Nasional

Geger, PTKIN Bersiap Go Global, Beasiswa untuk 100 Ribu Mahasiswa Asing Jadi Fokus Nasional

Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Prof Muhammad Ishom bersama para pimpinan PTKIN se-Indonesia mengikuti monitoring UM-PTKIN dan sosialisasi Insight Scholarship PTKIN di Tulungagung, Jawa Timur.
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Prof Muhammad Ishom bersama para pimpinan PTKIN se-Indonesia mengikuti monitoring UM-PTKIN dan sosialisasi Insight Scholarship PTKIN di Tulungagung, Jawa Timur.

KILAS BANTEN – Transformasi digital dan langkah internasionalisasi pendidikan tinggi Islam di Indonesia terus diperkuat. Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Monitoring Sistem Seleksi Elektronik (SSE) Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) serta Sosialisasi Insight Scholarship PTKIN yang digelar di Tulungagung, Jawa Timur.

 

Forum nasional itu dihadiri para pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari seluruh Indonesia, termasuk Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Prof Muhammad Ishom. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pelaksanaan seleksi mahasiswa baru berbasis digital sekaligus membahas strategi memperluas daya saing PTKIN di tingkat internasional.

 

Arahan kegiatan disampaikan secara daring oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Suyitno, dan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis), Prof Sahiron.

BI Banten Gandeng Media Banten Jawara, Narasi Positif Disiapkan untuk Banjiri Investasi dan Percepat Pertumbuhan Ekonomi 2026

 

Dalam sesi evaluasi UM-PTKIN, Prof Suyitno menegaskan bahwa pelaksanaan Sistem Seleksi Elektronik tidak hanya berfungsi sebagai instrumen penerimaan mahasiswa baru. Menurutnya, sistem tersebut juga menjadi ukuran masyarakat dalam menilai kualitas layanan teknologi informasi yang dimiliki setiap kampus.

 

“Melalui SSE UM-PTKIN, masyarakat dan peserta ujian secara tidak langsung juga melakukan evaluasi terhadap kesiapan serta kualitas sistem teknologi informasi kampus tempat mereka mengikuti ujian. Karena itu, pelaksanaan SSE harus menjadi perhatian serius seluruh pimpinan PTKIN,” ujarnya, Rabu, 10 Juni 2026.

 

Fakta Baru Sidang Sengketa Lahan Rancapinang Pandeglang Terungkap, Saksi Sebut Warga Dipaksa Teken Dokumen dan Difoto Bertuliskan “Lunas”

Ia menjelaskan, pengalaman peserta selama mengikuti ujian berbasis komputer akan membentuk persepsi publik terhadap institusi pendidikan. Karena itu, kampus diminta terus memperkuat infrastruktur digital, meningkatkan kapasitas server, menjaga keamanan sistem, serta memperbaiki layanan teknologi informasi yang mendukung proses akademik.

 

Menurut Prof Suyitno, transformasi digital kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dijalankan seluruh perguruan tinggi. Kampus dituntut menghadirkan layanan yang cepat, aman, dan terpercaya agar mampu menjawab tuntutan masyarakat yang semakin tinggi terhadap kualitas layanan pendidikan.

 

Selain membahas evaluasi UM-PTKIN, forum tersebut juga menyoroti program Insight Scholarship PTKIN yang digagas pemerintah sebagai bagian dari pengembangan talenta global Indonesia.

Menag Nasaruddin Umar Resmi Buka KKN Nusantara 2026 di UIN Banten, Mahasiswa Diminta Belajar dari Kearifan Baduy

 

Direktur Diktis Kementerian Agama RI, Prof Sahiron, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari kebijakan strategis pemerintah untuk mendukung agenda Indonesian Global Talent yang telah dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

 

Menurutnya, sektor pendidikan memiliki posisi penting dalam memperkuat hubungan antarnegara sekaligus menjadi sarana diplomasi kemanusiaan. Oleh sebab itu, pemerintah terus menyiapkan berbagai skema pembiayaan pendidikan bagi mahasiswa asing yang ingin melanjutkan studi di Indonesia.

 

“Program Insight Scholarship merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk menghadirkan Indonesia sebagai pusat pendidikan yang inklusif dan berdaya saing global,” kata Prof Sahiron.

 

Pemerintah menargetkan sebanyak 100 ribu pelajar dan mahasiswa asing memperoleh beasiswa pendidikan di Indonesia hingga tahun 2029. Target tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya tarik perguruan tinggi nasional sekaligus memperluas kerja sama akademik dengan berbagai negara.

 

Prof Sahiron mengungkapkan bahwa pada tahap awal PTKIN belum menjadi fokus utama program tersebut. Namun setelah dilakukan pemetaan, banyak kampus Islam negeri ternyata telah lebih dahulu menerima dan memberikan dukungan pendidikan kepada mahasiswa asing dari berbagai negara.

 

Menurutnya, keberadaan mahasiswa internasional menjadi modal strategis untuk memperkuat internasionalisasi kampus sekaligus memperluas penyebaran nilai-nilai Islam moderat Indonesia ke tingkat global.

 

Ia juga mencontohkan keberhasilan sejumlah perguruan tinggi dunia dalam membangun reputasi internasional melalui program beasiswa, termasuk Universitas Al-Azhar Mesir yang secara konsisten memberikan kesempatan belajar kepada mahasiswa Indonesia setiap tahun.

 

Kehadiran Prof Muhammad Ishom dalam forum nasional tersebut menunjukkan komitmen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dalam mendukung penguatan layanan digital pendidikan tinggi Islam. Di sisi lain, partisipasi kampus juga menjadi bagian dari upaya mempercepat internasionalisasi PTKIN agar mampu bersaing di kancah global.

 

Hasil pertemuan ini diharapkan menjadi pijakan bagi seluruh PTKIN untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan, memperkuat transformasi digital, dan membuka peluang kerja sama internasional yang lebih luas pada masa mendatang.***

× Advertisement
× Advertisement