Taklimat Prabowo Guncang Kampus, Rektor dan Dekan UIN SMH Banten Diajak Membaca Peta Geopolitik Dunia

Kilas Banten
15 Jan 2026 17:13
3 menit membaca

KILAS BANTEN – Presiden Prabowo Subianto menggelar taklimat tertutup bersama para rektor perguruan tinggi dari seluruh Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026. Pertemuan ini membahas perubahan geopolitik global dan implikasinya terhadap arah pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan tinggi, riset, dan penguasaan ilmu pengetahuan.

 

Taklimat yang berlangsung sekitar tiga jam itu dihadiri pimpinan perguruan tinggi negeri, swasta, serta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Dari Provinsi Banten, Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom, hadir bersama Dekan Fakultas Usuluddin dan Adab, Dr Masykur.

 

Prof Ishom menilai forum tersebut memiliki makna strategis bagi dunia pendidikan tinggi. Ia menyebut Presiden secara langsung mengajak kalangan akademisi membaca perubahan besar yang sedang terjadi di tingkat global. Menurutnya, pesan itu penting agar kampus tidak terjebak dalam rutinitas akademik semata.

 

“Presiden menegaskan peta hubungan internasional berubah sangat cepat. Bangsa yang tidak waspada akan tertinggal,” ujar Prof Ishom usai mengikuti taklimat, Kamis, 15 Januari 2026.

 

Ia menjelaskan, Presiden menggambarkan situasi dunia yang penuh ketidakpastian. Persaingan antarnegara kian tajam. Kepentingan nasional menjadi orientasi utama dalam setiap kebijakan global. Kondisi tersebut menuntut perguruan tinggi untuk bersikap lebih aktif dan adaptif.

 

Menurut Prof Ishom, dialog langsung antara Presiden dan para rektor menjadi ruang penting untuk menyamakan arah. Kampus, kata dia, tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga pusat riset, pengembangan gagasan, dan penguatan sumber daya manusia nasional.

 

“Forum seperti ini sangat baik dan perlu dilanjutkan. Kampus harus terlibat aktif dalam pembangunan nasional, bukan sekadar menjadi penonton,” katanya.

 

Pandangan senada disampaikan Dekan Fakultas Usuluddin dan Adab UIN SMH Banten, Dr Masykur. Ia menilai keterlibatan pimpinan perguruan tinggi dalam pembahasan strategis negara sebagai sinyal kuat keseriusan pemerintah membenahi sektor pendidikan tinggi.

 

“Ini penting untuk masa depan Indonesia. Pendidikan tinggi harus dilibatkan sejak awal dalam perumusan arah kebijakan, bukan hanya sebagai pelaksana,” ujar Masykur.

 

Dalam arahannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa banyak negara kini mengedepankan pendekatan realis dalam hubungan internasional. Ideologi tidak lagi menjadi faktor utama. Negara-negara besar memaksimalkan seluruh instrumen kekuatan nasional demi menjaga kepentingan keamanan dan ekonomi.

 

Prabowo mencontohkan persaingan Amerika Serikat dan China dalam memperebutkan pengaruh global. Persaingan itu, menurutnya, kerap diwujudkan melalui hegemoni dan ekspansi di wilayah yang memiliki sumber daya strategis. Ia juga menyinggung pengelolaan minyak di kawasan Amerika Latin sebagai gambaran nyata kontestasi kepentingan global.

 

Dalam konteks tersebut, Presiden menegaskan peran sentral perguruan tinggi. Kampus harus menjadi pusat produksi pengetahuan dan rujukan dalam perumusan kebijakan strategis yang berpihak pada kepentingan nasional. Akademisi diminta tidak terjebak pada rutinitas mengajar dan meneliti tanpa membaca arah perubahan dunia.

 

“Jangan asyik mengajar dan meneliti, tetapi lupa membaca peta geopolitik dunia,” tegas Prabowo dalam taklimat tersebut.

 

Presiden juga memaparkan visinya menjadikan Indonesia sebagai brain country. Ia menilai kekuatan bangsa ke depan tidak lagi bertumpu pada kekayaan alam semata, melainkan pada kualitas sumber daya manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi.

 

Prabowo mengulas sejarah kolonialisme Belanda sebagai pelajaran. Ia menyebut kejayaan ekonomi Belanda pada masa lalu tidak terlepas dari eksploitasi sumber daya Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, pengaruh global Belanda pun menurun. Dari situ, ia menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya nasional oleh bangsa sendiri.

 

Di akhir pertemuan, Presiden meminta para rektor, guru besar, dan cendekiawan ikut membantu memperbaiki tata kelola negara. Ia mengungkapkan efisiensi anggaran dalam satu tahun pemerintahan mencapai sekitar Rp190 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis, pembangunan sekolah, dan program strategis lainnya.

 

Presiden memastikan dunia kampus juga akan merasakan manfaat dari kebijakan efisiensi tersebut. Ia berharap sinergi pemerintah dan perguruan tinggi dapat memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang terus berubah.