KILAS BANTEN – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banten memiliki sejarah panjang yang penuh dinamika. Organisasi mahasiswa Islam ini tidak hanya melewati masa pertumbuhan yang penuh tantangan, tetapi juga pernah menghadapi tekanan politik pada era Orde Baru sebelum akhirnya bangkit menjadi salah satu kekuatan intelektual yang berpengaruh di lingkungan perguruan tinggi maupun masyarakat.
Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana PMII Banten mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.
Dari organisasi yang sempat mengalami keterbatasan ruang gerak, PMII kini berkembang menjadi wadah kaderisasi mahasiswa yang melahirkan banyak tokoh di berbagai bidang.
PMII mulai hadir di wilayah Banten pada 1962. Kehadirannya hanya berjarak dua tahun setelah organisasi ini berdiri secara nasional. Sejak awal, PMII menjadi tempat berhimpun mahasiswa yang mengusung nilai-nilai Islam, semangat kebangsaan, serta komitmen terhadap perjuangan intelektual.
Perkembangan awal PMII di Banten tidak dapat dipisahkan dari peran Gentur Mukmin. Ia merupakan salah satu delegasi Kongres PMII yang kemudian dipercaya memimpin organisasi di wilayah Serang. Setelah masa kepemimpinannya selesai, estafet organisasi diteruskan oleh Gaosul Alam dan Sanjin Aminuddin.
Memasuki 1968, kepemimpinan beralih kepada Fauzi Ayatullah yang berasal dari Jakarta. Pada periode ini, strategi pengembangan organisasi difokuskan pada penguatan jaringan kader melalui kerja sama dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).
Saat itu, IPNU dipimpin Habibi Asyafa. Sinergi antara PMII dan IPNU menjadi salah satu langkah penting dalam memperluas kaderisasi mahasiswa dan pelajar di Banten.
Kedekatan PMII dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan IPNU menjadi fondasi kuat dalam menyebarkan nilai-nilai organisasi kepada generasi muda. Kampus IAIN yang saat itu masih bergabung dengan STIA menjadi pusat aktivitas sekaligus basis utama gerakan mahasiswa Islam di wilayah Banten.
Proses kaderisasi berlangsung secara bertahap. Meski perkembangan anggota belum terlalu cepat, pembinaan kader tetap berjalan secara konsisten. Sejumlah nama seperti Suhaemi Ibnu Saba, Amtsar, Saepuddin, dan Habibi Asyafa tercatat aktif menggerakkan organisasi.
Dalam kepengurusan tersebut, Fauzi Ayatullah menjabat Ketua Umum, sedangkan Habibi Asyafa dipercaya sebagai Sekretaris Umum. Setelah masa kepengurusan berakhir, kepemimpinan dilanjutkan oleh Abdul Malik bersama Abdul Ghofur.
Namun perjalanan PMII Banten tidak selalu berjalan mulus. Memasuki dekade 1970-an hingga akhir 1980-an, aktivitas organisasi mengalami penurunan yang cukup signifikan. Situasi politik nasional saat itu menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi organisasi.
Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, berbagai organisasi yang memiliki kedekatan historis dengan Nahdlatul Ulama menghadapi tekanan politik. Kondisi tersebut ikut dirasakan PMII.
Akibatnya, ruang gerak organisasi menjadi terbatas. Banyak mahasiswa memilih tidak menampilkan identitas organisasinya secara terbuka karena mempertimbangkan situasi politik yang belum kondusif.
Dampak dari kondisi tersebut cukup besar. Proses kaderisasi berjalan lambat. Pertumbuhan anggota tidak berkembang secara signifikan. Pembinaan sumber daya kader pun mengalami hambatan sehingga aktivitas PMII di Banten sempat meredup dalam waktu yang cukup panjang.
Perubahan mulai terlihat pada 1989 ketika kondisi politik nasional perlahan berubah. Ruang gerak organisasi mahasiswa mulai terbuka kembali. Momentum tersebut dimanfaatkan PMII untuk membangun kembali kekuatan organisasinya di berbagai daerah, termasuk di Banten.
Di Serang, Muktafi Biamrillah yang saat itu menempuh pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat dipercaya memimpin Pengurus Cabang PMII Banten sebagai Ketua Umum. Ia didampingi KH Matin Syarkowi bersama Gozhali dan Dada Fathoni yang berperan memperkuat konsolidasi internal organisasi.
Pada periode tersebut, Fakultas Syariah IAIN Sunan Gunung Jati Bandung Cabang Serang menjadi basis utama aktivitas PMII. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah menyelenggarakan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA).
