kolektif demi menciptakan perubahan yang lebih luas.
“Ketika gerakan terfragmentasi, dampaknya akan kecil. Tapi ketika disatukan dalam satu arah perubahan, ia akan menjadi gelombang gerakan yang diperhitungkan,” tegasnya.
Selain fokus membangun gerakan eksternal, Sahid juga menargetkan pembenahan internal organisasi mahasiswa. Ia menilai tata kelola organisasi harus lebih profesional agar mampu menjawab tantangan zaman dan perkembangan dunia kampus yang semakin dinamis.
Transformasi sistem kerja organisasi menjadi salah satu agenda utama kepengurusan Sahid-Fajar. Mereka juga berkomitmen membangun budaya organisasi yang inklusif serta memperkuat kualitas kader mahasiswa di lingkungan UIN SMH Banten.
Sahid menilai DEMA tidak boleh hanya hadir sebagai simbol struktural di kampus. Organisasi mahasiswa harus mampu menjadi representasi kesadaran intelektual mahasiswa sekaligus penyambung kepentingan masyarakat.
“DEMA harus mampu membaca zaman, merespons realitas sosial, dan berani mengambil posisi dalam setiap persoalan bangsa,” ujar Sahid.
Pelantikan Sahid dan Fajar menjadi momentum penting bagi kebangkitan gerakan mahasiswa di UIN SMH Banten. Kepemimpinan baru ini diharapkan mampu menghadirkan organisasi mahasiswa yang lebih solid, progresif, dan berpengaruh di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Dengan semangat perubahan yang dibawa pasangan Sahid-Fajar, DEMA UIN SMH Banten kini menghadapi tantangan baru untuk membuktikan bahwa organisasi mahasiswa tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan kampus, tetapi juga motor penggerak perubahan dan ruang lahirnya gagasan besar mahasiswa.***