Serang

Jangan Terjebak Mengejar Harta, KH Saifun Nawasi: Ingatkan Wali Santri, Pendidikan Anak Jadi Investasi Terbesar untuk Akhirat

Pengasuh Pondok Pesantren Al Fathaniyah, KH Saifun Nawasi, menyampaikan tausiyah kepada para wali santri baru dalam agenda silaturrahim di Kota Serang, Sabtu-Minggu, 11-12 Juli 2026. (Redaksi Kilas Banten)
Pengasuh Pondok Pesantren Al Fathaniyah, KH Saifun Nawasi, menyampaikan tausiyah kepada para wali santri baru dalam agenda silaturrahim di Kota Serang, Sabtu-Minggu, 11-12 Juli 2026. (Redaksi Kilas Banten)

KILAS BANTEN – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Tengkele, Kota Serang, KH Saifun Nawasi, mengingatkan para wali santri agar tidak hanya berorientasi mengejar kesuksesan dunia.

Menurutnya, keberhasilan sejati tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari kualitas keimanan, akhlak, dan keberhasilan mendidik anak sebagai bekal kehidupan akhirat.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan silaturrahim bersama wali santri baru Pondok Pesantren Al Fathaniyah yang berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 11-12 Juli 2026.

Dalam tausiyahnya, KH Saifun Nawasi menjelaskan bahwa banyak orang menilai keberhasilan dari kekayaan, rumah mewah, kendaraan mahal, dan kehidupan yang serba berkecukupan. Namun, menurutnya, ukuran tersebut belum tentu mencerminkan keberuntungan yang sesungguhnya.

Ia menegaskan, harta tidak akan membawa manfaat apabila pemiliknya melupakan kewajiban beribadah, enggan bersyukur, serta tidak menggunakan rezeki yang dimiliki di jalan Allah SWT. Kondisi seperti itu hanya menghadirkan kenikmatan sementara di dunia, tetapi dapat menjadi beban pertanggungjawaban di akhirat.

Nyala Karya Jadi Ruang Ekspresi Budaya, Pemkot Serang Siapkan Pertunjukan Rutin di Royal Baroe

KH Saifun Nawasi juga mengingatkan bahwa kesulitan ekonomi bukan alasan untuk meninggalkan ibadah.

Menurutnya, seseorang yang hidup sederhana tetapi mengabaikan perintah Allah tetap akan mengalami kerugian, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

Sebaliknya, ia mengajak para wali santri meneladani keluarga yang hidup sederhana, tetapi memiliki semangat ibadah yang tinggi, gemar bersedekah, dan bersungguh-sungguh mendidik anak-anak dengan nilai-nilai agama.

Untuk memperkuat pesannya, KH Saifun Nawasi menceritakan kisah seorang petani singkong yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Meski penghasilannya tidak besar, keluarga tersebut dikenal tidak pernah berhenti berbagi hasil panen kepada pesantren dan selalu menyisihkan rezekinya untuk bersedekah sesuai kemampuan.

Ahmad Nuri: Muatan Lokal Kebudayaan Disiapkan agar Generasi Muda Tak Kehilangan Jati Diri

“Rajin ibadah, gemar bersedekah, mampu mendidik anak-anaknya. Alhamdulillah, anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang bermanfaat,” ujar KH Saifun Nawasi, Minggu (12/7/2026).

Ia mengungkapkan bahwa anak-anak dari keluarga tersebut berhasil menempuh jalan hidup yang membanggakan. Salah seorang di antaranya menikah dengan seorang kiai, ada yang menjadi qari, dan ada pula yang menjadi kiai.

Menurutnya, keberhasilan itu lahir dari keikhlasan orang tua, ketekunan beribadah, serta kesungguhan dalam membangun pendidikan agama sejak dini.

Dalam kesempatan itu, KH Saifun Nawasi juga mengajak para orang tua membangun keluarga yang dipenuhi rasa syukur. Ia menekankan pentingnya memiliki sifat qanaah, yakni merasa cukup terhadap rezeki yang telah diberikan Allah SWT.

Menurutnya, keluarga akan hidup lebih tenteram apabila suami dan istri mampu menerima keadaan dengan lapang dada. Saat memperoleh rezeki, hendaknya bersyukur. Ketika menghadapi kesulitan, tetap berusaha dan memperbanyak doa agar Allah SWT memberikan jalan keluar terbaik.

Malam Kebersamaan di Pura Eka Anantha Kota Serang, KH Matin Syarkowi: Generasi Muda Jaga Tradisi dan Perkuat Toleransi

Ia juga mengingatkan agar persoalan ekonomi tidak menjadi penyebab perselisihan dalam rumah tangga. Sebaliknya, setiap anggota keluarga harus saling menguatkan demi menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.

“Yang penting cukup, menerima apa adanya, tetap bersyukur dan terus berusaha. Dengan begitu keluarga menjadi tenteram dan anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik,” pesannya.

Di penghujung tausiyah, KH Saifun Nawasi menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh wali santri baru.

Ia berharap para orang tua dapat menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Al Fathaniyah dan bersama-sama mendukung proses pendidikan putra-putrinya selama menempuh pendidikan di lingkungan pesantren.

Sementara itu, perwakilan wali asuh santri baru, Ustadz Suherman, mengatakan kegiatan silaturrahim menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi antara pesantren dan para wali santri.

Ia menjelaskan bahwa melalui pertemuan tersebut, para orang tua mendapatkan penjelasan mengenai tata tertib, aturan, serta berbagai ketentuan yang berlaku di Pondok Pesantren Al Fathaniyah.

“Seluruh aturan itu diharapkan dipatuhi demi mendukung proses pendidikan para santri,” ujar Ustadz Suherman.

Ia berharap seluruh wali santri memberikan kepercayaan penuh kepada para guru dalam membimbing dan mendidik anak-anak mereka. Menurutnya, sinergi yang baik antara orang tua, guru, dan pesantren akan memperkuat pembinaan akhlak, karakter, serta ilmu agama sehingga para santri memiliki bekal yang kuat untuk meraih keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.***

× Advertisement
× Advertisement