Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin kepada remaja putri dalam Program Yuk Jaim sebagai upaya mencegah anemia dan menekan angka stunting di Kota Tangerang.KILAS BANTEN – Pemerintah Kota Tangerang terus memperkuat langkah pencegahan stunting melalui Program Yuk Jaim atau Yuk Jadi Remaja Anti Anemia. Program ini menjadi strategi utama untuk mencegah munculnya kasus stunting baru dengan menyiapkan remaja putri agar memiliki kondisi kesehatan yang baik sebelum memasuki masa pernikahan dan kehamilan.
Pemerintah menilai upaya menurunkan angka stunting tidak cukup dilakukan saat anak telah lahir. Pencegahan harus dimulai sejak remaja, terutama bagi calon ibu, agar risiko melahirkan anak yang mengalami gangguan pertumbuhan dapat ditekan sejak awal.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, mengatakan fokus pemerintah saat ini tidak hanya menangani balita yang sudah mengalami stunting, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan agar kasus baru tidak terus bermunculan.
“Fokus kita saat ini bukan hanya menangani anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga mencegah munculnya kasus baru. Pencegahan dilakukan sejak remaja melalui Program Yuk Jaim atau Yuk Jadi Remaja Anti Anemia,” ujar dr. Dini, Rabu (17/6/2026).
Melalui program tersebut, Dinas Kesehatan Kota Tangerang secara rutin menggelar pemeriksaan kesehatan di berbagai sekolah. Salah satu kegiatan utama adalah skrining kadar hemoglobin bagi remaja putri untuk mendeteksi anemia sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Selain pemeriksaan kesehatan, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menerapkan pola hidup sehat, serta disiplin mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Menurut dr. Dini, pencegahan anemia memiliki hubungan erat dengan upaya menurunkan angka stunting. Remaja putri yang terbebas dari anemia memiliki peluang lebih besar menjalani kehamilan dalam kondisi sehat sehingga risiko melahirkan anak stunting dapat diminimalkan.
“Kalau remajanya sehat, tidak mengalami anemia, kemudian nantinya memasuki masa kehamilan dalam kondisi yang baik, maka risiko melahirkan anak dengan stunting juga dapat ditekan,” katanya.
Program Yuk Jaim juga diperkuat melalui Gerakan Aksi Gizi Bersama. Program kolaboratif ini melibatkan sekolah, tenaga kesehatan, serta orang tua dalam memberikan edukasi dan melakukan pemantauan kesehatan remaja secara berkala.
Sinergi lintas sektor tersebut dinilai penting karena keberhasilan pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan. Peran keluarga dan lingkungan sekolah juga menjadi faktor penting dalam membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia remaja.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang menilai pendekatan dari hulu merupakan strategi paling efektif dalam menciptakan generasi yang sehat, produktif, dan berkualitas. Karena itu, intervensi kesehatan dilakukan secara berkesinambungan mulai dari masa remaja hingga anak lahir.
Dr. Dini menjelaskan bahwa periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan memang menjadi fase penting bagi tumbuh kembang anak. Namun, kualitas kesehatan calon ibu sebelum kehamilan juga sangat menentukan kondisi janin dan bayi yang akan dilahirkan.
“Pencegahan stunting harus dilakukan secara berkesinambungan. Mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga balita. Semua tahapan ini saling berkaitan untuk melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas,” ujarnya.
Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), prevalensi stunting di Kota Tangerang hingga Mei 2026 tercatat sebesar 5,3 persen. Capaian tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah daerah untuk mempertahankan tren penurunan angka stunting melalui berbagai program promotif dan preventif.
Program Yuk Jaim kini menjadi salah satu ujung tombak Pemerintah Kota Tangerang dalam membangun generasi sehat sejak usia remaja. Dengan memperkuat edukasi gizi, pencegahan anemia, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala, pemerintah berharap semakin banyak remaja yang siap menjalani masa dewasa dan kehamilan dalam kondisi sehat sehingga target mewujudkan generasi bebas stunting dapat tercapai.***