Panitia Masjid Raya Al-A’zhom Kota Tangerang menyiapkan ribuan kupon daging kurban untuk masyarakat menjelang perayaan Iduladha 1447 Hijriah.KILAS BANTEN – Dalam sejarah Islam, kekuasaan tidak pernah diposisikan sebagai alat kemewahan ataupun panggung pencitraan. Nabi Muhammad Saw mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah dan rakyat. Karena itu, penguasa yang menggunakan fasilitas negara untuk membangun citra pribadi selalu menjadi perhatian serius dalam tradisi politik Islam.
Hari ini publik ramai membicarakan sapi kurban Presiden Prabowo Subianto yang disebut menggunakan anggaran negara atau fasilitas APBN. Terlepas dari dalih administratif dan legalitas birokrasi, pertanyaan mendasar rakyat sebenarnya sederhana, apakah ibadah masih murni ketika dibiayai oleh uang rakyat?
Islam mengajarkan bahwa kurban adalah simbol pengorbanan pribadi, bukan simbol kekuasaan. Nabi Muhammad berqurban menggunakan hartanya sendiri, bukan mengambil dari kas umat untuk membangun popularitas. Dalam spirit Islam, penguasa seharusnya memberi teladan dengan pengorbanan pribadi, bukan justru membebankan simbol ibadah kepada negara.
Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 188, “Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada penguasa…”
Ayat ini bukan hanya bicara pencurian biasa, tetapi juga peringatan terhadap penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan tertentu. Sebab ketika penguasa mulai mencampuradukkan uang negara dengan kepentingan personal maupun simbol politik, maka batas amanah mulai kabur.