Salah satu kegiatan kaderisasi bersejarah berlangsung di Pondok Pesantren At-Thahariyah Kaloran, Serang. Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menghidupkan kembali proses kaderisasi PMII di Banten.
Memasuki periode 1995 hingga 1997, kepemimpinan organisasi diteruskan oleh Nopras dan kemudian Abdul Aziz. Meski roda organisasi tetap berjalan, perkembangan PMII belum menunjukkan peningkatan yang berarti.
Pada masa itu, PMII juga belum dikenal luas di lingkungan kampus. Bahkan, sejumlah dosen yang memiliki latar belakang PMII memilih tidak menunjukkan identitas organisasinya secara terbuka.
Momentum kebangkitan kembali terjadi pada 1997. Setelah Pelatihan Kader Dasar (PKD) dilaksanakan, terbentuk kepengurusan komisariat di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten tanpa melalui mekanisme Rapat Tahunan Komisariat.
Dalam kepengurusan tersebut, Agus Toni dipercaya menjadi Ketua Komisariat, sedangkan Agus Sutisna menjabat Sekretaris Umum.
Salah satu program yang dijalankan adalah Forum Obrolan Hari Ramadan (FOHARA) di MAN 2 Serang. Forum ini menjadi ruang diskusi sekaligus media penguatan kader mahasiswa.
Perkembangan organisasi semakin terlihat pada 1998. PMII Serang menyelenggarakan Konferensi Cabang yang menghasilkan kepemimpinan baru. Titut Sudiono terpilih sebagai Ketua Umum dengan Agus Sutisna sebagai Sekretaris Cabang.
Di tingkat komisariat, Ade Supriyadi dipercaya memimpin PMII IAIN bersama Hecin Tahlisi sebagai sekretaris.
Karena sistem kaderisasi sebelumnya dinilai belum optimal, kepengurusan baru segera menggelar Mapaba di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Program tersebut dilanjutkan dengan Pelatihan Kader Dasar di Pandeglang yang diikuti sekitar 160 peserta dari berbagai perguruan tinggi.
Peserta berasal dari UNTIRTA, STAISMAN, UNMA, STMIK Baja, hingga Piksi Input. Kegiatan tersebut menjadi titik penting dalam memperluas jaringan kader PMII di Provinsi Banten.
Hasil kaderisasi itu melahirkan Pengurus Cabang PMII Pandeglang yang sebelumnya masih berada di bawah koordinasi PMII Serang. Selain itu, terbentuk pula Pengurus Komisariat UNTIRTA, PK Wasfal, serta sedikitnya 12 rayon di berbagai fakultas.
Pada periode yang sama, Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Banten resmi terbentuk dengan Komarudin Taher sebagai Ketua Umum. Pembentukan PKC menjadi tonggak penting dalam memperkuat koordinasi organisasi di tingkat provinsi.
Perjalanan organisasi terus berlanjut pada 1999. Musyawarah Pimpinan yang digelar di Anyer menetapkan sejumlah pimpinan baru, di antaranya Heru Nugroho sebagai Ketua PR AMIK, Ali Suro sebagai Ketua PR Teknik UNTIRTA, dan Erdi Bachtiar sebagai Ketua Umum PK UNTIRTA.
Pada tahun yang sama, Konferensi Cabang kembali dilaksanakan di wilayah Keresidenan Banten. Forum tersebut kembali mempercayakan Titut Sudiono sebagai Ketua Umum dengan Arif Rahman sebagai Sekretaris Cabang.
Setahun kemudian, Konfercab 2000 menghasilkan kepemimpinan baru. Heri Sanjaya dipercaya memimpin Pengurus Cabang PMII, sementara Ruri Rosadi menjabat Sekretaris.
Sejak periode tersebut, tata kelola organisasi dinilai semakin tertata. Sistem kaderisasi menjadi lebih terstruktur dan aktivitas organisasi berkembang lebih luas hingga menjangkau berbagai perguruan tinggi di Banten.
Perjalanan panjang PMII Banten menunjukkan kemampuan organisasi ini bertahan menghadapi tekanan politik, keterbatasan kaderisasi, hingga dinamika internal. Pengalaman tersebut membentuk karakter organisasi yang semakin matang dalam menjalankan perannya sebagai organisasi mahasiswa.
Kini, PMII Banten tidak hanya dikenal sebagai organisasi mahasiswa Islam, tetapi juga menjadi ruang lahirnya kader-kader intelektual yang berkiprah di berbagai bidang. Dari Serang, Pandeglang, hingga Lebak, PMII terus mencetak generasi muda yang membawa semangat keislaman, kebangsaan, serta pengabdian kepada masyarakat, Nahdlatul Ulama, bangsa, dan negara.***

